Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dosen Politik Asia Timur UIN Jakarta
DIKENAL sebagai “Si Manusia Besi” dan reformis ekonomi yang pragmatis, mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji meninggalkan warisan mendalam yang membentuk Tiongkok menjadi raksasa ekonomi global. Kehidupan dan kariernya mencerminkan liku-liku sejarah Tiongkok abad ke-20, dari gejolak revolusi hingga kebangkitan ekonomi yang luar biasa.
Zhu Rongji dikabarkan meninggal dunia hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, di Beijing. Dia menghembuskan nafas terakhir di usia 97 tahun.
Lahir di Changsha, Provinsi Hunan, pada Oktober 1928, Zhu berasal dari latar belakang keluarga intelektual. Ia menempuh pendidikan teknik elektro di Universitas Tsinghua yang bergengsi dan bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tahun 1949.
Perjalanan politik awal Zhu diuji pada era pergolakan domestik dan transisi geopolitik, termasuk masa-masa pasca-Perang Dunia II dan era revolusi yang mengubah struktur sosial Tiongkok secara drastis. Sebagai seorang teknokrat cerdas, ia awalnya bekerja di lembaga perencanaan negara.
Namun, integritas dan ketegasannya dalam mengkritik kebijakan ekonomi kepemimpinan saat itu membuatnya harus membayar mahal. Pada tahun 1958, di tengah Kampanye Anti-Kanan, Zhu dicap sebagai "elemen kanan" dan dipecat dari partai akibat pandangannya yang dianggap menyimpang.
Selama masa-masa sulit pasca-Bencana Kelaparan Besar, ia sempat dipekerjakan kembali secara terbatas sebelum akhirnya dihantam gelombang Revolusi Kebudayaan. Di bawah tekanan politik yang kejam pada dekade 1960-an dan 1970-an, Zhu diasingkan ke pedesaan.
Selama lima tahun di pengasingan pedesaan, ia harus menjalani kerja manual yang berat. Mulai dari memelihara ternak babi, mencangkul sawah, hingga mengurus sanitasi ladang, pengalaman ini menempa ketahanan mental luar biasa yang kelak menjadi ciri khas kepemimpinannya.
***
Titik balik kehidupan Zhu terjadi setelah wafatnya Mao Zedong dan naiknya Deng Xiaoping ke puncak kekuasaan. Pada tahun 1978, Zhu direhabilitasi secara politik, namanya dibersihkan, dan ia kembali diterima sebagai anggota PKT untuk mengabdikan diri kembali bagi negara.
Di era reformasi dan keterbukaan Deng Xiaoping, karier Zhu melesat cepat berkat keahlian teknis dan ketegasannya. Ia memegang berbagai peran penting di kementerian energi dan komisi ekonomi negara, di mana visinya mengenai pasar mulai terbentuk.
Puncak ketenaran domestiknya bermula ketika ia dikirim ke Shanghai sebagai Wali Kota pada tahun 1988, dan kemudian merangkap sebagai Sekretaris PKT Shanghai. Di pusat finansial tersebut, Zhu memelopori reformasi pasar radikal dan membuka jalan bagi modernisasi kawasan Pudong.
Gaya kepemimpinannya yang blak-blakan, antirasuah, dan berorientasi pada hasil membuat Shanghai bertransformasi pesat. Keberhasilannya menarik perhatian kepemimpinan pusat di Beijing, membawanya ditarik menjadi Wakil Perdana Menteri pada tahun 1991.
Sebagai Wakil Perdana Menteri dan Gubernur Bank Sentral Tiongkok (PBOC), Zhu dihadapkan pada tantangan besar berupa inflasi tinggi dan krisis finansial Asia 1997. Ia sukses meredam inflasi liar dan membersihkan sistem perbankan dari kredit macet melalui restrukturisasi yang berani.
Pada tahun 1998, Zhu secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Tiongkok ke-5. Di bawah kepemimpinannya, ia melancarkan restrukturisasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merugi dan birokrasi pemerintahan yang lamban.
Kebijakannya kala itu memicu jutaan pemutusan hubungan kerja di sektor industri negara demi efisiensi pasar. Meskipun kontroversial dan menyakitkan dalam jangka pendek, langkah tersebut berhasil menyelamatkan ekonomi Tiongkok dari kebangkrutan struktural.
***
Mahakarya terbesar kepemimpinannya terjadi pada tahun 2001, ketika ia sukses merampungkan negosiasi pelik agar Tiongkok resmi bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Langkah integrasi global ini mengubah Tiongkok menjadi "pabrik dunia" dan eksportir terbesar global.
Kini, ketika Zhu telah tiada, Tiongkok berada di bawah lanskap geopolitik yang kompleks, terjebak dalam apa yang disebut sebagai “Thucydides Trap” atau “Perangkap Thucydides”. Teori ini menggambarkan potensi konflik struktural ketika kekuatan yang sedang bangkit menantang hegemon yang sudah mapan. Pemodelan ini digunakan untuk menggambarkan gerakan naik Tiongkok menantang supremasi Amerika Serikat yang sedang bergerak turun menghujam bumi.
Semangat kemajuan dan ketahanan yang diwariskan Zhu Rongji menjadi fondasi penting bagi Tiongkok dalam menghadapi jebakan tersebut. Disiplin fiskal, keterbukaan ekonomi yang terukur, serta mentalitas reformasi tanpa kompromi yang dulu ia kobarkan adalah senjata utama Beijing untuk bertahan di tengah ketidakpastian global.



KOMENTAR ANDA