Kabut asap pekat kembali membayangi langit Kalimantan seiring meningkatnya ancaman kebakaran di lahan basah. Penanganan kebakaran gambut dinilai tidak bisa lagi bertumpu pada pola pemadaman darurat yang terbukti tidak efektif, melainkan harus digeser secara radikal ke arah pencegahan terpadu serta pemulihan hidrologis ekosistem.
Pencegahan menjadi satu-satunya jalan rasional karena karakteristik pembakaran di bawah permukaan tanah (smouldering combustion) sangat sulit dipadamkan begitu bara merayap ke lapisan dalam. Pemadaman api di kedalaman gambut menuntut jutaan liter air serta biaya logistik yang luar biasa besar di tengah keterbatasan akses lapangan.
Tenaga Ahli Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Prof. Emir M. Husni menegaskan bahwa pola penanganan reaktif hanya menyisakan kerugian ekologis dan finansial yang tidak sebanding. Strategi mitigasi harus diarahkan untuk memastikan bentang lahan basah tetap jenuh air sepanjang tahun.
”Bertindak setelah api berkobar di lahan gambut hanya menghasilkan kerugian ekologis dan finansial yang tak terbayar. Langkah terbaik untuk menghadapi persoalan ini adalah dengan memaksimalkan upaya pencegahan sejak dini,” kata Prof. Emir dalam keterangan yang diterima redaksi.
Prof. Emir mendiskusikan hal ini secara mendalam dengan pakar kebakaran hutan dari Institut Pertanian Bogor (IPB University) Prof. Lailan Syaufina.
Kerugian ekologis yang dipicu kebakaran gambut berdampak luas secara global. Lapisan organik yang menyimpan karbon selama ribuan tahun langsung terlepas ke atmosfer dalam bentuk emisi karbon dioksida dan gas metana, sekaligus menyemburkan partikel halus berbahaya (PM2,5) yang merusak saluran pernapasan warga.
Tingginya kandungan uap air pada material gambut yang terbakar membuat kabut asap pekat bertahan lama di udara dan melumpuhkan jarak pandang transportasi. Selain mengancam kesehatan masyarakat di tingkat tapak, fenomena polusi asap lintas batas (transboundary haze pollution) berpotensi kembali memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Secara ilmiah, bentang gambut tropis terbentuk ribuan tahun silam di kawasan dataran rendah yang selalu tergenang air. Kondisi anaerobik atau minim oksigen membuat mikroba pembusuk tidak mampu mengurai sisa-sisa vegetasi purba secara tuntas, sehingga membentuk lapisan tanah organik tebal yang menjadikan Indonesia salah satu bentang rawa gambut terluas di dunia.
Karakter hidrologis gambut alami sejatinya berfungsi layaknya spons raksasa yang menyerap limpasan air hujan dan mengalirkannya secara perlahan saat musim kering tiba. Keseimbangan tata air inilah yang melindungi bentang daratan Kalimantan dari dua ancaman bencana hidrometeorologi ekstrem sekaligus: banjir bandang di musim hujan dan kekeringan saat kemarau.
Kendati demikian, pengeringan gambut melalui pembangunan kanal-kanal pembuangan air secara masif telah merusak struktur penahan air tersebut. Gambut yang terdegradasi kehilangan kelembapan alaminya, lalu menyusut dan berubah menjadi timbunan bahan bakar organik yang sangat mudah terbakar ketika terpercik api.
Upaya negara menahan laju kerusakan melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan pendekatan 3R (rewetting, revegetation, revitalisation) kerap menemui kendala di lapangan. Pembangunan sekat kanal (canal blocking) yang ditujukan untuk menjaga tinggi muka air tanah sering kali tidak berfungsi optimal akibat minimnya pemantauan dan perawatan berkala.
Tekanan terhadap ekosistem ini kian diperparah oleh kesenjangan biaya pembukaan lahan. Metode pembukaan lahan tanpa bakar (land clearing) secara mekanis menuntut biaya investasi hingga Rp7 juta per hektar, sedangkan penggunaan api hanya memerlukan ongkos sekitar Rp1 juta per hektar, sehingga insentif ekonomi ilegal ini terus berulang.
Adapun Prof. Lailan menggarisbawahi pentingnya mengubah paradigma pembukaan lahan di tingkat masyarakat lokal.
”Pemberdayaan dan edukasi masyarakat mengenai fungsi vital hidrologis gambut harus diperkuat, disertai bantuan teknis agar mereka memiliki alternatif ekonomis selain menggunakan api untuk pembersihan lahan,” ujarnya.
Pada tingkat teknis tapak, rekayasa tata air dapat diperkuat dengan metode pembendungan kanal sederhana, seperti memanfaatkan karung pasir dan kayu lokal untuk menahan limpasan air. Upaya tersebut perlu dikombinasikan dengan pembangunan sekat bakar hidup (green belt) menggunakan tanaman tahan api, seperti kaliandra, guna memutus laju penjalaran lidah api antarpetak kebun warga.
Mitigasi modern saat ini mulai memanfaatkan teknologi sensor Internet of Things (IoT) dan penginderaan jauh berbasis satelit. Integrasi data tinggi muka air tanah secara langsung dengan sistem kecerdasan buatan memungkinkan otoritas terkait memetakan kerentanan kekeringan gambut sebelum titik panas (hotspot) pertama muncul di permukaan.
Keberhasilan seluruh intervensi teknis tersebut bertumpu pada konsistensi penegakan hukum dan audit kepatuhan tata kelola konsesi secara ketat. Aparat penegak hukum dan pengawas lingkungan dituntut bertindak responsif menindak kelalaian tata kelola air dan pelanggaran izin sebelum kebakaran meluas, bukan sekadar memproses perkara pidana di atas puing-puing lahan yang telah hangus.



KOMENTAR ANDA