post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Penggunaan kata “Roger” oleh para pilot saat berkomunikasi melalui radio penerbangan sudah menjadi hal yang sangat familiar di masyarakat luas. Istilah ini sering kita dengar dalam film bertema penerbangan maupun dokumenter militer.

Namun, banyak orang yang salah kaprah dan mengira bahwa kata “Roger” memiliki arti yang sama dengan kata “Yes” atau “Ya”. Pada kenyataannya, sejarah dan makna teknis di balik kata ini jauh lebih kompleks.

Akar dari penggunaan kata ini berasal dari masa-masa awal komunikasi kode Morse dan radio komunikasi suara pada awal abad ke-20. Pada era Morse, para operator menggunakan huruf tunggal “R” sebagai singkatan dari kata “Received” (Telah Diterima). Ketika teknologi radio suara mulai menggantikan transmisi Morse menjelang Perang Dunia I, huruf  “R” tetap digunakan untuk menandai bahwa sebuah pesan telah diterima dengan baik oleh penerima pesan.

Seiring berkembangnya komunikasi audio, masalah baru muncul berupa kualitas sinyal radio yang sangat buruk dan penuh dengan gangguan kresek-kresek (static noise). Untuk mencegah salah dengar saat mengeja kata atau menyebutkan huruf, dibentuklah alfabet fonetis. Pada era awal penerbangan dan komunikasi militer AS sekitar tahun 1913 hingga Perang Dunia II, huruf "R" dieja menggunakan kata pembantu “Roger”.

Oleh karena itu, menyebutkan kata “Roger” di radio pada masa itu secara harfiah berarti menyampaikan huruf “R” atau “Received”.

Alasan utama mengapa kata “Yes” tidak digunakan dalam komunikasi radio penerbangan adalah karena struktur katanya. Kata “Yes” hanya terdiri dari satu suku kata (single syllable) yang sangat ringkas, sehingga berisiko tinggi hilang atau tidak terdengar akibat gangguan frekuensi radio.

Dalam protokol penerbangan, kata dua suku kata seperti “Roger” jauh lebih aman dan mudah ditangkap oleh telinga pendengar di tengah kebisingan kokpit.

Dari segi makna teknis penerbangan, kata “Roger” sebenarnya berarti “I have received and understood your last transmission” atau “Saya telah menerima dan memahami pesan terakhir Anda”.

Kata ini tidak mengandung arti kesepakatan atau janji untuk melaksanakan perintah.

Jika seorang pilot berniat untuk melaksanakan instruksi yang diberikan oleh pengontrol lalu lintas udara (Air Traffic Control), kata yang tepat digunakan adalah “Wilco” yang merupakan singkatan dari “Will comply”. Sementara itu, kata yang menggantikan “Yes” dalam standar penerbangan adalah “Affirmative”.

Sebelum adanya standar global, dunia penerbangan diwarnai oleh beragam alfabet fonetis yang membingungkan. Korps Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) pada awalnya sempat menggunakan kata “Robert” atau “Robertson” untuk mewakili huruf “R”. Di sisi lain, lembaga internasional lain pernah mengusulkan kata “Rivoli”, “Roma”, hingga “Rosa”.

Perbedaan istilah antar-negara dan antar-cabang militer ini kerap memicu kendala komunikasi pada operasi gabungan.

Langkah standardisasi mulai diperkuat pada masa Perang Dunia II ketika pasukan Sekutu mengadopsi alfabet fonetis bersama yang dikenal sebagai Able Baker. Dalam sistem ini, kata “Roger” resmi digunakan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS serta RAF Inggris. Setelah perang usai, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengambil alih penyusunan bahasa fonetis universal agar dapat dilafalkan dengan mudah oleh pilot dari berbagai latar belakang bahasa di seluruh dunia.

Pada tahun 1956, NATO dan ICAO secara resmi menetapkan Alfabet Fonetis Internasional yang kita kenal hingga hari ini. Dalam pembaruan tersebut, kata “Roger” yang mewakili huruf “R” secara resmi digantikan oleh kata “Romeo”.

Meskipun posisi “Roger” sebagai ejaan huruf “R” telah digantikan secara formal puluhan tahun lalu, kata tersebut sudah terlanjur melekat kuat dalam tradisi penerbangan dan tetap bertahan sebagai bahasa standar untuk mengonfirmasi penerimaan pesan.

Standardisasi bahasa radio komunikasi dalam dunia penerbangan modern sangatlah krusial untuk menjaga keselamatan jiwa. Pengalaman pahit seperti tragedi benturan pesawat di Bandara Tenerife pada tahun 1977 membuktikan bahwa ketidakjelasan atau salah tafsir instruksi radio dapat berakibat fatal. Oleh sebab itu, kata-kata yang digunakan dalam navigasi udara kini diatur sangat ketat melalui ICAO Annex 10 guna memastikan semua istilah bersifat tunggal, jelas, dan tidak menimbulkan ambiguitas.

Kini, kata “Roger” menjadi simbol warisan sejarah panjang evolusi teknologi komunikasi penerbangan dari era kawat transmisi hingga era modern. Dari yang semula hanya merupakan ejaan fonetis untuk huruf “R” di era Perang Dunia, istilah ini terus hidup di kokpit pesawat, kapal laut, hingga wahana antariksa sebagai bentuk konfirmasi yang ringkas dan aman.


Apa yang Awak Kabin Lakukan Saat Pesawat Alami Turbulensi?

Sebelumnya

Southwest Airlines Justru Panen Kritik di Media Sosial Setelah Sindir Kebiasaan Buruk Penumpang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Air Crew