Boeing kini menghadapi tantangan besar setelah terungkap bahwa sekitar 30 unit pesawat 777X yang telah selesai dirakit harus menjalani pengerjaan ulang (rework) secara struktural yang ekstensif. Proses ini dilakukan agar armada yang sudah terlanjur diproduksi tersebut dapat memenuhi standar sertifikasi terbaru yang terus berkembang selama fase pengujian terbang.
CEO Boeing, Kelly Ortberg, menyatakan bahwa perusahaan akan menempuh proses "integrasi perubahan" (change incorporation) selama beberapa tahun. Proses ini diperlukan untuk menyelaraskan desain pesawat yang dibuat lebih awal dengan berbagai pembaruan sistem dan konfigurasi yang baru ditetapkan selama proses sertifikasi berlangsung.
Tantangan utama yang dihadapi adalah adanya perbedaan konfigurasi yang signifikan antara pesawat yang diproduksi bertahun-tahun lalu dengan standar produksi saat ini. Beberapa jet lama memerlukan modifikasi struktural dan integrasi sistem yang mendalam, sementara unit yang lebih baru mungkin hanya memerlukan pembaruan perangkat lunak atau perubahan komponen yang lebih ringan.
Kondisi ini merupakan dampak langsung dari strategi manufaktur Boeing yang terus memproduksi pesawat meskipun proses sertifikasi belum tuntas. Awalnya, langkah ini diambil untuk menjaga output pabrik dan rantai pasok, namun penundaan program 777X yang berkepanjangan membuat armada yang tersimpan tersebut menjadi ketinggalan zaman dari sisi regulasi.
Program 777X sendiri telah mengalami berbagai kendala sejak diluncurkan pada 2013, dengan biaya pengembangan yang kini membengkak lebih dari $15 miliar. Krisis 737 MAX yang terjadi beberapa tahun lalu juga memaksa regulator untuk menerapkan standar sertifikasi yang jauh lebih ketat terhadap pesawat-pesawat baru Boeing, termasuk 777X.
Saat ini, program 777X tengah berada dalam fase akhir pengujian sertifikasi FAA (Otoritas Penerbangan Federal AS), yakni fase 4A dari Type Inspection Authorization. Tahap ini mengevaluasi pesawat dalam kondisi operasional dunia nyata yang terintegrasi, yang seringkali memicu ditemukannya masalah teknis baru yang memerlukan perubahan desain tambahan.
Pengalaman selama pengujian terbang telah memaksa Boeing untuk terus melakukan perbaikan pada arsitektur sistem pesawat yang kompleks. Penggunaan kontrol fly-by-wire yang canggih, avionik baru, serta inovasi struktural seperti sayap lipat memerlukan validasi ekstensif, yang sering kali mengungkap kebutuhan akan penyesuaian perangkat lunak dan desain untuk memastikan konsistensi dan keamanan.
Boeing kini berusaha menstandarisasi seluruh armada yang tersimpan ke dalam satu konfigurasi produksi yang seragam sebelum pengiriman dilakukan. Upaya ini melibatkan tim khusus yang harus bekerja cermat untuk memastikan bahwa pesawat-pesawat tersebut memenuhi standar keandalan operasional yang dituntut oleh regulator pasca-insiden 737 MAX.
Bagi maskapai pelanggan, penundaan ini memaksa mereka untuk melakukan perombakan strategi armada jangka panjang. Banyak maskapai terpaksa mempertahankan pesawat yang lebih tua, seperti Boeing 747-400 atau Airbus A340 dan A380, jauh lebih lama dari yang direncanakan untuk menjaga kapasitas penerbangan mereka.
Maskapai besar seperti Emirates, Lufthansa, dan Singapore Airlines terpaksa berinvestasi besar-besaran dalam perbaikan armada yang ada karena keterlambatan pengiriman 777X. Dengan target masuk ke layanan komersial pada 2027, kepastian mengenai pemenuhan standar bagi 30 jet yang sedang dikerjakan ulang ini menjadi krusial bagi masa depan operasional maskapai-maskapai tersebut.




KOMENTAR ANDA