Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, resmi melanjutkan proses serah terima pesawat berbadan lebar (widebody) A330neo kepada maskapai pemesan. Langkah ini diambil setelah proses pengiriman sempat terhenti selama hampir tiga bulan menyusul ditemukannya kendala kendali mutu pada salah satu bagian ekor pesawat.
Insiden tersebut bermula saat proses pemeriksaan pra-pengiriman (pre-delivery inspection), di mana sebuah perkakas kerja (stray tool) tanpa sengaja tertinggal di dalam struktur bidang ekor horizontal (horizontal tail plane). Temuan ini langsung memicu audit teknis dan inspeksi menyeluruh terhadap seluruh unit A330neo yang tengah berada di jalur perakitan.
Dampak dari pemeriksaan kualitas tersebut membuat arus pengiriman A330neo anjlok signifikan sepanjang musim panas. Sepanjang bulan Juni dan Juli, tidak ada satu pun unit yang diserahkan ke maskapai, hingga akhirnya kebuntuan pecah pada 11 Agustus ketika STARLUX Airlines menerima satu unit A330-900neo.
Pihak Airbus menegaskan bahwa persoalan ini merupakan kasus terisolasi dan akar penyebabnya telah berhasil diidentifikasi serta ditangani dengan baik. Pabrikan juga memastikan bahwa masalah ini sama sekali tidak berkaitan dengan aksi mogok kerja di Spanyol serta tidak memengaruhi armada A330neo yang saat ini sudah aktif beroperasi di berbagai maskapai global.
Kendati pengiriman telah dibuka kembali, jeda operasional selama hampir satu kuartal tersebut telah menekan capaian tahunan pabrikan. Tercatat, hingga Agustus tahun ini Airbus baru membukukan total 10 pengiriman A330neo, atau anjlok sekitar 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu mencapai 15 unit.
Penurunan performa pada lini A330neo ini menjadi sorotan tersendiri di tengah lonjakan performa pengiriman pesawat Airbus secara keseluruhan. Pasalnya, pada portofolio global hingga Juli tahun ini, Airbus sebenarnya sukses menyerahkan 418 unit pesawat ke berbagai pelanggan, melampaui capaian 373 unit pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Kini, mengejar target produksi dan menyamai rekor tahun lalu menjadi pekerjaan rumah yang menantang bagi Airbus. Untuk menyamai capaian 34 unit A330neo seperti tahun sebelumnya, pabrikan setidaknya harus menyerahkan 24 unit tambahan antara September hingga Desember, yang berarti membutuhkan rata-rata pengiriman enam pesawat per bulan.
Angka tersebut melampaui laju perakitan normal program A330 yang saat ini stabil di kisaran empat pesawat per bulan. Meski unit yang sempat tertunda inspeksi kini siap dirilis secara bersamaan ke pelanggan, Airbus tetap membutuhkan akselerasi tinggi di sisa kuartal akhir untuk memangkas selisih target.
Di sisi lain, antrean pesanan untuk varian widebody hemat bahan bakar ini tercatat masih sangat padat. Data per Juli menunjukkan Airbus masih mengantongi tumpukan pesanan (backlog) sebanyak 328 unit A330neo, dengan dominasi mutlak pada varian A330-900 sebanyak 323 unit dan sisanya lima unit untuk model A330-800.
Tingginya komitmen dari maskapai dunia—mulai dari Vietjet, Malaysia Airlines, SAS, Delta Air Lines, hingga Garuda Indonesia—menjadikan pemulihan ritme rantai pasok A330neo kian krusial. Airbus kini dituntut menjaga stabilitas lini produksi demi mengejar target peningkatan kapasitas hingga lima pesawat per bulan serta memastikan komitmen waktu bagi para pemesan dapat terpenuhi.



KOMENTAR ANDA