Perusahaan migas Prancis, Maurel & Prom (M&P), yang sebagian besar sahamnya dimiliki PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) belum berencana untuk melakukan kegiatan eksplorasi dalam waktu dekat setelah pergantian rezim di Venezuela.
Saat ini, M&P masih fokus mengamankan aset serta menjaga produksi di Venezuela.
M&P yang memiliki kantor pusat di Paris dan terdaftar di lantai bursa Euronext Paris melakukan eksploitasi minyak dan gas di sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin. Sejak tanggal 16 Februari 2017 mayoritas saham M&P, sebesar 71%, dipegang PIEP yang bertekad menjadikan perusahaan ini sebagai platform pengembangan aktivitas hulu minyak dan gasnya di luar Indonesia.
Manager Relation PIEP Dhaneswari Retnowardhani menjelaskan pengamanan aset dan upaya menjaga produksi tersebut dilakukan M&P sembari memantau kondisi di Venezuela pascainvasi yang dilakukan Amerika Serikat (AS).
“Saat ini M&P belum memiliki rencana baru terkait kegiatan eksplorasi di Venezuela. Perusahaan fokus pada pengamanan aset serta menjaga produksi sambil terus memantau kondisi di Venezuela,” kata Dhaneswari, Jumat, 9 Januari 2026.
Dengan demikian, Dhaneswari menekankan bahwa operasional M&P di Venezuela tak mengalami gangguan dalam serangan yang dilancarkan AS pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026.
Meskipun tak mengungkapkan data produksi terkini, dia menyatakan operasional dan produksi M&P di Venezuela berjalan normal.
“Tidak berdampak operasional ke aset M&P. Saat ini kondisi operasional dan produksi tetap berjalan normal,” kata Dhaneswari seperti dikutip dari Bloomberg Technoz.
PIEP memiliki 40% saham Petroregional del Lago lewat M&P. Petroregional merupakan usaha patungan yang mengoperasikan lapangan minyak Urdaneta Oeste di Danau Maracaibo, Venezuela.
Setelah menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, Presiden AS Donald Trump sempat mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat (AS) mungkin akan menyubsidi upaya perusahaan energi untuk membangun kembali industri minyak Venezuela.
Hal itu diwacanakan setelah pemerintahannya berupaya meyakinkan perusahaan migas untuk berinvestasi di negara tersebut, beberapa hari setelah menggulingkan Presiden Nicolás Maduro.
Dalam perkembangannya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
Dia menegaskan bahwa minyak tersebut akan dijual, di mana hasilnya akan memberikan keuntungan bagi kedua pihak.
“Saya dengan bangga mengumumkan bahwa Otoritas Interim di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 Juta barel minyak berkualitas tinggi yang terkena sanksi kepada Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahannya di media sosial, Selasa, 6 Januari 2026.
“Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang tersebut akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan dana tersebut digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tambah Trump.
Adapun, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia pada 2023 sebesar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak mentah dunia.
Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak mentah yang dimiliki negara-negara Timur Tengah.
Berdasarkan data tersebut, produksi minyak Venezuela sempat berada di sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2011 hingga 2014, sebelum akhirnya menurun ke 2,5 juta juta barel per hari pada 2015.
Lalu, pada 2016 produksi minyak mentah Venezuela tercatat sebanyak 2,3 juta barel per hari, 2017 sebesar 2,06 juta barel per hari, 2018 1,5 juta barel per hari.
Kemudian, memasuki 2019 produksi minyak Venezuela berada di bawah 1 juta barel per hari yakni 928.000 barel per hari.


KOMENTAR ANDA