ZT. Politisi Partai Demokrat yang juga mantan Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Andi Arief, menegaskan komitmen partainya untuk mengawal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hingga akhir masa jabatan. Namun, sebagai bagian dari koalisi, ia mengingatkan pentingnya pemerintah menyikapi segala bentuk kritik dari masyarakat dengan kepala dingin dan kedewasaan politik.
"Sebagai bagian dari koalisi Pemerintahan Prabowo-Gibran, saya tentu bersama partai akan mendukung dan menjaga keberlangsungan pemerintahan ini hingga pemilu berikutnya," ujar Andi Arief dalam keterangannya.
Mendengar Aspirasi Publik, dari Medsos hingga Jalanan
Aktivis mahasiswa era 1990-an ini menekankan bahwa partai koalisi memiliki kewajiban moral untuk tetap membuka telinga terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, suara rakyat yang muncul di berbagai lini massa maupun aksi unjuk rasa tidak boleh diabaikan begitu saja.
"Sebagai bagian dari partai koalisi, kami juga berkewajiban mendengarkan berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat, baik yang disampaikan melalui media sosial maupun yang disuarakan di jalanan," tuturnya.
Ia mengakui bahwa tidak semua tuntutan masyarakat dapat diakomodasi secara instan oleh pemerintah. Meski demikian, penyaringan terhadap aspirasi yang berorientasi pada kemaslahatan publik tetap harus dilakukan.
"Aspirasi dan tuntutan tersebut tentu tidak semuanya dapat dipenuhi, namun selalu ada hal-hal yang layak didengar, dipertimbangkan, dan dijalankan demi kepentingan rakyat," tambah Andi.
Mengedepankan Kedewasaan Politik
Mantan aktivis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga mengimbau jajaran pemerintahan dan sesama partai koalisi untuk tidak antikritik. Ia meminta agar respons terhadap tekanan publik—termasuk yang disampaikan dengan cara kurang simpatik—tetapi dihadapi secara bijak.
"Sedapat mungkin pemerintah dan partai-partai koalisi perlu bersikap lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi berbagai bentuk kritik maupun tekanan. Baik yang disampaikan dengan cara-cara yang santun maupun yang terkadang kasar dan mengusik rasa budaya, semuanya perlu disikapi dengan kepala dingin dan kedewasaan politik," tegasnya.
Refleksi Perjuangan Mahasiswa 90-an
Menutup pernyataannya, Andi Arief merefleksikan pengalamannya saat memimpin gerakan mahasiswa di Yogyakarta pada masa transisi demokrasi lalu. Ia berharap gerakan kritis yang ada saat ini tetap mengedepankan rasionalitas dan tanggung jawab, meniru esensi perjuangan masa lalu yang terorganisasi dengan baik.
"Saya sendiri, pada masa lalu, memilih berjuang dengan cara yang benar, terorganisasi, dan tidak didorong oleh subjektivitas semata. Hampir seluruh mahasiswa UGM, mahasiswa Yogyakarta, dan mahasiswa Indonesia pada masa itu juga menempuh jalan perjuangan yang serupa: kritis, terukur, dan bertanggung jawab," pungkasnya.




KOMENTAR ANDA