post image
Foto lama Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta./Wikipedia
KOMENTAR

Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, ditutup sementara akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Penutupan fasilitas bandara tersibuk di Indonesia ini dilakukan menyusul sebaran abu vulkanik yang dinilai membahayakan keselamatan aktivitas penerbangan sipil.

Kebijakan penghentian operasional sementara tersebut mulai diberlakukan sejak Sabtu malam dan dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (6/9/2026) pukul 05.30 WIB. Keputusan mendesak ini diambil setelah otoritas penerbangan menerima konfirmasi resmi mengenai pergerakan partikel abu vulkanik yang mengarah langsung ke ruang udara sekitar bandara.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama pemangku kepentingan penerbangan segera menerbitkan peringatan resmi bagi para pelaku industri aviasi (Notice to Airmen / NOTAM). Penerbitan NOTAM tersebut menjadi landasan hukum dan panduan bagi seluruh maskapai domestik maupun internasional untuk menunda pergerakan armadanya.

Langkah penutupan sementara ini merupakan prosedur standar operasional (SOP) berbasis keselamatan penerbangan internasional. Partikel abu vulkanik memiliki sifat abrasif dan mengandung silika yang dapat meleleh di ruang pembakaran mesin jet, mematikan turbin pesawat di udara, serta merusak lapisan kaca kokpit dan sensor kecepatan.

Sebagai konsekuensi langsung dari keputusan tersebut, seluruh kegiatan lepas landas (take-off) dan pendaratan (landing) di seluruh landas pacu Bandara Soekarno-Hatta dibekukan untuk sementara waktu. Pesawat yang dijadwalkan mendarat pada rentang waktu penutupan terpaksa dialihkan pendaratannya ke bandara alternatif terdekat atau diminta kembali ke bandara asal (return to base).

Kondisi ini memicu antrean dan penumpukan penumpang di area terminal keberangkatan, baik di Terminal 1, 2, maupun 3. Pihak pengelola bandara bersama maskapai penerbangan segera membuka posko informasi serta pusat layanan bantuan bagi ribuan calon penumpang yang perjalanan udaranya terdampak.

Petugas gabungan di lapangan juga dikerahkan secara berkala untuk melakukan uji petik (paper test) di area landasan pacu (runway), jalur rayap (taxiway), dan apron bandara. Prosedur ini krusial dilakukan untuk mendeteksi secara fisik apakah partikel abu vulkanik vulkanik sudah mulai mengendap di permukaan landasan.

Otoritas bandara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau arah pergerakan angin dan konsentrasi abu vulkanik secara intensif setiap jam. Evaluasi menyeluruh akan menentukan apakah bandara dapat dibuka kembali tepat waktu atau masa penutupannya harus diperpanjang.

Maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta telah diminta mengaktifkan rencana kontinjensi untuk melayani hak-hak konsumen, termasuk penyediaan makanan ringan, penataan ulang jadwal penerbangan (reschedule), hingga pengembalian dana tiket (refund) secara tertib.

Para calon penumpang yang memiliki jadwal penerbangan pada Minggu pagi diimbau agar terus memperbarui informasi terkini melalui kanal komunikasi resmi pihak maskapai sebelum memutuskan berangkat menuju bandara. Otoritas penerbangan menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan ini semata-mata mengutamakan aspek keselamatan jiwa para penumpang dan awak pesawat.


Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Operasional Bandara Soetta, 33 Penerbangan Terdampak

Sebelumnya

Mengenal Manuver “Curved Approach”: Alasan Pilot Sengaja Membelok Saat Mendarat di Bandara Pegunungan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Airport