post image
KOMENTAR

Dua puluh dua tahun adalah puisi elegia panjang yang akhirnya menemukan rima penutupnya.

Oleh: Ak Supriyanto, Fan Arsenal

DI sini, di pagi yang belum sepenuhnya merekah, ketika kabut tipis masih bersetubuh dengan kaca jendela, sebuah getar dari ponsel membangunkan lebih dari sekadar mataku. Sebuah meme dari Thomas, kawan lama yang belasan tahun hanya menjadi nama dalam daftar kontak, tiba-tiba menjelma menjadi lonceng katedral di menara hatiku.

Di layar itu, sekumpulan sosok berseragam merah putih, dengan spanduk bertuliskan "Arsenal Champions", seolah menggemakan suara azan kemenangan yang telah lama sekali tidak berkumandang.

Ah, Thomas. Ia tahu. Ia tahu bahwa di pagi buta ini, di belahan bumi lain, Bournemouth dan Manchester City sedang menari dalam sebuah duel yang tak saya saksikan, namun denyut nadinya terasa sampai ke bilik-bilik jantung. Skor 1-1, katanya. Angka yang sederhana, namun cukup untuk menjadi podium bagi penobatan. Dua puluh dua tahun. Itu bukanlah sekadar angka.

Itu adalah siklus hidup seekor jangkrik yang bernyanyi sendirian di rerumputan musim kemarau berkali-kali. Itu adalah rentang waktu di mana seorang pemuda gagah yang berteriak histeris di depan televisi tabung di tahun 2004, kini mendapati ubannya telah menaklukkan separuh kepala. Dua puluh dua tahun adalah puisi elegia panjang yang akhirnya menemukan rima penutupnya.

Kami, para pencinta Arsenal sejati, adalah para biarawan dari ordo kesunyian. Kami bergeming, bukan karena tak ada altar lain yang lebih megah, bukan karena tak ada surga instan yang dijanjikan para sugar daddy dengan keping emas mereka. Kami bergeming karena cinta bukanlah perihal memilih singgasana tertinggi. Cinta adalah tinggal dan menggali parit pertahanan saat badai paling kencang merobohkan bendera kita. Kami bukan seperti mereka, para glory seeker yang mengekor angin, yang mellow dan meratapi nasib ketika dewi fortuna menjungkirbalikkan mahkota mereka.

Tidak. Kami mengkritik, kami marah, kami mempertanyakan, karena cinta sejati selalu begitu; ia tidak membungkam mulut saat melihat kekeliruan, ia justru berteriak paling lantang. Cinta kami adalah api yang menyala justru saat kayu bakarnya basah oleh hujan kekalahan.

Sejarah kami panjang, tertoreh di pabrik-pabrik Woolwich, di nadi kaum buruh London yang letih namun tak pernah padam. "Victoria Concordia Crescit," begitu mantra kami. Kemenangan tumbuh dari harmoni. Sebuah frasa yang tidak sekadar menjadi slogan di lencana, tetapi sebuah filsafat semesta.

Arsene Wenger, sang profesor, sang arsitek mimpi, pernah mengajarkan kami bahwa sepak bola adalah orkestra. Ia adalah simfoni operan-operan pendek yang merambat seperti aliran sungai, bukan hantaman brutal bongkahan batu. Di era itu, keindahan adalah harga mati, meski kemenangan seringkali hanya menjadi kekasih yang mampir di piala-piala kelas dua. Liga Inggris berubah menjadi rimba belantara ketika uang-uang dari timur dan oligarki merasuki Chelsea dan City, mengubah pemain menjadi gladiator sewaan.

Arsenal, dengan idealismenya, menjadi Don Quixote yang melawan kincir angin kapitalisme. Indah, namun sering pula tumbang.

Lalu datang Mikel Arteta. Ia bukan sekadar penerus taktik, ia adalah seorang alkemis yang memahami bahwa untuk bertahan di dunia yang kejam, simfoni butuh sedikit dentuman perkusi yang lebih pragmatis. Ia meramu harmoni dengan determinasi, meracik keindahan dengan kegigihan yang sinis. Dan pagi ini, ramuannya itu meledak. Ledakan yang tak membuatku melompat histeris seperti 22 tahun lalu. Tidak.

Di usia yang mulai senja ini, di antara uban yang adalah mahkota para pejuang waktu, gelora itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih diam, namun lebih menghujam. Ia adalah hembusan nafas kelegaan, dari rasa haru yang begitu penuh sehingga tumpahnya pelan-pelan. Ia adalah kehangatan yang merayap di dada, bukan api yang membakar ubun-ubun.

Mungkin aku akan merayakannya dengan mengajak anak istri ke kafe. Bukan pesta pora dengan suara hingar-bingar yang memekakkan, tapi secangkir kopi pahit yang menemani refleksi. Aku akan menatap mereka, dan dalam hati, kemenangan ini menjadi perumpamaan. Jika sebuah klub yang dicintai, dengan segala luka dan penantiannya, bisa mencapai puncak dengan cara yang dewasa, bukankah aku pun bisa?

Perjuangan tim ini, kesabaran selama lebih dari dua dekade ini, adalah metafora yang paling nyastra dari Tuhan untuk hidup. Lapangan hijau itu adalah kanvas, dan sebelas pemain itu adalah kuas yang melukiskan bahwa ketekunan bukanlah sekadar bertahan, tetapi merayakan proses menuju harmoni.

Maka, di pagi yang mulai terang ini, saat meme dari Thomas masih bercahaya di layar, aku membisikkan tekad pada diri sendiri. Tahun ini, aku pun harus menjadi juara. Bukan di lapangan rumput, tetapi di gelanggang kehidupanku sendiri. Sebab victoria concordia crescit; kemenangan sejati tumbuh dari harmoni antara apa yang kita impikan, dan apa yang dengan sabar kita perjuangkan.

Terima kasih, Arsenal. Atas 22 tahun penantian yang begitu menyayat hati, untuk sebuah pagi yang mengharu biru dan penuh refleksi. Atas semua pelajaran tentang cinta yang tak bersyarat, yang kini mekar menjadi bunga kemenangan di ambang siang.


Bunda Ratu Agung Surati Menteri LH Jumhur Hidayat: Usulkan Formula Kemitraan Pengelolaan SDA

Sebelumnya

Catat Sejarah, Pembayaran Dam Jamaah Haji Lebih Tertib dan Transparan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional