post image
Suporter kesebelasan Republik Islam Iran
KOMENTAR

Mereka mengira tekanan militer akan membuat rakyat Iran berterima kasih lalu menggulingkan pemerintahnya sendiri. Yang sering terjadi justru sebaliknya: kelompok keras mendapat panggung, aparat keamanan memperoleh pembenaran, dan oposisi sipil lebih mudah dicap sebagai “antek asing”.

Mau memisahkan rakyat dari rezim dengan bom itu seperti mencoba menghentikan keributan suporter dengan melempar petasan ke tribun. Bukannya bubar, mereka justru bersatu mencari siapa yang melempar.

Iran bukan bangsa kemarin sore. Ini peradaban tua. Mereka pernah menjadi Persia, pernah menjadi kekaisaran besar, pernah menjadi pusat ilmu, sastra, filsafat, teologi, dan geopolitik. Mereka punya memori panjang tentang intervensi asing, kudeta, sanksi, perang, dan penghinaan.

Maka jangan heran bila banyak orang Iran bisa sangat keras mengkritik pemerintahnya sendiri, tetapi pada saat yang sama sangat keras pula menolak negaranya diinjak kekuatan asing.

Siapa yang memimpin Iran, apakah memakai sorban atau dasi, apakah republik Islam atau sistem lain, pada akhirnya adalah urusan rakyat Iran. Urusan mereka yang setiap pagi hidup dengan harga roti, nilai rial, macet di Jalan Valiasr, sensor internet, wajib militer, dan masa depan anak-anak mereka.

Bukan urusan Gedung Putih. Bukan pula urusan Tel Aviv.

Dua Bendera, Satu Luka, Satu Bangsa

Dari stadion Los Angeles, kita belajar bahwa identitas bangsa sering kali lebih tua daripada rezim politik. Rezim bisa berganti. Konstitusi bisa diamandemen. Presiden bisa datang dan pergi. Raja bisa tumbang. Ayatollah pun suatu hari akan berganti generasi.

Tetapi bangsa bertahan lebih panjang.

Bendera Singa-Matahari dan bendera Republik Islam mungkin menyimpan dua ingatan politik yang berseberangan. Namun, ketika Tim Melli menyerang, keduanya bersorak pada arah yang sama. Ketika Iran hampir kebobolan, keduanya menahan napas yang sama. Ketika Iran mencetak gol, keduanya meledak dalam kegembiraan yang sama.

Itu bukan berarti konflik internal Iran selesai. Tidak. Luka sejarah tetap ada. Perbedaan politik tetap hidup. Tuntutan kebebasan tetap sah. Kritik kepada kekuasaan tetap perlu.

Tetapi stadion memberi pesan sederhana: orang Iran boleh berbeda tentang masa depan negaranya, tetapi mereka tidak mudah menerima bila masa depan itu ditentukan oleh bom asing.

Kalau dunia ingin Iran berubah, jangan perlakukan rakyatnya sebagai kerumunan yang harus diselamatkan dengan ledakan. Perlakukan mereka sebagai bangsa yang punya martabat, sejarah, dan hak menentukan jalannya sendiri.

Beri mereka ruang bernafas. Buka ruang diplomasi. Kurangi sanksi yang menghukum rakyat kecil. Dorong pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Biarkan masyarakat sipil tumbuh dari dalam, bukan dicangkok dengan rudal dari luar.

Karena dari stadion kita tahu: bangsa yang sedang bernyanyi bersama tidak mudah dipaksa tunduk.

Malam itu, di Los Angeles, Singa-Matahari dan lafaz Allah tidak sedang berdebat tentang siapa yang paling sah mewakili Iran. Mereka sedang bersorak untuk satu hal yang lebih tua dari semua simbol politik: tanah air.

Dan itu pelajaran yang tidak selalu diajarkan di Pentagon.


Titik Balik yang Berharga, Apakah Jadi Sekadar Kertas di Atas Meja?

Sebelumnya

Trump Kecam Netanyahu: Tanpa AS Tidak Ada Israel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia