post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

DI tengah kemelut persaingan teknologi dan ekonomi global, kedaulatan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari luas wilayah atau kekuatan militer. Kedaulatan intelektual—kemampuan berpikir mandiri, menghasilkan ilmu, dan menciptakan solusi atas masalah bangsa—menjadi penentu.

Di garis depan pertempuran senyap ini berdiri para matematikawan Indonesia kontemporer. Mereka tidak bersuara keras, tapi kerja mereka menjadi fondasi bagi sains, teknologi, dan kebijakan nasional.

Prof. Dr. Edy Tri Baskoro, M.Sc. dari ITB adalah tokoh Teori Graf kelas dunia. Karya dan bimbingannya melahirkan puluhan doktor yang kini mengajar di Indonesia bahkan mancanegara. Perannya melampaui kampus: beliau pernah menjabat sebagai Presiden Southeast Asian Mathematical Society (SEAMS) dan Ketua Mathematical Association of Southeast Asia.

Di posisi itu, beliau memastikan Indonesia menjadi penentu agenda riset matematika di Asia Tenggara, bukan sekadar penonton.

Prof. Dr. Iwan Pranoto dari ITB membawa matematika ke ranah aplikasi nyata. Bidang keahliannya pada pemodelan matematika digunakan untuk industri, energi, dan analisis kebijakan publik. Beliau membuktikan bahwa teorema bisa menyelesaikan masalah nyata di lapangan. Prof. Dr. Kiki Ariyanti Sugeng dari UI dan Prof. Dr. Lilik Susilowati dari Unair adalah motor penggerak riset Kombinatorika di Indonesia. Bersama rekan-rekan, mereka mendirikan dan menggerakkan konferensi internasional INACOS yang menjadikan Indonesia sebagai pusat diskusi tingkat Asia.

Prof. Dr. Budi Nurani Ruchjana dari UNPAD mengembangkan pemodelan matematika untuk lingkungan, ekonomi regional, dan dinamika sosial. Risetnya membantu pemerintah daerah merancang kebijakan berbasis data.

Prof. Dr. Slamin, dari Universitas Jember membangun Pusat Unggulan Riset Graf dan Optimasi. Pusat ini kini menjadi rujukan peneliti Asia Tenggara dan melatih generasi muda matematika terapan.

Prof. Dr. Nuning Nuraini, M.Si. dari ITB menjadi wajah matematika terapan Indonesia saat pandemi. Model epidemiologi yang ia kembangkan digunakan untuk memproyeksikan penyebaran COVID-19 dan mendukung pengambilan keputusan nasional.

Prof. Dr. Hendra Gunawan dari ITB adalah ahli analisis fungsional dan analisis real. Selain produktif dalam riset internasional, beliau aktif menulis buku teks matematika berbahasa Indonesia seperti Pengantar Analisis Real dan Analisis Fungsional. Karya ini memotong ketergantungan pada teks asing dan memperkuat fondasi matematika murni di dalam negeri.

Prof. Dr. Tuwankotta, Ph.D. dari ITB, Prof. Dr. Yeni Susanti, dari UGM, dan Prof. Dr. Wono Setya Budhi, dari ITB memperkuat fondasi matematika murni Indonesia di bidang aljabar, analisis, dan sistem dinamik. Mereka adalah penjaga kemurnian logika yang menjadi dasar bagi semua aplikasi. Sebenarnya masih banyak para matematkawan Indonesias yang mustahil semua saya sebut di naskah sederhana dengan ruang terbatas ini.

Kriptografi yang mengamankan transaksi digital, algoritma AI, model iklim, hingga kebijakan fiskal—semuanya bersandar pada matematika. Negara yang lemah dalam matematika akan menjadi konsumen teknologi, bukan produsen.

Para matematikawan membangun “otak” bangsa di dalam negeri. Mereka membina doktor, menerbitkan jurnal internasional, dan menyelenggarakan konferensi di Indonesia. Itu adalah bentuk nyata kemandirian intelektual. Tanpa mereka, kita akan terus menyewa otak asing untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. 

Tantangannya nyata: pendanaan riset dasar masih terbatas, beban mengajar tinggi, dan apresiasi publik terhadap matematika murni masih rendah. Banyak dari mereka bekerja bukan karena insentif materi, tetapi karena panggilan untuk memajukan bangsa.

Di sinilah peran kita. Kebanggaan nasional harus diwujudkan dalam bentuk dukungan konkret: meningkatkan dana riset dasar, memberi ruang bagi dosen untuk meneliti, dan memperkenalkan tokoh-tokoh ini ke publik. Anak muda perlu tahu bahwa menjadi matematikawan adalah jalan terhormat untuk membangun negara.

Hari Matematika Nasional di Indonesia diperingati setiap tahun pada 15 Juli, bertujuan meningkatkan apresiasi terhadap peran matematika dalam kehidupan sehari-hari, teknologi, riset, pendidikan demi membangun Kedaulatan Matematika Nasional. Tidak semua orang paham makna kedaulatan. Tatkala Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, tidak semua pihak mendukung terutama Belanda dan sebagian warga Hindia-Belanda yang lebih merasa nyaman dijajah bangsa lain.

Para matematikawan Indonesia kontemporer membuktikan bahwa kecerdasan unggul tumbuh di persada Nusantara. Mereka bekerja dalam sunyi, tapi dampaknya akan menentukan apakah Indonesia 20 tahun mendatang merdeka secara intelektual atau tetap bergantung.

Kedaulatan sejati dimulai ketika sebuah bangsa mampu berpikir mandiri dengan logika, dengan bukti, dengan matematika. Dan hari ini, fondasi itu sedang dibangun oleh mereka. 


Filsafat Sastra Dan Sastra Filsafat

Sebelumnya

Setan Tidak Butuh Prada

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana