Lebih dari 1.000 wartawan dari 63 negara baru-baru ini berkumpul di Havana, Kuba, untuk menghadiri seminar internasional dengan tema “Fidel: Legado y Futuro”. Kegiatan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Kuba (UPEC) menyimpulkan bahwa pemikiran revolusioner Fidel Castro masih relevan.
Forum yang dimoderatori oleh Katiuska Blanco ini menghadirkan panelis lintas generasi dan latar belakang, termasuk Néstor Kohan, Manolo de los Santos, Luis Emilio Aybar, Ernesto Teuma, dan Randy Alonso Falcón. Diskusi berlangsung secara terbuka dan jujur, berupaya membedah kontradiksi dalam komunikasi politik kontemporer tanpa terjebak dalam dogma.
Néstor Kohan, seorang pemikir asal Argentina, membuka diskusi dengan kritik tajam terhadap model komunikasi arus utama yang dianggapnya sebagai alat untuk "mengarahkan, memerintah, dan memanipulasi" kesadaran publik. Menurut Kohan, di era media sosial dan kecerdasan buatan saat ini, simulasi kebebasan justru menjadi lebih masif, sehingga metode komunikasi Fidel yang dialogis menjadi pembanding yang sangat dibutuhkan.
Manolo de los Santos, aktivis dari The People's Forum, menyoroti pentingnya komunikasi dua arah. Ia menekankan bahwa Fidel adalah sosok yang memiliki "anugerah untuk mendengarkan", di mana sang pemimpin sering kali memasukkan esensi percakapannya dengan rakyat biasa ke dalam pidatonya, menjadikannya sebuah dialog kolektif yang luas.
Lebih lanjut, De los Santos merumuskan lima pelajaran kunci dari warisan komunikasi Fidel, di antaranya keharusan untuk selalu menjunjung tinggi kebenaran meski tidak populer. Ia menekankan bahwa perubahan dunia tidak terjadi hanya melalui unggahan di media sosial, melainkan melalui perjuangan nyata dan terorganisasi dari rakyat.
Di sisi lain, Luis Emilio Aybar memberikan pandangan kritis mengenai risiko "mendefidelisasi" Kuba. Ia memperingatkan agar tidak mereduksi pemikiran Fidel hanya menjadi sekadar emosi atau simbol yang tidak hidup. Aybar mengingatkan bahwa Fidel adalah hasil dari proses kolektif, dan memperingatkan agar simbol Fidel tidak disalahgunakan untuk melegitimasi praktik birokrasi atau ketimpangan ekonomi saat ini.
Ernesto Teuma, seorang akademisi muda, berbagi perspektif dari sudut pandang generasi yang tumbuh setelah masa kepemimpinan aktif Fidel. Ia menyoroti kejujuran radikal Fidel saat berbicara dengan anak-anak tentang masa depan revolusi. Baginya, tantangan terbesar bagi generasi saat ini bukan sekadar bertanya tentang apa keinginan Fidel, melainkan apa yang bisa dibangun oleh generasi sekarang dengan warisan ide-ide tersebut.
Randy Alonso, direktur Ideas Multimedios, mengenang Fidel sebagai salah satu komunikator politik terbesar dalam sejarah. Ia menceritakan bagaimana Fidel mampu membaca situasi strategis dengan tajam, bahkan di tengah situasi krisis. Alonso menekankan bahwa bagi Fidel, prioritas harus selalu diletakkan pada apa yang penting, bukan sekadar apa yang mendesak.
Salah satu kisah yang diangkat Alonso adalah tentang etika Fidel dalam berkomunikasi. Fidel pernah memilih untuk tidak menempati ruang media utama seperti televisi atau surat kabar Granma demi memberikan ruang bagi penerusnya, menunjukkan bahwa integritas dan penempatan diri adalah bagian penting dari komunikasi politik yang efektif.
Sebagai penutup, forum ini menegaskan bahwa di tengah perang kognitif dan tantangan ekonomi yang dihadapi Kuba saat ini, pemikiran Fidel tetap menjadi kompas yang krusial. Para panelis sepakat bahwa tugas mendesak bagi kaum revolusioner adalah terus berpikir kritis, jujur, dan berani untuk menghadapi realitas zaman dengan solusi-solusi baru.



KOMENTAR ANDA