post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penguatan ekonomi belum sepenuhnya diikuti akselerasi daya beli masyarakat.

Tantangan lainnya terlihat pada sektor pertanian. Sektor yang menjadi sumber penghidupan jutaan rumah tangga di perdesaan ini hanya tumbuh 0,46% pada kuartal III-2026.

Di sisi lain, tekanan harga pangan juga masih perlu diwaspadai. Inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food pada Oktober 2026 mencapai 5,81%, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum yang sebesar 3,23%.

GREAT Institute menilai persoalan kesejahteraan tersebut merupakan tantangan struktural yang tidak muncul hanya dalam satu periode kuartal.

BPS sebelumnya mencatat jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Penurunan tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah dalam memperluas lapangan kerja produktif, meningkatkan pendapatan riil, serta memperkuat mobilitas ekonomi masyarakat agar semakin banyak rumah tangga dapat naik ke kelas menengah.

Karena itu, penguatan industri dan investasi pada 2026 perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan angka pertumbuhan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

GREAT Institute pertahankan proyeksi ekonomi 2026

Dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 5,45% hingga September 2026, GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 dalam kisaran 5,3%-5,6%.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,3%, ekonomi Indonesia membutuhkan pertumbuhan sekitar 4,86% pada kuartal IV-2026. Sementara itu, target pertumbuhan 5,4% membutuhkan laju pertumbuhan kuartal IV sebesar 5,25%.

Adapun untuk mencapai pertumbuhan tahunan 5,5%, ekonomi perlu tumbuh 5,64% pada kuartal IV. Sedangkan target batas atas proyeksi sebesar 5,6% membutuhkan pertumbuhan sekitar 6,03% pada periode yang sama.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa target pertumbuhan pada kisaran bawah hingga tengah proyeksi masih relatif realistis untuk dicapai. Namun, pencapaian batas atas membutuhkan akselerasi ekonomi yang lebih kuat pada akhir tahun.

GREAT Institute menilai terdapat tiga agenda penting yang perlu diperkuat pemerintah agar momentum pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut dan memberikan dampak yang lebih luas.

Pertama, memastikan ekspansi industri, hilirisasi, dan investasi semakin terhubung dengan pemasok domestik serta mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan formal dengan upah layak.

Kedua, meningkatkan produktivitas sektor pertanian sekaligus menjaga keterjangkauan harga pangan. Dengan demikian, kebijakan ekonomi kerakyatan dapat memberikan manfaat bagi petani sebagai produsen maupun masyarakat sebagai konsumen.

Ketiga, memastikan belanja pemerintah dan instrumen investasi negara mampu mendorong investasi produktif swasta melalui kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta pelaksanaan program yang efektif.

Ani mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47% menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi nasional sekaligus memberikan ruang optimisme terhadap keberlanjutan agenda Prabowonomics.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat melalui peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan penguatan daya beli.

"Pertumbuhan 5,47% memberikan jawaban positif di tengah keraguan banyak pihak terhadap ketahanan ekonomi kita. Momentum ini juga memberi dasar optimisme bagi kelanjutan agenda Prabowonomics. Kini pemerintah perlu menjawab pertanyaan berikutnya: apakah manfaat pertumbuhan itu benar-benar sampai ke rumah tangga?" ujar Ani.

"Angka yang tinggi akan lebih bermakna ketika masyarakat memperoleh pekerjaan yang lebih baik, harga pangan yang terjangkau, dan semakin banyak keluarga mampu naik menjadi kelas menengah," tutupnya.


Membedah Kejanggalan Pertumbuhan 5,47 Persen

Sebelumnya

Gede Sandra: Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Berada di Kisaran 5,4 Persen

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekbis