post image
Foto: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kedutaan Besar Republik Kuba di Indonesia memperingati hari kelahiran yang ke-100 pemimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro, dengan menggelar kegiatan budaya berupa pemutaran film “Why Do My Friends Cry?” atau dalam judul aslinya berbahasa Spanyol “¿Por qué lloran mis amigas?” di Cineapolis, Senayan Park, Jakarta, pada Kamis malam, 13 Agustus 2026.

Pemutaran film yang disandingkan dengan Festival Film Amerika Latin ini dihadiri akademisi, mahasiswa, serta para pecinta sinema internasional. Acara utama secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Kuba untuk Indonesia, Dagmar González Grau. Dalam pidato pembukaannya, Dubes Dagmar menekankan pentingnya mengenang warisan pemikiran politik serta keteladuhan Fidel Castro bagi generasi masa kini.

Sebelum pemutaran film utama, Kedutaan Besar Kuba terlebih dahulu menayangkan sebuah film dokumenter yang menyoroti babak-babak penting dalam sejarah perjalanan Revolusi Kuba dan peran sentral Fidel Castro sebagai penggerak utama gerakan perlawanan rakyat. 

Adapun “Why Do My Friends Cry?” yang bergenre drama psikologis disutradarai sineas perempuan kenamaan Kuba, Magda González Grau, dan dirilis pada tahun 2017. Karya sinematografi ini dibintangi sejumlah aktris terkemuka seperti Luisa María Jiménez, Edith Massola, Yazmín Gómez, dan Amarilys Núñez.

Film ini berpusat pada kisah pertemuan kembali empat sahabat perempuan setelah terpisah selama dua dekade. Melalui proses merajut memori, mimpi-mimpi masa lalu, hingga berbagai benturan frustrasi, mereka bersama-sama menatap dan mempertanyakan masa depan masing-masing.

Lebih dari sekadar drama nostalgia persahabatan, film ini memegang arti penting yang mendalam di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat Kuba kontemporer. Karya tersebut dengan berani menyoroti beragam persoalan perempuan modern, mulai dari dinamika sosial, kesetaraan, hingga tantangan mengatasi berbagai tuntutan hidup sehari-hari.

Akar Sejarah Revolusi

Penyelenggaraan pemutaran film ini sekaligus merefleksikan akar sejarah Revolusi Kuba yang diperingati secara khidmat. Sejarah revolusi tersebut bermula dari perlawanan gigih terhadap rezim diktator Fulgencio Batista yang didukung oleh kepentingan kapitalisme asing di pulau tersebut.

Dalam perjuangan panjang menggulingkan rezim tirani itu, Fidel Castro tidak bergerak seorang diri bersama rakyat tertindas. Ia ditemani oleh para tokoh revolusioner brilian lainnya, termasuk adiknya Raúl Castro serta pejuang internasionalis legendaris asal Argentina, Ernesto "Che" Guevara.

Kolaborasi erat antara Fidel Castro, Che Guevara, dan para kombatan Gerakan 26 Juli berhasil menumbangkan kekuasaan kapitalistik pada 1 Januari 1959. Kemenangan revolusi ini mengubah peta geopolitik global serta membawa Kuba menjadi simbol perlawanan anti-imperialisme di kawasan Amerika Latin.

Fidel Castro lahir di Birán, Kuba, pada 13 Agustus 1926, dan tumbuh menjadi seorang pemimpin karismatik berideologi marxis-sosialis. Ia memimpin Kuba selama hampir lima dekade melalui berbagai terjangan blokade ekonomi, krisis rudal, hingga pergantian era Perang Dingin yang penuh badai.

Fidel Castro akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Dewan Negara Kuba pada tahun 2008 karena faktor kesehatan, menyerahkan kepemimpinan kepada adiknya, Raúl Castro. Sang El Comandante wafat dengan tenang pada 25 November 2016 dalam usia 90 tahun, meninggalkan warisan politik yang terus diperdebatkan sekaligus dikagumi dunia internasional.


Seminar UPEC: Pemikiran Revolusioner Fidel Castro Masih Relevan

Sebelumnya

Si Manusia Besi Zhu Rongji dan Warisannya untuk Tiongkok Masa Kini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia