Oleh: Prof. Emir Mauludi Husni, Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup/Guru Besar Institut Teknologi Bandung
TUHAN menganugerahkan bumi dan segala isinya kepada manusia. Dari bumi kita memperoleh pangan, energi, obat-obatan, dan sumber ilmu pengetahuan tanpa batas. Namun anugerah itu datang bersama mandat. Alam semesta diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna, dan menjadi tugas manusia untuk menjaga keseimbangan itu pada saat memanfaatkannya.Keterbatasan ilmu sering membuat manusia lupa. Biasanya piawai memanfaatkan, tapi abai menjaga.
Pengingat paling fundamental datang dari Al-Qur'an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Ayat ini adalah fondasi Manifesto Inovasi untuk Lingkungan Hidup. Menjadi khalifah bukan berarti menjadi penguasa yang berhak mengeruk seenaknya, melainkan menjadi penjaga yang bertanggung jawab memastikan bumi tetap lestari setelah memanfaatkannya.
Bumi Adalah Satu Jaringan Raksasa
Bagaimana keseimbangan itu bekerja, dijelaskan dengan sangat indah oleh peneliti Jerman, Peter Wohlleben, dalam bukunya "The Secret Wisdom of Nature". Wohlleben menunjukkan bahwa bumi tidak terkotak-kotak. Ia adalah satu sistem ekologi raksasa yang saling mempengaruhi. Kehilangan satu rantai saja akan menimbulkan efek domino.
Ilustrasi paling memukau adalah kisah salmon dan beruang. Ikan salmon menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut lepas, menyerap nutrisi langka yang tidak ada di darat, terutama nitrogen dan fosfor laut. Saat hendak bereproduksi, salmon berenang melawan arus, menempuh ribuan kilometer kembali ke hulu sungai yang berada jauh di dalam hutan.
Di sana, beruang-beruang yang lapar telah menunggu. Salmon yang ditangkap dibawa beruang masuk lebih jauh ke dalam hutan, bangkainya ditinggalkan di antara pepohonan. Sisa bangkai dan kotoran beruang itu membusuk, nitrogen laut terurai dan diserap oleh akar-akar pohon.
Fakta ilmiah yang dikutip Wohlleben mencengangkan: hingga 80% nitrogen yang ditemukan pada pohon-pohon kuno seperti Cemara Sitka di dekat sungai salmon ternyata berasal dari laut, dibawa oleh salmon. Pohon-pohon itu tumbuh jauh lebih besar, kuat, dan cepat.
Sebagai balasannya, hutan yang sehat dan rimbun itu menaungi sungai agar airnya tetap sejuk dan bersih, akarnya menahan tanah dari longsor. Kondisi inilah yang mutlak dibutuhkan agar telur-telur salmon generasi berikutnya dapat menetas dengan selamat dan kembali menyuburkan plankton di laut. Siklus ini mengajarkan menjaga hutan berarti menjaga laut, menjaga laut berarti menjaga hutan. Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri.
Amanat Konstitusi dan Kearifan Lokal
Keseimbangan seringkali terganggu bukan karena ketidaktahuan, tapi karena keserakahan sekelompok manusia yang mengolah alam untuk keuntungan sendiri.
Indonesia sejak awal menolak paham itu. UUD 1945 Pasal 33 dengan tegas menyatakan, "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat." Alam bukan untuk dinikmati segelintir oligarki dalam sistem kapitalisme, melainkan untuk kemakmuran bersama.
Jauh sebelum pasal itu ditulis, kesadaran yang sama telah hidup dalam adat kita. Di Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenal filosofi Leuweung titipan. Filosofi yang dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Baduy, Kampung Naga, dan Kasepuhan ini bermakna: hutan adalah titipan anak cucu kita, seuweu siwi, adalah penerima amanah untuk terus menjaganya. Alam memiliki nilai sakral, bukan komoditas sesaat.
Pesan Al-Qur'an, UUD 1945, dan kearifan lokal bertemu pada satu titik yang sama.
Era Baru: Dari Homo Faber yang Merusak Menjadi Homo Faber yang Memulihkan
Manusia disebut sebagai homo faber, makhluk yang membuat alat. Insting inilah yang melahirkan teknologi dan era industri. Mesin-mesin diciptakan untuk memudahkan kerja, mengambil sumber daya alam dan mengolahnya demi memenuhi kebutuhan. Namun era itu pula yang meninggalkan luka paling dalam: deforestasi, krisis iklim, dan pencemaran yang masif.
Jika alamnya sudah berubah dan kesadaran akan keseimbangan paripurna telah kembali, maka teknologinya pun harus berubah. Inilah tantangan terbesar kita ke depan.
Manusia tidak lagi butuh teknologi yang hanya pintar menyelesaikan masalah hari ini dan menghasilkan keuntungan hari ini. Dibutuhkan teknologi berkelanjutan: teknologi yang sejak dalam desainnya sudah memikirkan dampaknya 20, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Teknologi yang tidak menghasilkan limbah, karena limbahnya adalah bahan baku untuk yang lain. Teknologi yang meniru cara kerja alam, bukan melawannya. Teknologi yang memberdayakan banyak orang, bukan memusatkan kekayaan pada segelintir orang.
Inilah esensi dari Manifesto Inovasi untuk Lingkungan Hidup: mengajak semua inovator, dari laboratorium kampus teknik hingga bengkel UMKM, untuk berikrar bahwa setiap baris kode, setiap mesin, dan setiap produk yang kita ciptakan harus menjadi bagian dari solusi pemulihan bumi.
Tidak dapat dipungkiri yang sudah terjadi sekarang ini, alam & bumi dikuras secara serakah utk kekayaan segelintir orang / kelompok. Kemajuan teknologi dikembangkan untuk menghasilkan kekayaan tanpa mengingat keberlanjutan alam dan segala isinya.
Saat ini menjadi momentun yang tepat untuk merubah tujuan, teknologi dikembangkan untuk keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di muka bumi dan alam semesta. Kekayaan alam diambil dan digunakan untuk keberlangsungan hidup manusia dan kelestarian alam.
Ini adalah kerja yang tidak mudah, tidak bisa dilakukan sendirian, dan tidak bisa ditunda. Harus dilakukan secara serentak di berbagai lini dan berkesinambungan. Karena pada akhirnya, manusia bukan pemilik bumi ini melainkan hanya penjaganya untuk generasi selanjutnya.



KOMENTAR ANDA