post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan 

ISI naskah ini bukan tuduhan tetapi analisis. Maka mohon fakta bahwa di belakang judul naskah ini ada tanda tanya, jangan diabaikan.

Tahun 2016, Universitas Ghana memicu kegaduhan global. Para akademisi dan mahasiswa menuntut patung perunggu Mahatma Gandhi setinggi 2,4 meter diturunkan dari pelataran kampus Accra.

Pertanyaannya langsung muncul: Sosok "Bapak Kemerdekaan India" dan "simbol perlawanan tanpa kekerasan" kok ditolak? Apakah Mahatma Gandhi rasis? 

Penolakannya bukan tanpa dasar tulisan. Para penolak mengutip surat dan tulisan Gandhi saat ia muda, ketika bekerja sebagai pengacara di Afrika Selatan tahun 1893-1914.

Dua poin yang paling disorot:

1. Surat ke Parlemen Afsel 1893: Gandhi mengeluh tentang perlakuan terhadap orang India dan membandingkannya dengan "orang Kaffir" di Afrika, sebuah istilah yang kini dianggap sangat menghina.

2. Tulisan di surat kabar Indian Opinion: Ada beberapa tulisan Gandhi muda yang menempatkan orang India "lebih tinggi" secara peradaban dibanding sebagian masyarakat Afrika asli. Ia juga awalnya memperjuangkan hak orang India secara terpisah dari orang Afrika.

Bagi para pengkritik di Ghana, ini bukti Gandhi memiliki pandangan rasis dan kolonial di masa mudanya. 

Pihak yang membela Gandhi punya argumen lain. Mereka bilang: ya, tulisan itu ada. Tapi itu Gandhi usia 24-45 tahun, di era Victoria, di sistem kolonial masih paling rasis.

Gandhi yang kembali ke India lalu memimpin perlawanan, adalah Gandhi yang berbeda. Ia kemudian bekerja sama dengan orang Afrika, membela hak semua yang tertindas, dan konsep _satyagraha  terbukti dipakai Martin Luther King Jr dan Nelson Mandela. Mereka menyebut ini "perkembangan moral".

Seperti banyak tokoh, Gandhi juga belajar, berubah, dan bertumbuh. Pemerintah India saat itu juga membela: patung itu hadiah persahabatan, simbol hubungan India-Afrika.

Setelah protes berbulan-bulan, pihak universitas akhirnya menurunkan patung itu tahun 2018. Bukan dihancurkan, tapi dipindah ke tempat yang "kurang menonjol". Alasan resminya: menghormati "sentimen mahasiswa" dan "perdebatan sejarah". Universitas tidak menyatakan Gandhi "bersalah", tapi juga tidak mengabaikan luka sejarah. 

Apakah Mahatma Gandhi rasis ? Jawabannya tidak hitam-putih.

Jika kita hanya membaca Gandhi tahun 1893 di Afrika Selatan, kita akan menemukan kata-kata yang menyakitkan hari ini. Jika kita membaca Gandhi tahun 1947 di India, kita menemukan sosok yang menolak semua bentuk penindasan.

Sejarah memang begitu. Tidak ada tokoh besar yang sempurna. Mereka produk zamannya, sekaligus pelawan zamannya. Ada yang semula buruk menjadi baik, sayang ada pula yang semula baik namun kemudian menjadi buruk. Silakan napak tilas sejarah bangsa Indonesia, kita bisa menemui yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi buruk maupun yang buruk tetap buruk atau yang baik tetap baik.

Menurunkan patung bukan berarti menghapus Gandhi. Mendirikan patung juga bukan berarti membenarkan semua ucapannya.

Tugas kita bukan memilih "dipuja atau dihujat". Tugas kita adalah membaca semuanya: yang mulia dan yang kelam. Lalu belajar agar tidak mengulanginya.

Karena peradaban maju bukan saat hanya punya pahlawan tanpa cela. Tapi saat berani jujur pada seluruh kisah sejarahnya.


Indeks Kebahagiaan

Sebelumnya

Taksonomi Kelirumologi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana