post image
Dari kiri ke kanan: Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Abdullah Rasyid, Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat, dan Staf Ahli Menteri Agama, Prof. Iswandi Syahputra.
KOMENTAR

Dalam dunia pemasyarakatan, maknanya menjadi lebih kuat.

Pemasyarakatan sesungguhnya dibangun di atas keyakinan bahwa manusia dapat berubah. Seseorang yang pernah melakukan kesalahan tidak boleh selamanya dikunci oleh masa lalunya. Ia menjalani konsekuensi, mendapat pembinaan, kemudian dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat.

Tobat ekologis mempunyai semangat yang hampir sama.

Manusia terlebih dahulu harus berani mengakui bahwa cara hidupnya telah melukai bumi. Setelah itu datang kesadaran, perubahan perilaku, dan usaha memperbaiki kerusakan.

Bayangkan seorang warga binaan menanam sebatang pohon. Setiap hari ia menyiramnya. Perlahan tumbuh. Suatu saat orang itu bebas, tetapi pohon yang ditanamnya tetap berdiri, memberi keteduhan kepada orang lain.

Ada sesuatu yang indah di sana.

Pemasyarakatan tidak hanya memulihkan manusia. Manusia yang sedang dipulihkan justru diberi kesempatan ikut memulihkan alam.

Tentu Tobat Ekologis tidak boleh direduksi menjadi sekadar gerakan menanam pohon. Tantangannya jauh lebih besar. Ia harus menyentuh pola konsumsi, pengelolaan sampah, energi, tata ruang, cara berproduksi, bahkan paradigma pembangunan.

Tidak masuk akal meminta masyarakat mengurangi sampah jika sistem produksi terus membanjiri pasar dengan barang sekali pakai. Tidak cukup mengajak warga menanam pohon jika pada saat yang sama kerusakan hutan berlangsung lebih cepat daripada pemulihannya. Kesalehan ekologis juga kehilangan arti apabila pembangunan masih melihat daya dukung lingkungan sebagai urusan pinggiran.

Perubahan memang harus terjadi pada dua wilayah sekaligus.

Manusia perlu belajar membatasi diri. Negara harus memastikan pembangunan tidak menghabiskan masa depan.

Ekoteologi memberi keduanya kedalaman moral. Menanam pohon tidak lagi sekadar kegiatan seremonial. Menghemat air bukan hanya soal mengurangi tagihan. Mengurangi sampah bukan cuma perkara kebersihan. Semua itu dapat dibaca sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan.

Percakapan sore tadi membuat saya semakin yakin bahwa jalan menyelamatkan lingkungan tidak cukup dibangun dengan aturan yang lebih keras atau teknologi yang semakin maju.

Kita juga membutuhkan manusia yang bersedia berubah.

Sebab jika alam benar-benar kita pahami sebagai amanah, merusaknya bukan hanya berarti merusak tempat hidup kita sendiri.

Kita sedang lalai menjaga sesuatu yang dititipkan Tuhan kepada kita.


FWK: Setelah 81 Tahun Indonesia Merdeka, Pemerintah Harus Lebih Peka

Sebelumnya

Kampanye #UnfollowNarkoba, GANNAS Jawa Barat Serukan Perlawanan di Seluruh Lini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional