Rusia dikabarkan telah memulai uji coba darat (taxi trials) untuk varian dua kursi (twin-seat) dari jet tempur generasi kelima andalan mereka, Su-57 Felon. Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh saluran Telegram militer Rusia terkemuka, 'FighterBomber', yang dikenal memiliki hubungan erat dengan unit Pasukan Dirgantara Rusia (RuAF).
Informasi yang beredar pada pertengahan Mei 2026 ini menyebutkan bahwa pesawat tersebut menunjukkan konfigurasi kokpit baru yang mengingatkan pada desain jet tempur Su-30 Flanker.
Sehari setelah pengumuman tersebut, saluran yang sama merilis sebuah foto yang diklaim sebagai pesawat asli saat menjalani pengujian di landasan. Meskipun keaslian lokasi foto sulit diverifikasi karena latar belakangnya yang sengaja dikaburkan secara buram, kemunculan varian ini menjadi torehan sejarah baru.
Jika terbukti asli, Su-57 akan menjadi jet tempur siluman generasi kelima kedua di dunia yang memiliki varian dua kursi, mengikuti jejak jet tempur J-20S milik China yang pertama kali terlihat pada tahun 2021 lalu.
Spekulasi mengenai penamaan resmi untuk varian kursi ganda ini pun mulai bermunculan di kalangan pengamat militer. Pihak 'FighterBomber' menyebutkan bahwa dalam uji coba tersebut, pesawat baru ini sempat melakukan manuver putaran di landasan (rollover). Beberapa kode nama yang diperkirakan akan disematkan oleh militer Rusia untuk jet tempur modifikasi ini antara lain adalah Su-57D, Su-57UB, atau opsi lainnya yaitu Su-57ED.
Meskipun tanda identifikasi resmi pada badan pesawat tampak sengaja diedit atau dihapus, peneliti penerbangan militer Andreas Rupprecht membagikan informasi penting bahwa pesawat tersebut membawa nomor lambung (bort number) "055 Blue". Nomor lambung ini identik dengan prototipe terbang kelima, T-50-5, yang sempat mengalami kerusakan parah akibat kebakaran mesin pada tahun 2014 silam.
Hal ini memicu spekulasi kuat di kalangan ahli bahwa varian dua kursi ini dibangun dengan memanfaatkan atau memodifikasi kerangka pesawat (airframe) yang sudah ada sebelumnya.
Secara visual, tata letak kokpit baru ini sangat mirip dengan keluarga Su-30, namun perbedaan ketinggian antara kursi depan dan belakang pada Su-57 dirancang jauh lebih mencolok. Pilihan desain ini sengaja diambil demi memberikan jarak pandang yang jauh lebih baik bagi kru yang berada di kursi belakang.
Selain itu, terdapat logo baru pada bagian ekor yang menampilkan siluet perpaduan antara Su-57 dan drone siluman S-70 Okhotnik, yang mengindikasikan kemungkinan peran jet ini sebagai pusat komando pengendali pesawat tanpa awak.
Secara eksternal, hampir tidak ada perbedaan mencolok lainnya dibandingkan dengan Su-57 versi kursi tunggal yang standar. Kendati demikian, perubahan besar dipastikan terjadi pada sektor internal pesawat, di mana beberapa sistem elektronik harus digeser demi memberikan ruang bagi kru kedua, serta diperlukannya penguatan struktural yang masif.
Peran pasti dari kru kedua tersebut memang belum dirilis resmi, namun dokumen paten mengisyaratkan fokusnya adalah sebagai Perwira Sistem Senjata (Weapon Systems Officer) atau pengendali taktis jaringan, ketimbang sekadar instruktur pilot.
Proyek ini tampaknya selaras dengan dokumen paten yang didaftarkan oleh Layanan Federal untuk Kekayaan Intelektual Rusia (FSIP) sejak tahun 2023. Paten tersebut menjelaskan rancangan pesawat taktis siluman dua kursi multiperan yang berfungsi sebagai pos komando udara untuk operasi berbasis jaringan (network-centric operations) dari kelompok pesawat campuran.
Sistem pada pesawat tersebut dirancang khusus agar mampu melakukan fusi sensor dan bertukar data berkecepatan tinggi, termasuk melalui saluran satelit canggih yang kebal dari gangguan musuh.
Di sisi lain, lini produksi Su-57 standar di Pabrik Pesawat Komsomolsk-on-Amur (UAC) terus menunjukkan perkembangan positif dengan total kiriman yang kini terpantau mencapai 26 unit ke pihak militer. Batch produksi terbaru yang dikirim pada awal tahun 2026 ini bahkan telah dilengkapi dengan peningkatan teknologi mutakhir, mulai dari tampilan Head-Up Display (HUD) baru, sensor peringatan pendekatan rudal (MAWS), hingga sistem penangkal inframerah terarah (DIRCM).
Jet siluman ini juga terus dimatangkan melalui uji coba mesin baru Izdeliye 177 yang lebih bertenaga untuk produksi masa depan.




KOMENTAR ANDA