Karena itu, kehadiran Radar MBG, penguatan kanal pengaduan, pelibatan guru, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dapat menjadi fondasi menuju sistem pengawasan yang lebih terbuka.
Pada akhirnya, Sudaryono sedang menghadapi paradoks besar MBG dimana program ini harus terus berjalan, tetapi tidak boleh berjalan dengan standar yang rendah.
Mempercepat distribusi memang penting. Tetapi mempercepat distribusi tanpa memperkuat sistem keamanan pangan justru dapat memperbesar risiko.
Karena itu, keberanian menutup dapur yang tidak memenuhi standar justru harus dibaca sebagai bagian dari upaya menyelamatkan kredibilitas MBG.
Sudaryono belum bisa disebut berhasil mengatasi persoalan keracunan. Terlalu dini membuat kesimpulan tersebut. Tetapi arah kebijakannya menunjukkan satu pesan yang jelas yaitu ketika era keberhasilan MBG hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan harus berakhir.
Ukuran baru harus lebih ketat yaitu berapa banyak makanan yang aman, berapa banyak dapur yang memenuhi standar, seberapa cepat insiden terdeteksi, seberapa transparan investigasi dilakukan, dan apakah kejadian serupa dapat dicegah agar tidak terulang.
Jika prinsip itu konsisten dijalankan, maka MBG bukan hanya akan menjadi program pembagian makanan gratis. Ia dapat berkembang menjadi sistem keamanan pangan nasional berskala besar.
Dan di situlah pertaruhan terbesar Sudaryono, bukan lagi sekadar membuat MBG berjalan, tetapi membuat masyarakat percaya bahwa makanan yang diberikan negara kepada anak-anak mereka benar-benar bergizi, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.



KOMENTAR ANDA