post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Para calon jemaah umrah dihimbau untuk menunda keberangkatan demi keselamatan dan keamanan dalam perjalanan. Sementara itu, jemaah yang sudah berada di Tanah Suci juga mengalami kesulitan untuk kembali ke Indonesia disebabkan penerbangan kepulangan mereka dibatalkan. Ketidakpastian ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil bagi jemaah dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), tetapi juga berdampak psikologis dan menciptakan kekhawatiran di masyarakat.

Respons Pemerintah dan Strategi Mitigasi. Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian terkait telah bergerak cepat untuk menyusun langkah-langkah mitigasi. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan organisasi pariwisata dunia (UN Tourism) (Pratama, 2026).

Strategi utama yang diambil adalah melakukan reposisi pasar dengan memperkuat promosi pariwisata di kawasan Asia dan Pasifik. Langkah ini dinilai strategis sehubungan data kunjungan wisman pada tahun 2025 menunjukkan bahwa lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, yaitu Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.

Selain itu, negara-negara seperti India, Jepang, dan Korea Selatan juga menjadi target pasar potensial yang dapat diandalkan di tengah krisis. Ditekankan pentingnya bertahan dengan mengandalkan pasar domestik, meskipun hal ini masih terkendala oleh efisiensi anggaran berbagai kementerian dan lembaga.

Sedangkan dari sisi konektivitas, gangguan operasional penerbangan relatif kecil dikarenakan banyak turis yang mulai melakukan penyesuaian rute melalui hub alternatif di Asia seperti Malaysia, Singapura, dan Hong Kong.

Pemerintah pusat juga terus berkoordinasi dengan maskapai penerbangan untuk mencari solusi terbaik bagi penumpang yang terdampak pembatalan. Sementara itu, untuk mengamankan pasokan energi dan menstabilkan harga, pemerintah telah memastikan pasokan minyak dari luar Timur Tengah, termasuk melalui nota kesepahaman (MoU) Pertamina dengan perusahaan-perusahaan energi asal AS seperti Chevron dan Exxon.

Konflik AS dan Israel versus Iran pada Februari 2026 telah memberikan dampak yang kompleks dan signifikan terhadap tumbuh kembang sektor pariwisata Indonesia. Dampak utama berupa gangguan terhadap konektivitas penerbangan internasional akibat penutupan ruang udara dan pembatalan jadwal oleh maskapai penerbangan Timur Tengah.

Hal ini secara langsung menyebabkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa yang sangat bergantung pada hub di kawasan Teluk, serta wisatawan asal Timur Tengah. Dampak ikutan lainnya seperti kenaikan harga avtur dan tiket pesawat, serta terhambatnya perjalanan ibadah umrah, semakin memperberat tekanan pada industri ini. Bali, sebagai barometer pariwisata nasional, telah merasakan dampak dengan penurunan ratusan kunjungan setiap harinya.

Menghadapi situasi ini, pemerintah Indonesia bersama para pemangku kepentingan industri pariwisata bergerak cepat dengan melakukan strategi mitigasi. Fokus utama diarahkan pada penguatan pasar pariwisata domestik dan regional Asia yang dinilai lebih stabil, sambil terus memantau dinamika geopolitik global.

Ke depan, ketahanan sektor pariwisata Indonesia dalam menghadapi krisis serupa akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mendiversifikasi pasar, serta membangun konektivitas yang tidak hanya bertumpu pada satu kawasan.

Konflik ini menjadi pengingat, pariwisata adalah sektor yang rentan terhadap gejolak geopolitik internasional, sehingga diperlukan strategi adaptif dan kolaborasi erat diantara pemerintah, industri, dan masyarakat untuk dapat bertahan dan bangkit kembali.

Penulis:

1. Hendra Manurung, Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)

2. Oktaheroe Ramsi, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)


Dilema APBN 2026: Terjepit Utang dan Kejutan Harga Minyak

Sebelumnya

Dubes Djauhari Oratmangun Menyapa WNI di Changsha, Tidak Mau Hanya Menunggu di Beijing

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Indonesiana