Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan penting dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di New York. Pertemuan bilateral tersebut dilangsungkan secara tertutup di Gedung Turkevi (Turkish House) di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke-81, Rabu, 23 September 2026.
Meskipun pejabat resmi tidak membeberkan seluruh detail secara mendalam kepada publik, dialog ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan kedua negara bertetangga tersebut. Pertemuan ini berfokus pada penjajakan langkah-langkah konkret untuk memajukan proses normalisasi hubungan diplomatik.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Erdogan menekankan pentingnya menjaga momentum positif yang telah terbangun antara Ankara dan Yerevan. Ia juga menggarisbawahi dukungan Turki terhadap proses normalisasi bilateral, khususnya dalam bidang perdagangan dan peningkatan konektivitas transportasi.
Selain itu, Presiden Erdogan menyambut baik berbagai langkah resiprokal yang diambil dalam kerangka proses perdamaian di kawasan Kaukasus Selatan. Pertemuan tingkat tinggi ini turut dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan untuk mendampingi jalannya diplomasi strategis tersebut.
Hubungan antara Turki dan Armenia sendiri memiliki catatan sejarah panjang yang diwarnai ketegangan mendalam sejak jatuhnya kekaisaran dan dekade-dekade berikutnya. Salah satu titik api terbesar dalam sejarah modern kedua bangsa berkaitan dengan peristiwa tahun 1915 di masa Kekaisaran Ottoman, di mana Armenia menggolongkannya sebagai genosida, sebuah klaim yang secara konsisten ditolak oleh pihak Turki.
Ketegangan geopolitik kian memuncak ketika konflik bersenjata meletus antara Armenia dan Azerbaijan—sekutu dekat Turki—pada awal dekade 1990-an. Akibat Perang Nagorno-Karabakh Pertama yang pecah saat itu, Turki memutuskan untuk menutup perbatasan daratnya dengan Armenia pada tahun 1993.
Tidak hanya menutup perbatasan, Ankara juga secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dan komersial dengan Yerevan sebagai bentuk solidaritas terhadap kedaulatan Azerbaijan. Selama bertahun-tahun, perbatasan darat kedua negara tertutup rapat tanpa adanya jalur penerbangan langsung maupun interaksi resmi yang berarti.
Situasi mulai menunjukkan titik terang ketika Perang Nagorno-Karabakh Kedua berakhir pada tahun 2020, yang mengubah peta kekuatan geopolitik di kawasan regional. Pasca-konflik tersebut, Turki dan Armenia sepakat untuk menunjuk perwakilan khusus pada tahun 2021 guna merintis jalan pemulihan hubungan bilateral.
Sejak penunjukan perwakilan khusus tersebut, beberapa langkah pencairan eskalasi telah diwujudkan, termasuk pembukaan kembali penerbangan langsung serta dialog berkala. Pertemuan antara Erdogan dan Pashinyan di New York merupakan kelanjutan dari komitmen kedua negara untuk terus mengikis permusuhan masa lalu demi stabilitas kawasan yang lebih baik.



KOMENTAR ANDA