post image
KOMENTAR

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kembali menyiapkan jurus penyelamatan keuangan melalui penerbitan saham baru. Maskapai penerbangan milik negara ini berencana menggelar rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III sebagai bagian dari skema besar restrukturisasi perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Garuda berencana melepas sebanyak-banyaknya 124,35 miliar saham Seri E dengan nilai nominal Rp25 per saham. Meski jumlah lembar saham yang diterbitkan terbilang jumbo, manajemen belum membeberkan harga pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

"Harga pelaksanaan PMHMETD III akan ditetapkan dan diumumkan kemudian dalam prospektus," tulis manajemen Garuda Indonesia dalam pengumuman resminya.

Langkah rights issue ini menjadi muara dari rantai transaksi aset antar-BUMN. Aksi korporasi bermula dari pengalihan (inbreng) lahan milik PT Aviasi Pariwisata Indonesia (API) kepada anak usaha Garuda, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI). Transaksi tanah itu sempat menggerus porsi kepemilikan saham Garuda di GMFI, hingga posisi pemegang saham mayoritas beralih ke tangan API. Kendati demikian, Garuda mengklaim tetap memegang kendali atas emiten perbaikan pesawat tersebut.

Rangkaian transaksi tidak berhenti di situ. Sesuai skenario restrukturisasi, saham GMFI yang dikuasai API akan dialihkan secara berjenjang melalui skema pembagian dividen non-tunai (dividend in specie). Saham GMFI bernilai Rp5,66 triliun itu pertama-tama digeser dari API ke InJourney, sebelum akhirnya berlabuh di PT Danantara Asset Management (DAM).

RUPS API pada 26 Juni 2026 dan RUPS InJourney tiga hari berselang telah merestui skema pembagian dividen berupa saham tersebut. Transaksi efektif tinggal menunggu lampu hijau administratif serta persetujuan pelepasan dan penerimaan saham dari DAM.

Setelah saham GMFI resmi bertengger di portofolio DAM, institusi pemegang saham utama Garuda itu bakal menyetorkannya kembali ke Garuda sebagai modal non-tunai (inbreng) saat menyerap hak rights issue. Adapun porsi publik dalam rights issue tetap wajib disetor dalam bentuk tunai.

Manajemen Garuda memproyeksikan dana maupun aset hasil rights issue bakal dipakai untuk mengonsolidasi ulang kepemilikan saham GMFI. Sebagian sisa dana segar dari publik ditargetkan menopang modal kerja perseroan.

Langkah ini dipasang sebagai penyangga rencana transformasi jangka panjang maskapai plat merah tersebut. Sepanjang 2026, Garuda fokus menstabilkan dan memulihkan ketahanan operasional. Masuk tahun 2027 dan seterusnya, grup maskapai ini mengklaim bakal merombak struktur internal secara bertahap, mulai dari pembenahan sumber daya manusia, efisiensi proses bisnis, hingga penguatan kapabilitas digital.


Garuda eSIM Dapat Digunakan di 160 Negara

Sebelumnya

Kebenaran Cerita Pembajakan FlyDubai FZ1073 Diragukan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews