post image
KOMENTAR

Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Bürgenstock, Swiss, terpaksa berlanjut hingga Senin dini hari setelah mengalami awal yang sangat tegang. Delegasi Iran sempat melakukan aksi walk-out sebagai bentuk protes terhadap serangkaian ancaman agresif yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump melalui media sosial dan wawancara televisi.

Presiden Trump secara terbuka mengancam akan membom Iran serta melontarkan pernyataan yang mengindikasikan ancaman penculikan terhadap tim negosiator Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Sikap keras presiden AS ini memicu kemarahan delegasi Iran yang merasa keselamatan pribadi mereka terancam, terlebih karena memorandum yang ditandatangani kedua pihak pekan lalu mencakup pakta non-agresi.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pembicaraan memasuki "fase sulit" dan sempat mengalami jeda setelah adanya pesan yang dianggap menghina dari pihak AS. Dalam protes formal kepada mediator, pihak Iran menuntut agar perilaku "penindasan" atau bullying dari Presiden Trump dapat dikendalikan, sehingga perundingan dapat berlangsung dengan martabat yang semestinya.

Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS, justru menunjukkan nada yang jauh lebih lunak dan diplomatis dibandingkan Trump. Vance menegaskan bahwa ia telah diminta oleh presiden untuk menggunakan perundingan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam hubungan dengan rakyat Iran, selama Teheran bersedia melepaskan ambisi nuklir dan perannya sebagai penggerak ketidakstabilan regional.

Meskipun terdapat gesekan, perundingan tetap diupayakan berlanjut di belakang layar dengan peran krusial dari mediator asal Qatar dan Pakistan. Fokus utama diskusi mencakup klarifikasi mengenai niat Iran terkait status Selat Hormuz, mekanisme untuk memastikan jalur tersebut tetap terbuka, serta penguatan gencatan senjata di Lebanon selatan.

Sebelum sempat terjadi aksi walk-out, kedua pihak sebenarnya telah mencapai draf kesepakatan awal terkait mekanisme AS dalam mengeluarkan waiver atau penghapusan sanksi atas ekspor minyak Iran. Selain itu, terdapat progres positif mengenai rencana pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan di berbagai rekening bank luar negeri.

Ketua delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang didampingi oleh pejabat tinggi termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak terpengaruh oleh ancaman AS. Pihak Iran menekankan bahwa prioritas mereka saat ini adalah penghentian permusuhan di Lebanon dan penyelesaian teknis terkait pencabutan sanksi ekonomi serta akses dana.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, juga hadir di Swiss untuk membahas isu nuklir. Namun, delegasi Iran berupaya menunda perundingan mendalam mengenai masa depan inspeksi situs nuklir mereka hingga perselisihan terkait sanksi ekonomi benar-benar terselesaikan dalam jangka waktu 60 hari yang telah disepakati.

Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengklaim bahwa blokade yang sempat diumumkan Iran di Selat Hormuz tidak memiliki dampak praktis yang berarti. Menurut datanya, puluhan kapal komersial tetap berhasil melintasi jalur air tersebut pada akhir pekan, meskipun ketidakpastian mengenai pasokan minyak dunia masih membayangi pasar energi global.

Dinamika di Bürgenstock ini mencerminkan tekanan politik domestik yang berat, baik bagi tim Trump di AS maupun bagi delegasi Iran. Meskipun atmosfer perundingan digambarkan sangat bergejolak dan "berantakan" oleh Wakil Presiden Vance, kedua pihak hingga saat ini masih berkomitmen untuk mencari jalan tengah demi stabilitas kawasan di masa depan.


Pengaruh Lobi Israel Mulai Diperdebatkan Parlemen Inggris

Sebelumnya

Perjanjian Damai AS–Iran, Jeda Senjata atau Awal Tata Baru Timur Tengah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia