Geopolitik global sedang bergeser dari unipolaritas ke multipolaritas yang tidak stabil, ditandai dengan persaingan AS-China yang tajam, kebangkitan kekuatan revisionis, dan melemahnya aliansi tradisional.
Oleh: Hendra Manurung, Dosen Universitas Pertahanan RI
PEMIIHAN kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode 2024-2028, meskipun masih hipotesis dalam konteks penulisan ini, diproyeksikan akan mengakselerasi transformasi mendalam dalam tata kelola global.
Periode pertama kepemimpinannya (2017-2021) telah menandai pergeseran dari orde liberal internasional pasca-Perang Dingin ke arah pendekatan yang lebih transaksional, unilateral, dan berorientasi "America First". Periode kedua berpotensi mengonsolidasi dan mengintensifkan tren ini, bertepatan dengan dunia yang semakin terfragmentasi menjadi blok-blok kekuatan yang bersaing.
Geopolitik global sedang bergeser dari unipolaritas ke multipolaritas yang tidak stabil, ditandai dengan persaingan AS-China yang tajam, kebangkitan kekuatan revisionis, dan melemahnya aliansi tradisional. Makalah ini akan menganalisis arah kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump hipotetis (2024-2028), dinamika hubungan dengan sekutu dan rival strategis, implikasinya terhadap stabilitas kawasan, serta peran strategis Indonesia dalam menghadapi perubahan geopolitik yang penuh gejolak ini.
Arah Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat di Bawah Kepemimpinan Donald Trump (2024-2028)
Kebijakan luar negeri Trump periode kedua diperkirakan akan melanjutkan, namun mungkin dengan varian yang lebih radikal, dari doktrin inti "America First". Prinsip ini menempatkan kepentingan ekonomi, keamanan, dan kedaulatan domestik AS di atas komitmen multilateral dan nilai-nilai demokrasi universal (Walt, 2018). Beberapa pilar kebijakan yang mungkin menonjol adalah:
1. Transaksionalisme dalam Aliansi
Trump kemungkinan akan terus menekankan bahwa sekutu harus membayar lebih untuk keamanan yang diberikan AS, baik melalui peningkatan belanja pertahanan (target 2% GDP NATO) maupun pembayaran langsung untuk penempatan pasukan. Pendekatan ini berisiko merusak fondasi normatif dan timbal balik dari aliansi seperti NATO, serta merenggangkan hubungan dengan Jepang dan Korea Selatan di Asia (Dueck, 2020). Aliansi akan dilihat semata-mata sebagai kesepakatan bisnis, bukan sebagai kemitraan strategis didukung nilai bersama.
2. Unilateralisme dan Skeptisisme terhadap Institusi Multilateral
AS diperkirakan akan terus menarik diri atau membatasi partisipasi dalam organisasi internasional dan perjanjian multilateral yang dianggap merugikan kedaulatannya. Keluarnya Paris Agreement, WHO, atau ancaman keluar dari NATO pada periode pertama mungkin diperluas ke forum lain. Trump mungkin juga akan lebih agresif menggunakan instrumen kekuatan unilateral seperti sanksi ekonomi, tarif, dan campur tangan ekonomi untuk memaksa perubahan perilaku negara lain (Patrick, 2020).
3. Persaingan dengan China Lebih Tegas namun Terputus-putus
Meski kedua partai di AS (Demokrat & Republik) sepakat pada persaingan dan rivalitas strategis (strategic and rivalries competition) dengan China, pendekatan Trump cenderung lebih terfokus pada defisit perdagangan dan isu-isu ekonomi langsung daripada perebutan pengaruh sistemik dan nilai.
Kebijakan ini mungkin didominasi oleh perang tarif besar-besaran, upaya dekoupling teknologi selektif, dan tekanan pada perusahaan AS untuk memulangkan rantai pasok. Namun, pendekatan ini mungkin kurang konsisten dan lebih mudah diprediksi dibandingkan pendekatan yang lebih terstruktur, berpotensi menciptakan ketidakpastian tinggi (Allison, 2020).
4. Pendekatan Transaksional dalam Diplomasi
Trump dikenal menyukai diplomasi puncak langsung dan negosiasi personal dengan pemimpin kuat, seperti yang terlihat dalam berinteraksi dengan Kim Jong-un dan Vladimir Putin.
Pada periode kedua, pendekatan ini kemungkinan diimplementasikan untuk penyelesaian konflik seperti Perang Rusia-Ukraina atau ketegangan dengan Iran, dengan risiko mengorbankan kepentingan sekutu atau prinsip-prinsip internasional untuk mencapai kesepakatan yang terlihat besar (Haass, 2020).
Dinamika Hubungan dengan Sekutu dan Rival Strategis
Dinamika relasi AS di bawah Trump akan sangat dipengaruhi oleh logika transaksional dan persaingan blok.
1. Sekutu Tradisional: NATO, Jepang, Korea Selatan (Traditional Allies)
Hubungan ini berpotensi akan diliputi ketegangan dan ketidakpastian. Sekutu Eropa, khususnya Jerman dan Prancis, akan semakin mempertanyakan ketergantungan mereka pada AS dan mempercepat agenda otonomi strategis Eropa, termasuk dalam pertahanan (Biscop, 2020). Di Asia Timur, meskipun Jepang dan Korea Selatan mungkin meningkatkan belanja pertahanan, mereka juga akan terdorong untuk diversifikasi strategis, memperdalam kerja sama intra-kawasan, dan bersikap lebih hati-hati dalam menyeimbangkan hubungan AS-China. Kepercayaan pada jaminan keamanan AS akan berkurang.
2. China
Hubungan akan tetap menjadi persaingan strategis terpenting abad ini. Kebijakan Trump akan memperdalam pola permusuhan dan persaingan teknologi-ekonomi. Namun, kurangnya koordinasi dengan sekutu dapat membuat tekanan AS terhadap China menjadi kurang efektif. Potensi kerja sama terbatas di isu-isu tertentu (seperti iklim atau non-proliferasi) akan sangat minim.
Risiko konflik tidak disengaja di Laut China Selatan atau Selat Taiwan bisa meningkat karena komunikasi yang buruk dan postur militer yang tegas dari kedua belah pihak (Swaine, 2021).


KOMENTAR ANDA