Detail baru yang dirilis oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat mengungkap momen-momen terakhir di dalam kokpit pesawat kargo UPS Airlines sebelum jatuh di Louisville, Kentucky. Kecelakaan tragis yang melibatkan pesawat jenis McDonnell Douglas MD-11 ini terjadi sesaat setelah lepas landas dan merenggut nyawa 15 orang, termasuk ketiga pilot di dalamnya.
Informasi tersebut dibuka dalam sidang investigasi dua hari di Washington, D.C., yang berfokus pada penyebab kegagalan struktural pesawat.
Berdasarkan laporan resmi NTSB, penerbangan UPS dengan nomor penerbangan 2976 tersebut sedianya dijadwalkan terbang menuju Honolulu, 4 November 2025. Namun, sebuah keputusan mendadak di menit-menit terakhir memaksa kru untuk bertukar pesawat sebelum keberangkatan. Pergantian ini dilakukan setelah pesawat utama yang dijadwalkan sebelumnya ditemukan mengalami kebocoran bahan bakar saat pemeriksaan pra-penerbangan dan dinyatakan tidak laik terbang oleh tim teknisi.
Keputusan penunjukan pesawat pengganti bernomor registrasi N259UP ini kini menjadi fokus utama penyelidikan. Sebelum terbang, suasana di landasan pacu sempat diwarnai gurauan ringan antara kru pesawat dan pengawas muatan kargo. Petugas relief officer sempat bercanda bahwa mereka "bertemu lagi" karena harus melakukan prosedur walk-around atau pengecekan ulang di luar pesawat pengganti tersebut setelah batal menggunakan pesawat pertama.
Namun, keceriaan itu berubah menjadi petaka beberapa detik setelah pesawat melakukan rotasi untuk lepas landas dari Bandara Internasional Muhammad Ali Louisville (SDF). Data penerbangan dan rekaman audio menunjukkan bahwa pesawat mengalami kegagalan struktural yang katastrofik. Mesin bagian kiri beserta dudukan penyangganya (pylon) terlepas sepenuhnya dari sayap pesawat, memicu kepanikan luar biasa di dalam kokpit.
Rekaman video pengawas bandara yang diputar dalam persidangan memperlihatkan momen mengerikan saat mesin kiri terlepas sebelum pesawat menukik tajam dalam posisi yang tidak bisa dikendalikan. Di dalam kokpit, perekam suara (CVR) menangkap rentetan alarm peringatan yang berbunyi cepat serta reaksi darurat dari para pilot. Meski rekaman audio penuh tidak dirilis ke publik demi menghormati privasi, transkrip yang dibacakan menunjukkan perjuangan keras kru melawan kemiringan (roll) pesawat yang ekstrem.
Penyelidikan mendalam terhadap puing-puing pesawat menemukan adanya keretakan pada bantalan kritis di dalam sistem kompartemen dudukan mesin (engine mount assembly). Retakan fatal ini luput dari pemeriksaan perawatan rutin yang dilakukan oleh pihak maskapai. Kegagalan mendeteksi kelelahan logam ini diduga kuat menjadi penyebab utama terpisahnya mesin dari badan sayap saat pesawat mendapatkan tekanan tinggi sewaktu lepas landas.
Fakta mengejutkan lain yang terungkap dalam sidang adalah adanya riwayat cacat struktural yang serupa pada tipe pesawat ini selama 15 tahun terakhir. NTSB mengidentifikasi setidaknya ada sepuluh kasus terdahulu yang melibatkan masalah keretakan pada komponen serupa di pesawat MD-11 lain. Sayangnya, dari sekian banyak temuan tersebut, hanya sebagian kecil yang dilaporkan secara resmi kepada otoritas penerbangan federal (FAA).
Produsen pesawat, Boeing, sebenarnya telah memberikan saran kepada para operator untuk mengganti bantalan bola (spherical bearings) yang bermasalah tersebut. Kendati demikian, imbauan itu tidak bersifat wajib, dan regulator penerbangan sipil tidak sampai mengeluarkan Petunjuk Kelaikan Udara (Airworthiness Directive) sebelum kecelakaan ini terjadi. Ditambah lagi, kesaksian di persidangan menunjukkan komponen dudukan mesin yang gagal ini belum pernah menjalani inspeksi mendetail sejak tahun 2021.
Dampak dari kecelakaan ini langsung memicu respons besar dari industri penerbangan kargo. UPS memutuskan untuk mempensiunkan seluruh armada MD-11 mereka yang rata-rata telah berusia hampir 35 tahun. Sementara itu, operator besar lainnya, FedEx, sempat menghentikan sementara operasional armada sejenis untuk melakukan inspeksi menyeluruh sebelum akhirnya diizinkan terbang kembali oleh FAA setelah prosedur perawatan direvisi.
Kecelakaan Louisville ini membangkitkan ingatan kolektif pada tragedi American Airlines Penerbangan 191 pada tahun 1979 yang melibatkan jatuhnya pesawat DC-10 akibat lepasnya mesin di sayap. Mengingat MD-11 memiliki garis desain yang sama dengan DC-10, kembalinya masalah struktural ini memicu kritik tajam mengenai pengawasan terhadap armada kargo yang menua. Investigasi penuh oleh NTSB masih terus berlanjut, dan laporan akhir mengenai penyebab pasti kecelakaan baru akan dirilis setidaknya satu tahun ke depan.




KOMENTAR ANDA