Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DALAM Mahabharata, tidak ada tokoh setragis Bisma. Ia bukan raja, tapi bayangannya menaungi 3 generasi raja. Ia bukan dewa, tapi sumpahnya mengguncang swargaloka seperti mantra.
1. LAHIR SEBAGAI PUTRA DEWI GANGGA
Bisma lahir bernama Dewabrata, putra Raja Santanu dan Dewi Gangga.
Gangga sendiri turun ke bumi karena dikutuk. Setiap anak yang dilahirkannya langsung ditenggelamkan ke sungai. 7 anak sudah mati, sampai anak ke-8: Dewabrata. Santanu menahan Gangga. "Cukup."
Dari sini kita lihat benang merah: Bisma lahir dari air yang menolak melepas. Gangga ingin mengembalikan anaknya ke asal, tapi cinta manusia menahannya. Maka Bisma pun hidup sebagai manusia yang jiwanya selalu ditarik antara langit dan bumi.
2. SUMPAH BISMA DEWABRATA: PERANG MELAWAN DIRI
Konflik dimulai saat ayahnya ingin menikahi Satyawati. Syaratnya: tahta untuk anak Satyawati. Demi ayah, Dewabrata melakukan 2 sumpah mengerikan:
1. Sumpah Tahta: Ia bersumpahjtidak akan menuntut tahta Hastinapura seumur hidup agar yang menjadi raja Hastinapura adalah putra Satywati.
Swargaloka gempa, maka para Dewa turun ke bumi untuk memberi anugerah euthanasia kepada Dewabrata bisa menentukan saat ajalnya sendiri serta tidak ada lelaki atau perempuan yang mampu mengalahkan dirinya.
Dewabrata" berubah jadi "Bisma" = yang sumpah mengerikan. Ini bukan sumpah cinta. Ini sumpah politik.
Bisma memutus rantai perang suksesi sebelum terjadi. Ia rela tidak punya anak, agar tidak ada "keturunannya" yang berebut kuasa di masa depan. Tapi harganya: ia harus mengabdi pada siapa pun yang duduk di tahta, walau salah. Kesetiaan Right Or Wrong, My Country ini yang kelak menyeretnya ke Kurusetra. Seperti Kumbakarna dari wiracarita Ramayana.
3. PERLAYA DI PADANG KURUSETRA: MATI ATAS KEHENDAK SENDIRI
Di perang Bharatayudha, Bisma jadi panglima Kurawa selama 10 hari. Ia tidak bisa dibunuh karena punya anugerah icchamrityu: bisa memilih waktu mati. Ia tumbang bukan oleh Arjuna. Tapi oleh hujan panah Srikandi, yang dahulu lahir sebagai titisan Amba yang bersumpah membalas Bisma yang tanpa sengaja menculik Amba sehingga gagal-nikah.
Bisma tidak mati. Ia memilih rebah di atas "ranjang panah" selama 58 hari, menunggu posisi matahari uttarayana tiba. Sambil menunggu saat mati, Bisma mewariskan ceramah kebijakan tentang dharma, negara, dan etika kepada Pandawa dan Kurawa. Baru setelah itu ia menutup mata.
Ini puncak tragis. Bisma yang seumur hidup mengorbankan keinginannya, di akhir pun tetap memegang kendali diri. Ia mati bukan karena kalah, tapi karena "sudah waktunya". Ia mengubah kekalahan jadi guru terakhir Pandawa dan Kurawa.
Bisma Dewabrata adalah paradoks hidup. Ia penjaga keluarga, tapi tidak punya keluarga. Ia panglima perang, tapi membenci perang. Ia paling tahu dharma, tapi terikat sumpah yang membuatnya membela adharma. Akibat panah Srikandi, dia siap meninggalkan dunia fana ini. Di antaranya, ia berdiri sebagai jembatan antara kehendak pribadi dan kewajiban. Dan jembatan itu harus menahan beban berat dua kubu yang saling bunuh di padang Kurusetra.



KOMENTAR ANDA