post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Operasi Epic Fury yang dimulai pada 28 Februari 2026 menjadi titik balik eskalasi konflik di Timur Tengah. Diawali dengan gelombang serangan udara gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap lebih dari 1.000 target di wilayah Iran, kampanye militer ini dengan cepat memicu aksi balasan berskala besar. Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan puluhan drone tempur yang secara khusus menyasar jaringan pangkalan udara koalisi di kawasan Teluk, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid, Ali Al Salem, dan Al Dhafra.

Salah satu pangkalan paling krusial dalam pertahanan taktis koalisi adalah Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti (Muwaffaq Al Salti Air Base / MSAB) di Azraq, Yordania. Pangkalan bersejarah yang pertama kali digunakan pada tahun 1918 oleh Lawrence of Arabia ini telah berkembang menjadi markas utama Skuadron Jet Tempur Ekspedisi AS. Pangkalan ini menampung armada jet tempur utama seperti F-15E Strike Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan A-10 Thunderbolt II untuk misi penyerangan cepat.

Terletak di koridor geografis utama yang menghubungkan Iran dan Israel, MSAB berfungsi sebagai garda terdepan untuk mencegat rudal jelajah dan drone serang Iran sebelum mencapai wilayah sekutu. Sistem pertahanan udara berlapis yang ditempatkan di pangkalan ini sempat berhasil mengagalkan lebih dari setengah lusin serangan rudal balistik pada fase awal konflik. Namun, posisinya yang sangat strategis membuat pangkalan ini terus menjadi sasaran tembak utama dari pasukan Iran.

Eskalasi berdarah terjadi pada malam 17 Juli 2026, ketika rentetan rudal balistik jarak menengah Iran berhasil menembus kubah pertahanan udara pangkalan Yordania tersebut. Ledakan di dalam perimeter pangkalan mengakibatkan tiga prajurit Amerika Serikat tewas dan empat lainnya luka berat. Insiden fatal ini mendorong AS menaikkan intensitas gempuran udara malam secara berturut-turut ke infrastruktur vital dan logistik di wilayah selatan Iran.

Sementara itu, Pangkalan Udara Ali Al Salem (ASAB) di Kuwait, yang dijuluki "The Rock", mencatatkan sejarah kelam akibat insiden friendly fire terburuk sepanjang kampanye militer ini. Di tengah kekacauan akibat saturasi ratusan drone dan rudal Iran, sistem pertahanan otomatis pangkalan secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS sendiri. Beruntung, seluruh pilot berhasil melakukan ejection dan diselamatkan oleh warga serta pasukan lokal tanpa luka yang mengancam jiwa.

Terlepas dari insiden tragis tersebut, Ali Al Salem memegang peran yang tidak tertandingi sebagai pusat logistik dan angkutan udara (airlift) untuk seluruh operasi CENTCOM. Armada C-130J Super Hercules dari 386th Air Expeditionary Wing yang bermarkas di sini beroperasi tanpa henti mendistribusikan personel, bahan bakar, dan amunisi. Pangkalan ini juga menjadi markas operasi drone MQ-9A Reaper yang menyediakan data intelijen medan tempur secara real-time.

Di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Al Dhafra berfungsi sebagai benteng penopang armada pesawat kelas berat (heavies). Pangkalan ini menampung armada pesawat tanker KC-135 Stratotanker yang bertindak sebagai "SPBU udara" untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara bagi jet-jet tempur dan pesawat pembom yang menjalankan misi jarak jauh di atas langit Iran.

Selain pesawat tanker, Al Dhafra juga menjadi markas aset intelijen berharga tinggi seperti pesawat pengintai U-2 Dragon Lady, drone RQ-4 Global Hawk, serta pesawat peringatan dini E-3 Sentry dan Saab GlobalEye milik UEA. Integrasi seluruh sensor pengintai ini memungkinkan koalisi mempertahankan gambaran situasi medan tempur (battlefield picture) secara konstan selama 24 jam penuh.

Namun, konsentrasi aset bernilai tinggi di Al Dhafra menjadikannya target empuk bagi gelombang drone bunuh diri Shahed-136 dan rudal balistik Iran. Serangan gencar tersebut berhasil merusak sejumlah hanggar pesawat yang terfortifikasi, merusak fasilitas barak prajurit, dan menghancurkan setidaknya satu pesawat peringatan dini GlobalEye di darat, sehingga memaksa penataan ulang sistem pertahanan pangkalan.

Sebagai simpul puncak dari seluruh struktur militer koalisi, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar bertindak sebagai otak komando dan kendali (Command and Control / C2). Menampung Combined Air Operations Center (CAOC) serta markas pusat US CENTCOM, pangkalan dengan landasan pacu militer terpanjang di Timur Tengah (4.572 meter) ini mengoordinasikan seluruh pergerakan udara, perang elektronik, dan serangan udara koalisi. Guna menghadapi ancaman rudal masa depan, Qatar dan AS kini tengah memperluas infrastruktur Al Udeid dengan membangun bunker pusat tempur bawah tanah yang tahan ledakan.

 

 


7 Calon KSAD Mulai Digadang-gadang, Siapa Kuda Hitam

Sebelumnya

Pertama dalam 78 Tahun, Angkatan Udara AS Hanya Punya 4.900 Armada Aktif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer