post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SAYA pengagum tulisan-tulisan Sigmund Freud yang menurut selera saya jauh lebih enak dibaca ketimbang tulisan-tulisan Karl Marx. Namun secara subyektif saya tidak setuju semua ajaran Sigmund Freud terutama yang cenderung konsepsual menggeneralisasikan kasus-kasus kontekstual terkait lingkungan sosial dan kebudayaan.

Di sini secara subyektif pula saya merasa lebih nyaman pada pemikiran Alfred Adler yang terungkap pada teori psikologi individual. Dapat dikatakan bahwa Alfred Adler berada di tengah dua tokoh ekstrim seperti Sigmund Freud ke arah generalisasi psikoanalisa dan Carl Gustav Jung ke arah mistisme arketipus.

Alfred Adler dilahirkan di Austria dan wafat di Skotlandia adalah seorang dokter medis, psikoterapis , dan pendiri aliran psikologi individual .   Penekanannya pada pentingnya perasaan memiliki, hubungan dalam keluarga, dan urutan kelahiran membedakannya dari Freud dan orang lain dalam lingkaran mereka.

Ia mengusulkan bahwa berkontribusi kepada orang lain (“minat sosial” atau Gemeinschaftsgefühl) adalah bagaimana individu merasakan rasa berharga dan memiliki dalam keluarga dan masyarakat.

Karyanya yang lebih awal berfokus pada inferioritas, menciptakan istilah “kompleks inferioritas”, elemen yang mengisolasi yang menurutnya memainkan peran kunci dalam perkembangan kepribadian. (Meski sebagai warga Jawa yang menganut paham Ojo Dumeh, saya pribadi merasa  ada kesenjangan sukma antara “inferiory complex” dengan kerendahan hati versi kearifan Jawa).

Adler menganggap manusia sebagai individu secara keseluruhan, dan karena itu ia menyebut aliran psikologinya sebagai “psikologi individual”. 

Adler adalah orang pertama yang menekankan pentingnya unsur sosial dalam proses penyesuaian kembali individu dan membawa psikiatri ke dalam masyarakat. Survei Review of General Psychology, yang diterbitkan pada tahun 2002, menempatkan Adler sebagai satu di antara para psikolog paling terkemuka di abad ke-20.

Adler adalah satu di antara para tokoh paling berpengaruh dalam sejarah psikologi, dan ide-idenya tentang psikologi individual telah mempengaruhi banyak bidang, termasuk psikologi positif.

Kaitan antara psikologi individual Adler dan psikologi positif antara lain:

1. Fokus pada kekuatan: Adler menekankan pentingnya fokus pada kekuatan dan kemampuan individu, bukan hanya pada kelemahan dan kekurangan. Ini juga merupakan prinsip dasar Psikologi Positif.

2. Orientasi pada masa depan: Adler percaya bahwa individu harus fokus pada masa depan dan tujuan mereka, bukan hanya pada masa lalu. Psikologi Positif juga menekankan pentingnya orientasi pada masa depan dan tujuan.

3. Pentingnya hubungan sosial: Adler menekankan pentingnya hubungan sosial dan komunitas dalam meningkatkan kesejahteraan individu. Psikologi Positif juga menekankan pentingnya hubungan sosial dan komunitas.

4. Kemampuan untuk berubah: Adler percaya bahwa individu memiliki kemampuan untuk berubah dan meningkatkan diri mereka sendiri. Psikologi Positif juga menekankan pentingnya kemampuan untuk berubah dan meningkatkan diri. Namun menurut saya : kemampuan mustahil diwujudkan jika tidak ada kemauan.

Tokoh-tokoh Psikologi Positif yang dipengaruhi oleh Adler antara lain:

  1. Abraham Maslow pendiri Psikologi Positif, dipengaruhi oleh ide-ide Adler tentang psikologi humanistik dan kebutuhan dasar manusia.
  2. Martin Seligman pengembang Psikologi Positif, dipengaruhi oleh ide-ide Adler tentang kekuatan dan kemampuan individu.
  3. Christopher Peterson satu di antara para tokoh Psikologi Positif, dipengaruhi oleh ide-ide Adler tentang kekuatan dan kemampuan individu.

Meski saya sangat setuju niat sasaran Psikologi Positif namun bagi saya, khusus predikat “positif” terkesan agak arogan sembari egosentrik sebab rawan menimbulkan dampak logika bahwa aliran psikologi lain-lainnya adalah “negatif” belaka.

 


Sungai Melahirkan Peradaban

Sebelumnya

Penangkapan Dua Komentator Pidato Presiden

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana