post image
Abdullah Rasyid
KOMENTAR

Oleh: Abdullah Rasyid, Pecinta Bola dan Pendukung PSMS Garis Keras

MENYAKSIKAN perjalanan Tim Garuda dalam beberapa ajang internasional belakangan ini terasa menyesakkan. Harapan yang telanjur membesar kembali berujung kecewa. Tersingkirnya Indonesia dari Piala AFF 2026 mungkin menjadi pukulan yang paling terasa. Bukan karena AFF adalah turnamen terbesar yang pernah kita ikuti, tetapi karena di level Asia Tenggara pun kita kembali gagal memenuhi ekspektasi.

Indonesia datang dengan kepercayaan diri tinggi. Materi pemain lebih kompetitif, dukungan publik tidak pernah surut, fasilitas membaik, dan selama beberapa tahun terakhir kita terus mendengar bahwa sepak bola nasional sedang bertransformasi.

Kalau demikian, wajar bila publik bertanya: transformasi macam apa yang sebenarnya sedang berjalan?

Saya menulis ini sebagai pecinta sepak bola. Juga sebagai pendukung PSMS Medan garis keras. Orang yang lama mengikuti sepak bola tahu satu hal: kalah tidak selalu memalukan. Dalam sepak bola, tim hebat sekalipun bisa kalah. Yang sulit diterima justru ketika kegagalan datang berulang-ulang, sementara jawaban yang diberikan selalu sama.

Evaluasi.

Kata itu kembali muncul setelah Indonesia tersingkir. Pelatih dievaluasi. Pemain dievaluasi. Program tim nasional akan dibedah. Kita seperti sudah hafal urutannya.

Masalahnya, evaluasi semacam ini hampir selalu bergerak ke bawah.

Jarang sekali kita bertanya apakah orang yang berada di pucuk organisasi juga layak dievaluasi.

Erick Thohir sudah memimpin PSSI sejak Februari 2023. Sekarang ia juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga. Posisi itu memberinya pengaruh yang sangat besar terhadap sepak bola nasional.

Karena itu, hasil PSSI tidak mungkin dilepaskan dari kepemimpinannya.

Saya tidak termasuk orang yang menutup mata terhadap capaian Erick. Peringkat FIFA Indonesia meningkat. Tim U-23 pernah menembus semifinal Piala Asia U-23 2024. Hubungan dengan FIFA semakin dekat. Sejumlah stadion dibenahi. Tim nasional mendapat perhatian yang mungkin belum pernah sebesar sekarang.

Naturalisasi juga membuat Indonesia memiliki pemain dengan pengalaman dan kualitas kompetisi yang lebih baik.

Semua itu fakta yang patut dihargai.

Namun kepemimpinan tidak hanya dinilai ketika grafik sedang naik.

Target terbesar kita adalah Piala Dunia 2026. Indonesia gagal. Sekarang target itu dipindahkan menuju 2030. Di tengah perjalanan menuju sasaran baru tersebut, Timnas malah tersingkir dari fase grup Piala AFF.

Apakah kegagalan AFF sendirian cukup untuk menjatuhkan seorang ketua umum? Tentu tidak.

Tetapi AFF bukan berdiri sendiri.

Kita sedang berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih lama: sistem pembinaan yang belum kokoh, liga yang masih naik turun kualitasnya, kompetisi usia muda yang belum menjadi mesin produksi pemain, klub-klub yang belum semuanya sehat, kualitas wasit, integritas kompetisi, profesionalisme manajemen, sampai standar keselamatan pertandingan.

Jumlah penduduk Indonesia hampir 300 juta. Sepak bola dimainkan di mana-mana. Anak-anak bermain di lapangan desa, halaman sekolah, gang sempit, pantai, bahkan di tanah kosong.

Bakat tidak pernah menjadi masalah utama negeri ini.

Yang bermasalah adalah jalan yang harus ditempuh bakat itu agar menjadi pemain hebat.

Berapa banyak anak berbakat yang bisa masuk akademi berkualitas? Berapa banyak yang mendapat pelatih dengan standar baik sejak usia dini? Berapa banyak pertandingan kompetitif yang mereka jalani sebelum usia 18 tahun? Seberapa bagus nutrisi, sports science, pendidikan dan proses pencarian bakat kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan naturalisasi.


Dari Lengkong, Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sebelumnya

FWK: Presiden dan Masyarakat Perlu Gunakan Bahasa yang Santun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional