post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Sebuah insiden tragis yang mengejutkan terjadi di Bandara Gatwick London (LGW) pada tanggal 16 Juni 2026. Petugas keamanan dan tim medis bandara menemukan sesosok mayat yang tersembunyi di dalam kompartemen roda pendaratan (wheel well) pesawat Airbus A320. Penemuan ini langsung mengubah suasana kedatangan rutin menjadi sebuah investigasi berskala internasional yang melibatkan otoritas penerbangan dan kepolisian setempat.

Pesawat Airbus A320 dengan nomor registrasi CN-NMH tersebut merupakan milik maskapai Air Arabia Maroc. Pesawat ini baru saja menyelesaikan penerbangan berjadwal dengan nomor penerbangan 3O102. Penerbangan tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Tangier-Ibn Battouta di Maroko dan mendarat di London sekitar pukul 11.45 waktu setempat, saat petugas langsung merespons laporan penemuan tersebut.

Rute penerbangan dari Tangier menuju London ini menempuh jarak sekitar 1.100 mil atau setara dengan 1.770 kilometer. Perjalanan udara tersebut biasanya memakan waktu sekitar tiga jam di udara. Meskipun ada penemuan jasad, pesawat yang sama dilaporkan tetap melakukan penerbangan kembali ke Maroko pada hari yang sama setelah sempat mengalami keterlambatan operasional akibat proses evakuasi.

Pihak maskapai Air Arabia Maroc telah memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini dan mengonfirmasi adanya temuan tersebut sesaat setelah pesawat mendarat. Mereka menyatakan telah menyerahkan penanganan sepenuhnya dan langsung berkoordinasi dengan pihak berwenang begitu situasi darurat itu diidentifikasi. Hingga saat ini, penyelidikan intensif masih terus dijalankan oleh kepolisian Sussex (Sussex Police).

Pihak kepolisian juga belum merilis identitas maupun kewarganegaraan dari korban yang tewas tersebut. Investigasi awal berfokus pada bagaimana orang tersebut bisa menembus sistem keamanan bandara asal di Maroko. Kasus ini kembali menyoroti risiko fatal dan ekstrem yang dihadapi oleh para penumpang gelap (stowaway) yang nekat bersembunyi di area luar kabin pesawat komersial.

Pakar penerbangan menjelaskan bahwa area kompertemen roda pendaratan sama sekali tidak dirancang untuk menampung manusia karena kondisi lingkungannya yang sangat mematikan. Saat pesawat komersial berada pada ketinggian jelajah normal antara 30.000 hingga 40.000 kaki, suhu udara di luar pesawat akan merosot tajam hingga mencapai minus 50 derajat hingga minus 65 derajat Celsius.

Selain suhu yang sangat dingin di bawah titik beku, ancaman utama lainnya bagi keselamatan manusia di ketinggian tersebut adalah tekanan atmosfer yang sangat rendah. Penurunan drastis tekanan udara ini menyebabkan pasokan oksigen menjadi sangat menipis, yang memicu kondisi medis fatal bernama hipoksia. Penumpang gelap yang terpapar kondisi ini akan mengalami kebingungan, kehilangan kesadaran, dan berujung pada kematian.

Bahaya mekanis di dalam ruang roda juga tidak kalah mengerikan dibandingkan dengan faktor cuaca ekstrem. Sesaat setelah pesawat lepas landas, sistem roda pendaratan akan melipat masuk ke dalam ruang sempit di badan pesawat. Pergerakan roda, rangkaian hidrolik, serta komponen besi penyangga lainnya yang bergerak dinamis sangat berisiko menjepit atau meremukkan tubuh siapa saja yang berada di dalamnya.

Insiden penumpang gelap di roda pesawat ini langsung memicu evaluasi mendalam terhadap sistem keamanan di bandara asal. Otoritas penerbangan kini tengah menyelidiki bagaimana korban bisa melewati pagar perimeter, sistem pengawasan kamera (CCTV), hingga kontrol akses masuk ke area steril apron untuk merayap masuk ke kompartemen roda sebelum pesawat lepas landas.

Meskipun kasus penumpang gelap di roda pesawat tergolong sangat jarang terjadi jika dibandingkan dengan total jutaan volume penerbangan global setiap tahunnya, sejarah mencatat bahwa tingkat kelangsungan hidup dalam aksi nekat ini sangatlah kecil. Peristiwa di London Gatwick ini menjadi pengingat yang kelam mengenai tantangan besar dalam pengawasan keamanan penerbangan sipil dunia.


Gegara Dua Awak Kabin Langgar Aturan Alkohol, Gaji CEO Japan Airlines Dipotong 30 Persen

Sebelumnya

“Project Sunrise”, Penerbangan Ultra-Jauh Qantas Diluncurkan Tahun Depan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews