post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

BANYAK definisi tentang FILSAFAT NUSANTARA. Satu di antaranya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Termasuk Filsafat Daerah Paling Barat Indonesia, yaitu Naggro’e Aceh Darussalam. 

Adat Bak Poteu Meureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala

Di Aceh, filsafat tidak ditulis di buku tebal. Ia hidup di `meunasah`, di `laut`, di `perang`, dan di `zikir`. Filsafat Aceh bisa disaripati dalam 3 kata: `Syariat, Adat, dan Heroisme`.

1. Syariat: Hidup Adalah Ibadah

Aceh disebut `Serambi Mekkah`. Tapi maknanya bukan sekadar religius.
Bagi orang Aceh, `hukum Tuhan` dan `hukum manusia` tidak boleh pisah.
Kalimatnya: `“Hukom ngon Adat lagee zat ngon sifat”`
Hukum dan Adat seperti zat dan sifat. Tidak bisa dipisahkan.

Kerja, dagang, mendidik anak, agama, semua adalah `ibadah`. Dunia bukan tempat singgah. Dunia adalah ladang amal.

Maka filsafat Aceh menolak pemisahan `sekuler vs spiritual`. Semua satu.

2. Adat: Martabat dan Tata Krama

Adat bak Poteu Meureuhom` - Adat itu milik Raja.
Raja di sini bukan orangnya. Raja adalah `tatanan`. Tatanan menjaga martabat bersama.
Filsafat Aceh menjunjung tinggi `malu` dan `harga diri`. `Peuë haba?` - apa kabar? Pertanyaan ini bukan basa-basi. Ia mengecek: `apakah kamu masih berdiri dengan terhormat?`
Konflik diselesaikan lewat `musyawarah di meunasah`, bukan di pengadilan. Karena tujuan adat bukan menghukum, tapi `mengembalikan keseimbangan`.

3. Heroisme: Hidup Mulia atau Mati Syahid

Laut dan perang membentuk jiwa Aceh. Dari `Cut Nyak Dhien` sampai `Teuku Umar`. Filsafatnya sederhana: `Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut`. Ini bukan romantisme kekerasan. Ini soal `kedaulatan`. Kedaulatan atas tanah, atas iman, atas cara hidup. Maka orang Aceh punya istilah `Sabil`. Berjuang di jalan yang benar adalah jalan hidup.

Bahkan dalam damai pun semangat `Sabil` ada: `sabilil ilmi` - berjuang menuntut ilmu, `sabilil rizki` - berjuang mencari nafkah halal.

Filsafat Aceh adalah jembatan.
Jembatan antara `Timur Tengah dan Nusantara`.
Jembatan antara `Ketegasan Hukum dan Kelembutan Adat`.
Jembatan antara `Keimanan dan Keberanian`.
Ia mengajarkan: `Kuat tanpa kasar. Taat tanpa taklid. Bebas tanpa liar.`

Kearifan filsafat Aceh tersurat dan tersurat di dalam kalimat `“Beuek that duek, beuek that meu'ah.”`  Duduklah dengan benar, berdirilah dengan terhormat.

 


Lima Angka Ajaib

Sebelumnya

Pengantar Singkat Konsep Moksha

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana