Senin malam, 10 Agustus 2026 lalu, program antariksa Tiongkok kembali menghadapi pukulan telak setelah roket generasi baru Long March 7A meledak di udara tak lama usai lepas landas. Wahana pengangkut seberat ratusan ton tersebut diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Wenchang di pesisir Pulau Hainan sekitar pukul 20.02 waktu setempat.
Awalnya, roket setinggi 60,7 meter itu melesat mulus membelah langit malam pesisir selatan Tiongkok. Namun, kegembiraan tim teknis di pusat kendali berubah menjadi ketegangan ketika anomali penerbangan kritis terdeteksi hanya berselang sekitar 85 detik pascapeluncuran, tepat sebelum tahap pemisahan pendorong (booster).
Data telemetri menunjukkan penurunan daya dorong drastis yang diikuti oleh ledakan hebat di lapisan atmosfer atas, mengubah roket beserta muatannya menjadi bola api raksasa. Pecahan puing-puing berkecepatan tinggi dilaporkan jatuh di zona perairan terbuka Laut Tiongkok Selatan yang sebelumnya telah disterilkan untuk koridor keselamatan penerbangan.
Dalam misi ini, roket Long March 7A sejatinya ditugaskan membawa muatan bernilai strategis tinggi, yakni satelit komunikasi generasi terbaru ChinaSat-4B (Zhongxing-4B), menuju orbit transfer geostasioner (GTO). Satelit canggih yang dirancang untuk memperkuat infrastruktur telekomunikasi nasional tersebut dipastikan hancur total bersama badan roket.
Badan Antariksa Nasional Tiongkok (CNSA) bersama kontraktor utama, China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), segera merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi kegagalan misi tersebut. Otoritas kedirgantaraan menyatakan tim investigasi khusus telah dibentuk untuk menyelidiki penyebab kegagalan fungsi pada sistem propulsi dan struktur pendorong roket.
Peristiwa ini menambah catatan kelam bagi keluarga roket Long March 7A, yang sebelumnya juga pernah mengalami nasib serupa pada peluncuran perdananya (maiden flight) tanggal 16 Maret 2020 silam. Pada insiden enam tahun lalu itu, roket meledak sesaat setelah pemisahan tahap pertama dan menghancurkan muatan satelit verifikasi rahasia XJY-6.
Kecelakaan terbaru ini menjadi sorotan tajam bagi komunitas kedirgantaraan internasional, mengingat Long March 7A diproyeksikan sebagai tulang punggung baru armada peluncur Tiongkok. Varian ini dirancang khusus untuk menggantikan roket-roket tua berbahan bakar hipergolik beracun dengan teknologi bahan bakar kriogenik cair oksigen-kerosin dan hidrogen yang lebih ramah lingkungan namun bertekanan tinggi.
Sejumlah analis luar angkasa menilai insiden ini mengindikasikan adanya kerentanan teknis pada sistem propulsi kriogenik berdaya dorong tinggi yang menuntut presisi ekstrem. Kerumitan mekanis dan kontrol tekanan bahan bakar pada fase awal pendakian diduga menjadi titik rawan yang memicu anomali struktural tersebut.
Dampak langsung dari ledakan pada 10 Agustus ini adalah pembekuan sementara jadwal peluncuran roket dari platform Long March seri 7. Otoritas antariksa Tiongkok memutuskan menunda beberapa misi pengiriman satelit komunikasi dan navigasi berikutnya hingga seluruh evaluasi mekanis serta verifikasi perangkat lunak selesai dilakukan.
Di tengah ambisi Beijing memperluas jaringan konstelasi satelit dan mendukung operasi stasiun luar angkasa Tiangong, tragedi Long March 7A menjadi pengingat nyata akan margin kesalahan nol dalam eksplorasi antariksa. CASC menegaskan komitmennya untuk segera merombak sistem pengendalian mutu demi memastikan keandalan armada roket pada misi-misi mendatang.



KOMENTAR ANDA