Penerbangan maskapai Delta Air Lines dengan nomor penerbangan DL2311 mengalami insiden menegangkan setelah sistem tekanan kabin dilaporkan gagal berfungsi pada hari Minggu. Pesawat jenis Boeing 737-900ER yang lepas landas dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX) menuju Salt Lake City (SLC) tersebut terpaksa melakukan penurunan ketinggian secara drastis (rapid descent) dan mendarat darurat di Las Vegas.
Peristiwa hilangnya tekanan kabin (depressurization) terjadi mendadak saat armada tersebut berada di sekitar Bandara Internasional Harry Reid (LAS), Las Vegas. Menghadapi situasi genting tersebut, pilot segera mengambil keputusan mengalihkan rute pendaratan ke bandara terdekat, didukung penanganan prioritas oleh pengatur lalu lintas udara.
Di dalam kabin, kepanikan pecah saat masker oksigen darurat otomatis jatuh dari kompartemen atas kursi. Para penumpang harus segera mengenakan masker tersebut sementara badan pesawat menukik tajam menuju ketinggian yang aman untuk bernapas.
Seorang penumpang yang membagikan kisahnya di platform Reddit menggambarkan peristiwa tersebut sebagai pengalaman yang sangat traumatis. Ia menceritakan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk telinganya begitu sistem pengaturan tekanan kabin gagal bekerja sebelum pesawat mulai menukik.
Penumpang tersebut juga menambahkan bahwa bagian paling menakutkan adalah ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam pesawat. Kondisi semakin membingungkan karena pengumuman dari awak kabin hampir tidak terdengar jelas akibat masker oksigen yang menutupi wajah para pramugari.
Meski demikian, pesawat berhasil menyentuh landasan pacu di Bandara Harry Reid dengan selamat tanpa laporan cedera parah. Walaupun sumber pasti gangguan teknis belum diumumkan secara terbuka, pesawat tersebut langsung diperbaiki dalam hitungan jam dan mampu melanjutkan penerbangan ke Salt Lake City pada malam yang sama, tiba sekitar pukul 00.24 dini hari.
Kasus hilangnya tekanan udara yang dapat ditangani dalam waktu singkat seperti ini umumnya dipicu oleh gangguan perangkat lunak atau malafungsi katup ringan. Namun, langkah penurunan ketinggian secara cepat tetap menjadi protokol keselamatan wajib guna mencegah risiko hipoksia bagi seluruh penumpang dan kru.
Kejadian ini menjadi insiden penurunan tekanan kabin kedua yang dialami oleh Delta Air Lines sepanjang tahun ini. Sebelumnya pada 5 Januari lalu, penerbangan Delta nomor 760 yang menggunakan armada Airbus A319 juga terpaksa turun drastis dari ketinggian 36.000 kaki ke bawah 10.000 kaki akibat kebocoran tekanan udara yang terjadi secara perlahan.
Terdapat perbedaan mencolok antara kedua insiden tersebut, di mana penerbangan A319 sebelumnya sempat mengaktifkan sistem cadangan untuk memulihkan tekanan udara sebelum dialihkan ke New York JFK, sehingga masker oksigen tidak diturunkan. Sebaliknya, pada penerbangan DL2311 hari Minggu lalu, kru harus bertindak instan melepas masker darurat dan mendarat secepat mungkin tanpa menunggu risiko lanjutan.
Kedua armada tersebut memiliki profil operasional yang sangat kontras. Pesawat Boeing 737-900ER bernomor registrasi N934DZ yang terlibat dalam insiden terbaru ini berusia hampir 15 tahun dan diakuisisi dari maskapai Lion Air asal Indonesia pada 2023, sementara armada Airbus A319 yang mengalami insiden Januari lalu berusia lebih dari 25 tahun dan merupakan bekas armada Northwest Airlines.



KOMENTAR ANDA