post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kekuatan militer udara di era modern terus berkembang seiring dengan besarnya alokasi dana pertahanan yang dikucurkan oleh negara-negara di dunia. Laporan terbaru mencatat bahwa lima negara dengan belanja militer tertinggi menyumbang sekitar 60% dari seluruh total pengeluaran pertahanan di planet ini. Negara-negara yang menduduki peringkat lima besar tersebut meliputi Amerika Serikat, China, Rusia, Jerman, dan India.

Amerika Serikat tetap kokoh memimpin posisi teratas sebagai pemegang anggaran pertahanan terbesar di dunia, dengan total mencapai $997 miliar dan armada militer sebanyak 14.486 unit. Pengeluaran militer AS mencakup sekitar 37% dari total anggaran pertahanan global, yang memastikan armada udaranya mempertahankan keunggulan teknologi mutakhir di segala lini.

Di posisi kedua, China mencatatkan anggaran pertahanan sebesar $314 miliar dengan kekuatan armada mencapai 4.392 unit pesawat militer. Peningkatan anggaran militer Beijing sebagian besar difokuskan pada program modernisasi besar-besaran, terutama dalam pengembangan jet tempur siluman (stealth) dan platform tanpa awak (uncrewed platforms).

Rusia menempati peringkat ketiga dengan anggaran sebesar $149 miliar dan total 4.211 armada pesawat militer. Kenaikan belanja pertahanan Moskow sangat didorong oleh kebutuhan operasional perang di Ukraina, meski industri kedirgantaraannya kini menghadapi tekanan berat akibat sanksi ekonomi internasional yang membatasi pasokan komponen krusial.

Jerman berada di urutan keempat dengan anggaran belanja $88,5 miliar dan 745 armada. Berlin meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 28% guna memperkuat kapabilitas industri militernya di tengah ancaman kawasan Eropa. Sementara itu, India menempati peringkat kelima dengan anggaran $86,1 miliar serta armada sebanyak 2.296 unit, di mana sektor kedirgantaraannya masih menggabungkan alutsista domestik dan impor.

Dari sektor jet tempur, Amerika Serikat unggul telak dengan 2.358 unit tempur, terutama didukung oleh armada generasi kelima F-35 Lightning II yang diproduksi secara massal. China menyusul dengan 1.975 jet tempur, dipimpin oleh jet siluman Chengdu J-20 yang produksinya telah melampaui 200 unit. Rusia, India, dan Jerman masing-masing menempati posisi selanjutnya dengan komposisi armada yang bervariasi.

Dalam kategori pesawat pengebom strategis (bombers), hanya ada tiga negara yang memilikinya, yaitu China dengan 209 unit (seperti Xian H-6), AS dengan 140 unit, dan Rusia dengan 120 unit. AS tetap menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan pengebom siluman canggih seperti B-2 Spirit di samping pesawat legendaris berdaya jelajah tinggi B-52 Stratofortress.

Pada kategori helikopter militer, keunggulan armada udara AS tidak tertandingi dengan kepemilikan lebih dari 5.500 unit sayap putar. Alutsista seperti helikopter serbu AH-64 Apache dan pesawat tilt-rotor Bell-Boeing V-22 Osprey menjadi tulang punggung kekuatan mobilitas udara AS. Rusia menyusul di peringkat kedua armada helikopter dengan 1.551 unit, disusul oleh China dengan 1.250 unit.

Untuk kekuatan logistik dan angkut udara (airlift), Amerika Serikat memimpin dengan 1.020 pesawat transport, didukung oleh pesawat kargo raksasa C-5 Galaxy dan C-17 Globemaster III. Rusia menempati posisi kedua dengan 462 armada transport, sedangkan India memiliki 282 unit yang memadukan pesawat kargo buatan Blok Barat dan Timur secara berdampingan.

Perbandingan anggaran dan struktur armada ini menunjukkan bahwa besarnya belanja pertahanan berbanding lurus dengan kapabilitas strategis di udara. Dominasi finansial AS dan pertumbuhan agresif alokasi dana militer China diprediksi akan terus memperlebar kesenjangan kekuatan udara global dalam beberapa dekade mendatang.


Mengapa Pesawat Intai SR-71 Blackbird Sempat Tak Terlihat di Radar Jet Tempur F-15

Sebelumnya

Korea Selatan Resmi Luncurkan Program Jet Tempur Siluman Generasi Keenam

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer