Dalam sebuah langkah yang mengejutkan industri dirgantara, Boeing secara resmi menyatakan mundur dari kompetisi pengadaan jet latih baru untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Perusahaan raksasa penerbangan tersebut memutuskan untuk tidak mengajukan penawaran dalam program Undergraduate Jet Training System (UJTS). Program ini dirancang khusus untuk mencari suksesor dari pesawat latih gaek T-45 Goshawk yang telah mengudara sejak tahun 1991.
Melalui pernyataan resminya yang dirilis pada 12 Juni 2026, Boeing mengungkapkan bahwa pesawat latih andalan mereka, T-7A Red Hawk, dinilai tidak mampu memenuhi seluruh kriteria ketat yang ditetapkan oleh pihak Angkatan Laut. Boeing menegaskan komitmennya untuk hanya mengejar program di mana mereka dapat memberikan solusi yang benar-benar selaras dengan kebutuhan spesifik pelanggan. Akibat ketidaksesuaian ini, pemberitahuan resmi mengenai pembatalan keikutsertaan telah dikirimkan kepada US Navy.
Meski pihak Boeing enggan merinci poin persyaratan apa saja yang gagal dipenuhi, laporan dari Aviation Week dan Breaking Defense memberikan sedikit titik terang. Menurut juru bicara perusahaan, masalah utama terletak pada mesin F404 yang tertanam pada T-7A. Mesin tersebut memerlukan siklus pengembangan jangka panjang agar bisa lolos kualifikasi mesin yang diminta dalam program UJTS. Proses modifikasi yang memakan waktu lama ini dinilai akan menghambat kemampuan Boeing untuk mencapai Kemampuan Operasional Awal (IOC) secara cepat.
Mundurnya Boeing menyoroti sebuah ironi tersendiri bagi pihak militer. Pasalnya, Angkatan Laut AS sebenarnya sudah sangat akrab dengan karakteristik mesin F404, mengingat mesin serupa juga menjadi jantung pacu bagi armada jet tempur garis depan mereka, F/A-18E/F Super Hornet. Kendati demikian, standar kualifikasi baru yang diterapkan pada jet latih ini tampaknya menjadi ganjalan besar yang tidak mudah diselesaikan oleh pabrikan dalam waktu singkat.
Dengan keputusan ini, Boeing menjadi korporasi besar kedua yang angkat kaki dari kompetisi UJTS. Sebelumnya pada Maret 2026, Lockheed Martin telah lebih dulu menyatakan mundur. Lockheed memutuskan untuk tidak melanjutkan penawaran jet latih TF-50N milik mereka. Alasan yang melatarbelakanginya pun serupa; selain karena masalah tingkat kandungan lokal AS yang disyaratkan, TF-50N rupanya juga mengadopsi mesin F404 yang sama dengan T-7A milik Boeing.
Gugurnya dua raksasa tersebut kini menyisakan persaingan ketat antara dua kandidat saja, yaitu Sierra Nevada Corporation (SNC) dan Beechcraft. SNC maju membawa jet latih Freedom hasil kolaborasi bersama Northrop Grumman dan General Atomics, yang diklaim sebagai desain baru (clean-sheet) yang ramah operasi kapal induk namun masih di atas meja gambar. Sementara itu, Beechcraft menawarkan M-346N, sebuah varian dari pesawat latih M-346 operasional besutan Leonardo yang telah mengantongi lebih dari 100.000 jam terbang sejak 2015.
Dokumen Request for Proposal (RFP) final untuk proyek UJTS ini sendiri telah diterbitkan oleh Angkatan Laut AS pada akhir Maret 2026 demi mempercepat pengadaan pesawat baru di tengah rentetan masalah teknis yang kerap menimpa T-45. Fase awal kontrak akan mencakup tahap Rekayasa, Manufaktur, dan Pengembangan (EMD), serta pengadaan batch pertama produksi tingkat rendah (LRIP). Pemenang kontrak bernilai fantastis ini rencananya akan diumumkan pada Maret 2027.
Berdasarkan jadwal estimasi yang terlampir, US Navy berniat memboyong sebanyak 216 unit pesawat baru secara bertahap. Pengiriman pertama sebanyak tujuh unit pesawat LRIP dijadwalkan tiba pada tahun 2032, sebelum akhirnya produksi digenjot hingga mencapai kecepatan penuh sebanyak 25 unit pesawat per tahun mulai 2035. Ratusan jet latih baru ini nantinya akan dibagi untuk memperkuat tiga pangkalan udara utama, yaitu NAS Meridian di Mississippi, NAS Kingsville di Texas, dan NAS Pensacola di Florida.
Menariknya, jet latih masa depan ini akan dioperasikan dengan doktrin yang jauh berbeda dari pendahulunya. US Navy menegaskan bahwa pesawat UJTS tidak lagi diwajibkan untuk mendarat langsung di kapal induk atau melakukan simulasi sentuh-dan-pergi (Field Carrier Landing Practice / FCLP) hingga roda menyentuh landasan. Para siswa pilot nantinya hanya akan melakukan fase pendekatan udara (apron) dan langsung melakukan manuver memutar (wave-off) begitu mencapai batas ketinggian minimum tanpa melakukan kontak fisik dengan runway.
Kebijakan baru yang memangkas porsi latihan fisik pendaratan ini sempat memicu kontroversi di kalangan pengamat militer karena dianggap menggeser beban latihan berat ke skuadron operasional (FRS) yang menggunakan jet tempur jauh lebih mahal. Walau demikian, langkah ini sengaja diambil guna memanfaatkan kecanggihan teknologi simulasi berbasis darat dan otomatisasi modern. Selain itu, hilangnya syarat struktur penahan beban ekstrem untuk pendaratan kapal induk membuat US Navy dapat mengadopsi pesawat yang sudah ada di pasaran tanpa perlu modifikasi struktural yang rumit dan memakan waktu.




KOMENTAR ANDA