Ia menjadi bendera. Hymne perlawanan. Nyanyian bawah tanah yang menggema di sel-sel penjara, menginspirasi Nelson Mandela dalam masa tahanannya.
Mandela kelak akan memanggilnya: "Mozart kita."
Dan pada 1994, ketika bendera baru Afrika Selatan berkibar, Ibrahim duduk di depan piano. Bermain untuk pelantikan presiden kulit hitam pertama negeri itu.
Dari pengasingan di New York, ia pulang. Bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai anak yang dirindukan.
Saya mengenal Abdullah Ibrahim bukan dari panggung megah.
Tapi dari siaran radio Geronimo di Jogja, tahun 90-an. Suara jazz mengalir dari speaker tua pada malam yang suntuk di kos-kosan.
Dr. Heru Nugroho—sosiolog UGM yang jadi penyiar tamu—baru pulang dari Bielefeld. Ia fasih mengulas satu per satu komposisi Ibrahim yang menggetarkan. Lalu satu nomor diputar.
Ada denting Afrika yang khas. Irama yang mengayun seperti langkah para peziarah. Ada bisikan yang tak bisa dilupakan.
Saya pun memburu kasetnya. Di era digital, saya terus menikmati repertoarnya: Water from an Ancient Well, African Suite, Ancient Africa.
Setiap kali, musiknya mengajak saya berimajinasi. Berjalan di savana. Duduk di tepi samudra. Menengadah ke langit yang sama—entah di Cape Town, New York, Munich atau Jogja.
Musik Ibrahim adalah keheningan yang berbicara.
Bukan virtuositas yang memukau, melainkan intensitas meditatif yang meresap.
Tangan kiri menganyam pola-pola berulang, seperti doa yang diputar. Tangan kanan membentang melodi dalam gelombang lembut.
Ia adalah "pesulap repetisi" —dengan sarana minimal mencapai efek maksimal. Mendengarkannya seperti menyaksikan seorang sufi menari. Perlahan. Dalam. Membebaskan.
Ia mencatat lebih dari 70 album. Meraih Order of Ikhamanga, NEA Jazz Masters Fellowship, dan sederet penghargaan lainnya.
Namun penghargaan terbesarnya mungkin adalah cinta yang tak pernah pudar dari bangsanya.
"Abdullah meninggal dengan damai, dengan Afrika Selatan dan rakyatnya di dalam hatinya. Cintanya pada negaranya tak pernah goyah, di mana pun ia berada di dunia," ujar Dr. Marina Umari, pasangan hidupnya.
Kini ia dimakamkan di Bavaria, Jerman—tempat Ibrahim menghabiskan tahun-tahun terakhirnya.
Namun musiknya tak akan pernah dikubur.
Ia akan terus mengalir. Dari Cape Town ke New York. Dari Jerman ke Yogyakarta.
Di setiap tuts yang ditekan dengan penuh kesadaran. Di setiap jeda yang berisi makna. Di setiap ayat yang dilantunkan dalam melodi.
Abdullah Ibrahim akan terus hidup dalam kenangan.
Selamat jalan, Mozart kita.
Mannenberg tetap bergema.
Dan di keheningan malam, kami masih mendengarmu.




KOMENTAR ANDA