Oleh: Dahlan Iskan, Wartawa Senior
KHAS anak muda. Wali Kota Zohran Mamdani terus bergerak. Pun di pagi-pagi sebelum jam kerja.
Di hari pertama minggu keduanya, Zohran masih terus menabung simpati: menunjuk pejabat komisioner bidang media dan hiburan yang sangat kompeten. Hampir setiap hari ia mengumumkan siapa pejabat tinggi baru di New York. Semuanya kompeten. Tidak ada yang tidak kompeten.
Yang ditunjuk di bidang industri kreatif ini adalah Rafael Espinal. Zohran mengumumkannya di salah satu pusat industri kreatif di Brooklyn. Di Samson Stages, sebuah studio produksi terkenal.
Anda sudah tahu siapa Rafael: masih tergolong muda, 41 tahun. Ia presiden serikat buruh bebas –serikat buruh untuk para pekerja mandiri. Mereka umumnya pekerja kreatif –yang tidak punya juragan.
Target Zohran: New York kian sukses menjadi basis industri kreatif tapi tetap terjangkau untuk tempat tinggal para pelakunya.
Nama Rafael melejit sejak muda. Sebelum umur 30 sudah menjadi anggota DPRD negara bagian New York –dari dapil Brooklyn. Lalu menjadi anggota DPRD kota New York. Di sinilah Rafael top: berjuang keras mencabut Perda Kabaret. Berhasil. Tahun 2017 Perda itu dicabut. Kalau tidak, tahun ini UU lokal itu berumur 100 tahun.
Bagi orang kota sebesar New York, UU itu memang dianggap sangat terlalu kuno. Bahkan rasialis. Juga dianggap penindasan.
Dari UU anti joget itulah terlahir pemberontakan kultural dari orang miskin New York: musik hip hop. Kalau ada yang menyebut hip hop adalah musik pemberontakan, yang diberontak adalah UU anti joget itu.
Inti dari UU itu: joget dilarang!
Kota sebesar New York melarang joget. Kalau larangan serupa ada di Indonesia, dangdut langsung bangkrut! Tidak akan lahir Haji Rhoma dan pengebor terkemuka seperti Inul Daratista.
Sebenarnya di New York joget boleh. Disebut dansa. Tapi harus berizin. Izin itu yang dipersulit. Juga dibuat mahal. Maka orang kecil tidak lagi punya arena joget.
UU itu lahir enam tahun setelah Konstitusi Amerika melarang minuman beralkohol: 1926. Bedanya: UU anti alkohol (1920) masuk dalam Konstitusi Amerika. Berlaku secara nasional. Sedang UU anti joget hanya berlaku di kota New York –ditiru di beberapa kota lainnya saja.
Konstitusi anti alkohol sendiri hanya berlaku selama 13 tahun. Di tahun 1933 dilakukan amandemen ke-2. Setelah itu larangan memproduksi, mengangkut, menjual, dan menyajikan minuman beralkohol dicabut.
Anti joget jalan terus di New York. Sampai ada meme di sana: kalau sedang makan di restoran jangan goyang-goyangkan kepala. Bisa ditangkap polisi.
Beberapa restoran di sana sampai memasang pemberitahuan ini: Tidak Diperkenankan Joget –No Dancing Allowed.
Umumnya orang kulit hitam tidak bisa tidak goyang. Seperti Anda: begitu dengar lagu ''Zainal'' pantat pun karujutan.
Saya pernah senam-joget bersama ibu-ibu muda Subang. Tiga bulan lalu. Begitu sampai pada lagu ''Zainal'' saya justru sampai berhenti ikut gerakan mereka: ampuuun. Seksi dan menggemaskan. Sampai Nicky, tim pelatih senam kami dari Surabaya saya minta meng-copy-nya.
Kami pun kini rutin ketularan memutar 'Zainal' lengkap dengan gerakannya --mungkin hanya mampu menirukan 70 persen yang di Subang.
Jazz juga seperti ''Zainal'' –begitu mulai terdengar ada irama jazz pundak pun bergerak-gerak.
Waktu UU anti joget lahir di New York aliran musik jazz sudah mulai melanda Amerika. Termasuk melanda Brooklyn yang termiskin di dunia –dunia New York. Maka ada yang menganalisis jazz-lah yang sebenarnya disasar oleh UU itu.
Jazz, kala itu, hanya mampu tampil di pub-pub kecil. Begitu ada UU anti joget mereka kesulitan. Tidak kuat urus izin.
Saya tidak tahu persisnya. Saya harus bertanya ke Perusuh Disway seperti Liang nun di Skandinavia sana.


KOMENTAR ANDA