Buku pelajaran masih terbuka di tangan mereka. Dalam hitungan menit, ruang belajar berubah menjadi ruang kematian.
Oleh: Tommy Tamtomo, Wakil Ketua, Pusat Studi Air Power Indonesia.
PADA 28 Februari 2026, sebuah rudal menghantam sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran. Atap runtuh, kelas-kelas terkubur, dan puluhan anak perempuan tertimpa reruntuhan. Tas sekolah masih tertutup. Buku pelajaran masih terbuka di tangan mereka. Dalam hitungan menit, ruang belajar berubah menjadi ruang kematian.
Pada saat itu, panglima tertinggi adalah Donald Trump. Dunia menunggu sesuatu yang sederhana namun mendasar: pengakuan, empati, atau sekadar bahasa kemanusiaan untuk anak-anak yang telah mati.
Yang muncul bukan itu.
Bukan duka. Bukan kemarahan. Bukan bahkan bahasa dingin militer tentang “kerusakan tambahan.” Yang muncul adalah penyangkalan, pengalihan, dan ketiadaan.
Ia tidak menyebut nama mereka. Ia tidak menyebut kata “anak-anak.” Ia tidak menjanjikan penyelidikan. Ia berpindah ke topik lain.
Itulah inti masalahnya.
Seorang pemimpin, bahkan yang paling keras sekalipun, memahami bahwa kematian anak-anak menuntut bahasa. Ada ritual minimal kemanusiaan: menyebutnya tragedi, menjanjikan akuntabilitas, atau setidaknya berpura-pura terguncang. Tanpa itu, kekuasaan berubah menjadi mesin, dingin, steril, dan bebas dari konsekuensi moral.
Di Minab, yang terlihat bukan sekadar keputusan militer, tetapi pola psikologis: menghapus korban dari narasi.
Dan di titik ini, jahitannya menjadi jelas.
Ini adalah sifat yang kita kenal pada ISIS
Sebuah pola yang oleh banyak laporan digambarkan sebagai penggunaan kekerasan ekstrem, teror terhadap warga sipil, dan dehumanisasi sistematis, mulai dari eksekusi brutal, mutilasi, hingga eksploitasi manusia sebagai alat strategi.
Dalam logika ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai individu, tetapi sebagai objek: angka, pesan, atau instrumen tekanan.
ISIS mempertontonkan kekejamannya secara terbuka, memenggal, membakar, menyalib, dan bahkan menampilkan tubuh korban untuk menanamkan rasa takut.
Mereka juga menggunakan warga sipil sebagai perisai, menjadikan yang lemah sebagai alat dalam permainan kekuasaan.
Namun inti terdalamnya bukan pada metode, melainkan pada mentalitas.
Dehumanisasi
Penghapusan empati.
Kemampuan untuk melihat kematian anak-anak tanpa jeda batin.
Ketika sifat itu muncul dalam bentuk yang kasar dan teatrikal, dunia langsung mengenalinya sebagai teror. Tetapi ketika sifat yang sama muncul dalam bentuk yang dingin, birokratis, dan penuh penyangkalan, ia menjadi lebih berbahaya, karena tampak normal.
Di situlah perkerasannya.
Bukan sekadar kemiripan.
Melainkan refleksi karakter: ketiadaan empati yang sama, hanya dengan cara tampil yang berbeda.




KOMENTAR ANDA