post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

IMAM Hoja tersohor atas kemampuan bermain dengan logika yang pada hakikatnya merupakan unsur dasar apa yang kini disebut sebagai humor. Istilah kini perlu ditegaskan sebab definisi humor dahulu sama sekali beda dengan kini.

Satu di antara sekian banyak monumen tentang Imam Hoja adalah sebuah patung yang menampilkan Imam Hoja duduk terbalik arah di atas seekor keledai. Ketika orang-orang bertanya mengapa ia duduk terbalik, Imam Hoja menjawab: "Bukan aku yang duduk terbalik, tapi keledaiku yang menghadap ke arah yang salah".

Ini adalah cara Imam Hoja menunjukkan bahwa perspektif seseorang dapat mengubah cara melihat kenyataan.

Alkisah penguasa Mongol, Timur Lenk  memberi hadiah kepada Imam Hoja seekor keledai. Timur Lenk berpesan kepada Imam Hoja, ”Ajari keledai itu membaca. Nanti setelah dua minggu datanglah kemari. Aku akan melihat seberapa jauh keledai itu dapat membaca.”

Dua minggu berlalu, Imam Hoja kembali bersama sang keledai ke istana Timur Lenk.

Ketika bertemu Timur Lenk langsung menunjuk sebuah buku besar. Imam Hoja kemudian menuntun keledai itu mendekati buku tersebut. Kemudian Imam Hoja membuka sampul buku itu. Terlihat keledai menatap buku itu lalu dengan lidahnya mulai membalik halamannya.

Selanjutnya setiap halaman dibalik hingga akhir. Setelah selesai keledai menatap Imam Hoja.

“Demikianlah. Saat ini keledaiku sudah bisa membaca,” kata Imam Hoja dengan tenang.

Timur Lenk bertanya kepada Imam Hoja dengan penuh selidik, “Bagaimana engkau mengajari keledai itu membaca ?”

“Gampang tuanku. Sesampainya keledai itu di rumah, aku mempersiapkan-lembaran besar yang mirip buku. Namun didalamnya aku sisipkan biji-biji gandum. Keledai kemudian harus belajar membalik-balik halaman demi halaman agar bisa memakan biji-biji gandum itu. Hal tersebut dilakukan berkali kali hingga terlatih betul untuk membalik-balik halaman.”

Timur Lenk bersungut-sungut. “Tapi, Bukankah keledai itu tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

“Itu cara keledai membaca. Ia hanya bisa membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya maka kita disebut setolol keledai,” kata Imam Hoja.

Imam Hoja keliling kota sambil berteriak-teriak memanggil-manggil nama keledainya kemudian bersujud sambil mengucap syukur, kemudian kembali berteriak-teriak sebelum kembali bersujud mengucap syukur untuk kembali berteriak-teriak dan selanjutnya berulang kembali bersyukur.

Ketika ditanya kenapa dia bersikap aneh begitu, Imam Hoja menjawab bahwa keledainya menghilang entah ke mana. Namun dia bersyukur sedang tidak naik keledainya maka dia tidak ikut menghilang bersama keledainya.

Konon pada suatu siang hari sambil bersungut-sungut Imam Hoja hilir mudik mencari sesuatu di luar rumahnya. Ketika para tetangga apa yang sedang dilakukan Imam Hoja ketus menjawab, “Aku mencari kunci rumahku yang hilang”.

“Di mana kunci itu kau letakkan?”

“Di dalam rumah tetapi di dalam rumah gelap gulita, maka aku mencari kunci sialan itu di luar rumah yang jauh lebih terang benderang.”

Imam Hoja mengaku dirinya sering bertemu Allah, maka orang-orang bilang bahwa Imam Hoja pembohong. Imam Hoja membantah bahwa mustahil Allah mau bertemu dengan pembohong.

Imam Hoja juga membantah tuduhan bahwa dirinya berdoa sambil mabuk sebab yang benar adalah dia mabuk sambil berdoa.

Akhirul kata, Imam Hoja mengaku bahwa semula dia tidak percaya takdir namun akhirnya dia mengaku percaya takdir sebab jika dia tidak percaya takdir berarti takdir dirinya adalah tidak percaya takdir.

Segenap indikasi itu membuktikan bahwa pada hakikatnya Imam Hoja memang gemar dan piawai bermain dengan logika.


Kritik Terhadap Teori Empat Temperamen

Sebelumnya

Planet Buma Kembaran Planet Bumi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana