Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.
Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.
Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.
"Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini," ujar Rizal.
"Berangkat dari Balikpapan jam berapa?"
"Jam empat pagi," jawabnya.
Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.
Lantaran masjid di lantai tiga masih diperbaiki, kami salat duhur di lantai dasar. Karpet dan mihrabnya dibuat seperti masjid permanen. Padahal lantai dasar itu awalnya untuk ruang serbaguna –misalnya untuk kawinan atau seminar besar.
Rasanya perbaikan masjid ini memakan waktu lama. Perkiraan saya sendiri akan memakan waktu dua tahun: kalau hasilnya mau bagus. Perbaikannya pun harus total. Utamanya finishingnya. Agar tidak lagi kasar seperti bangunan asal-asalan.
Pun tempat wudunya. Sangat tidak mencerminkan Masjid Negara.
Tempat wudunya jangan dibandingkan dengan Masjid Jokowi di Solo –yang dibangun dengan dana dari Sultan Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), presiden Uni Emirat Arab.
Jaraknya langit dan bumi --mungkin lebih jauh lagi: langit dan sumur.
Apalagi kalau dibandingkan dengan Masjid Al Jabbar di Jabar –tepatnya di Bandung. Kalah jauh. Jangan-jangan kalah juga dibanding Masjid Raya di Islamic Center Samarinda.
Mungkin setelah perbaikan kelak akan berubah total. Mungkin juga tidak. Dengan begini saja sudah banyak pengunjung yang puas –karena mungkin belum pernah melihat Masjid Jokowi di Solo.
"Sebagai orang yang merancang masjid itu apakah Anda tidak ikut mengawasi finishing-nya?," tanya saya pada Nyoman Nuarta, arsitek yang juga memenangkan desain Istana Garuda IKN.
"Parah," jawab Nyoman Nuarta. Rupanya ia juga sangat tidak.puas. "Saya tidak ikut mengawasi," tambahnya.
Sebenarnya ini salah saya: mengapa ke IKN sekarang. Tidak, misalnya, tiga tahun lagi, setelah perbaikan dilakukan.
Setelah salat duhur saya disapa lima anak muda bersorban rapi dan bersih. Mereka adalah imam dan khotib Masjid Negara. Ada yang dari Istiqlal Jakarta, ada juga yang dari Balikpapan dan Makassar. Mereka lolos seleksi yang dilakukan di Istiqlal.
"Itu bangunan apa?" tanya saya saat melihat-lihat belakang masjid.
"Itu gereja Katolik," ujar seorang petugas masjid. Tidak ada yang istimewa. "Tapi kalau dilihat dari atas berbentuk salib," katanya.
Gereja ini juga baru sekali dipakai misa –dalam rangkaian Paskah kemarin.
Kelak akan dibangun juga gereja Protestan, vihara Buddha, klenteng Konghucu, dan pura Hindu. Semua di satu kawasan seluas 36 hektare ini.
Masjid Negara kelihatannya dikerjakan dengan cara ''kejar tayang''. Tapi salat di situ atau di masjid MBZ maupun di Masjid Al Jabbar sebenarnya sama saja: sama-sama jauh dari langit.




KOMENTAR ANDA