post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Di Indonesia, operette dianggap serius termasuk karya-karya Johann Strauss II semisal Donau Biru. Malah Richard Strauss nyaris tak dikenal.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
 
DI indonesia masa kini, masyarakat pencinta musik jenis yang disebut jazz dimanjakan dengan berbagai peristiwa yang menyebut diri sebagai festival jazz . Akhir-akhir ini muncul keberatan bahwa ternyata tidak semua pemusik yang tampil di festival jazz layak disebut sebagai pemusik jazz. 

Keberatan yang sebenarnya absah pada kehidupan kebudayaan yang demokratis. Di masa kini semesta masyarakat musik di marcapada terbelah menjadi dua antara yang setuju pemilahan musik dan yang tidak setuju taksonomi genre musik George Gershwin yang mewariskan mahakarya opera jazz Porgy and Bess dengan maha aria Summer Time. 

Menurut keimanan musik saya pribadi, George Gershwin merupakan tokoh jazz sejati terbukti di Jerman secara akademis dianggap sebagai pemusik klasik yang menggunakan suasana jazzy senasib mirip dengan  Scott Joplin memposisikan musik rag setara dengan intermezzi Johannes Brahms. Di Indonesia, operette dianggap serius termasuk karya-karya Johann Strauss II semisal Donau Biru. Malah Richard Strauss nyaris tak dikenal.

Leonard Bernstein yang mewariskan West Side Story lebih dikenang sebagai konduktor orkes simfoni ketimbang pemusik Jazz handal. Sementara Friederich Gulda dihujat para pemujanya akibat gemar flexing kesaktian nge-jazz pada pianoforte pada pergelaran resital legendaris dengan repertoar mahakarya Beethoven dan Mozart .

Glenn Gould menjadi menarik tiada dua di alam semesta musik sebab mampu menangkap sukma jazzy di dalam mahakarya Johann Sebastian Bach termasuk Variasi Goldberg maupun Die Kunst der Fuge.

Saya berada di garda terdepan unjuk rasa protes keras apabila ada yang keberatan Friederich Gulda dan Glenn Gould ikut tampil di panggung festival Jazz di Indonesia. Bagi yang masih ngotot bersikeras memilah jazz dengan bukan jazz, saya persilakan menikmati keindahan Jaqceus Loussier dkk mengolah mahakarya Bach di serial legendaris Play Bach yang kini bisa leluasa dinikmati siapa saja di youtube.

Jangan lupa bahwqa Keith Jarret dengan harpsichord juga pernah mempergelar Goldberg Variations. Pianis lintas genre kebanggaan Indonesia, Ade “Wonder” Irawan menerabas segenap perbatasan taksonomi musik dengan parafrasa legendaris terhadap “Waltzing Mathilda” yang sempat menggebrak panggung Sydney Opera House.

Harus diakui, taksonomi memang penting untuk serangga namun sebenarnya tidak terlalu senonoh dipaksakan untuk musik di abad XXI yang pada hakikatnya sudah lewat masa pengkotak-kotakan seni. Saya senantiasa teringat sabda Empu Pianis Indonesia, Iravati Sudiardo bahwa sebenarnya hanya ada dua jenis musik yaitu musik yang bagus dan musik yang buruk bahkan pada hakikatnya semua musik bagus kecuali apabila dinyanyikan atau dimainkan oleh manusia secara buruk. 

Mutu estetika musik nisbi mutlak terkait pada kemampuan dan kemauan tafsir pendengarnya. Secara subyektif bagi saya, mahasimfoni mahakarya Gustav Mahler tergolong terindah yang pernah digubah oleh manusia namun secara subyektif pula tergolong  musik paling membosankan bagi masyarakat adat di pedalaman Papua.

Pada saat sedang menderita prahara sakit gigi, juga sulit bagi saya menikmati keindahan mahasimfoni mahakarya Anton Bruckner yang saya anggap sangat indah pada saat saya tidak menderita sakit gigi. Semua itu merupakan bukti bahwa pada dasarnya, apa yang disebut sebagai estetika mustahil lepas dari selera yang memang subyektif maka nisbi.

 


Logika Parakonsisten

Sebelumnya

Radikalisme James Joice

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana