post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, melaporkan pengiriman sebanyak 67 pesawat komersial sepanjang bulan Juli. Angka ini tercatat masih berada di bawah rata-rata bulanan yang dibutuhkan perusahaan untuk bisa memenuhi target pengiriman ambisius mereka sebanyak 870 pesawat pada akhir tahun ini.

Meskipun jumlah pengiriman di bulan Juli sama persis dengan pencapaian pada periode Juli tahun sebelumnya, angka ini mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan bulan Juni yang berhasil mencatatkan 89 pengiriman. Secara kumulatif, Airbus telah menyerahkan total 418 unit pesawat kepada para pelanggannya sepanjang tahun ini.

Untuk mengejar sisa target tahunan, Airbus harus mampu menyerahkan setidaknya 452 pesawat dalam lima bulan tersisa. Hal tersebut menuntut produsen pesawat ini untuk meningkatkan tingkat pengiriman rata-rata hingga 90 unit pesawat per bulan hingga penutupan tahun.

Manajemen Airbus, melalui CEO Guillaume Faury, menegaskan optimisme mereka untuk tetap dapat mencapai target resmi 870 pesawat, bahkan mendorong target internal yang lebih tinggi hingga 900 pengiriman. Komitmen ini tetap dipertahankan meski perusahaan harus berhadapan dengan berbagai tantangan operasional dan kendala teknis.

Hambatan utama yang dialami Airbus saat ini berasal dari gangguan rantai pasokan global, khususnya keterlambatan pasokan mesin dari pabrikan Pratt & Whitney. Masalah ini menyebabkan terjadinya penumpukan atau bottleneck produksi, di mana sejumlah rangka pesawat yang selesai dirakit harus tertahan menunggu instalasi mesin sebelum dapat dikirimkan.

Selain masalah mesin, Airbus juga dihadapkan pada kendala rantai pasokan bahan baku dan komponen perangkat keras, serta masalah kualitas pada panel badan pesawat bagian depan (forward fuselage) dari pemasok tertentu. Faktor-faktor ini semakin memperketat ruang gerak manufaktur dalam meningkatkan laju produksi bulanan.

Dari total 67 pesawat yang dikirimkan pada bulan Juli kepada 39 pelanggan, mayoritas didominasi oleh segmen lorong tunggal (narrowbody). Rinciannya mencakup 37 unit A321neo, 18 unit A220-300, serta 6 unit A220-300. Sementara untuk lini widebody, Airbus menyerahkan 4 unit A350-900 dan 2 unit A350-1000, tanpa ada pengiriman untuk tipe A330neo pada bulan tersebut.

Di samping capaian pengiriman, aktivitas komersial Airbus pada bulan Juli juga diwarnai oleh gelaran Farnborough Airshow. Pada ajang pameran kedirgantaraan internasional tersebut, Airbus berhasil membukukan total 204 pesanan pesawat baru, meskipun angka pameran secara keseluruhan terbilang cukup tenang dibanding prediksi awal industri.

Salah satu pendorong utama pesanan pada ajang tersebut datang dari perusahaan penyewaan pesawat asal Irlandia, SMBC Aviation Capital, yang memesan 100 unit keluarga A320neo. Di samping itu, komitmen penting lainnya juga datang dari maskapai seperti Riyadh Air, Philippine Airlines, Flynas, Hainan Airlines, hingga China Eastern.

Secara keseluruhan, buku pesanan Airbus kini berada di angka 1.024 pesawat (atau 1.090 sebelum penyesuaian), setelah memperhitungkan pembatalan 15 unit A330neo oleh AirAsia X yang beralih memesan A220. Kini, kemampuan Airbus untuk mempercepat dan menstabilkan alur produksi di sisa tahun menjadi kunci utama apakah target tahunan dapat terealisasi.

 


Kabin Dipenuhi Asap, 199 Penumpang Delta Air Lines Tinggalkan Pesawat

Sebelumnya

Gegara Balita Berdiri Saat Take Off, Penerbangan Porter Airlines Pun Dibatalkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews