post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SETIAP tahun, 3 bahasa daerah di Indonesia mati maka berhenti dituturkan. Tidak ada berita. Tidak ada bendera setengah tiang. Hanya ada seorang kakek yang besok pagi bangun, lalu tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara. 

Indonesia punya 718 bahasa daerah. Paling banyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Tapi Kemenbud mencatat: 11 bahasa sudah punah. 143 bahasa "sangat terancam".

Artinya penuturnya tinggal kakek-nenek dan tidak diteruskan ke anak-cucu. Contohnya: Bahasa Tandia di Papua. Penutur terakhir meninggal 2019. Bahasa Mlap di Papua Barat. Bahasa Kajeli di Maluku. Mereka mati bukan karena perang. Mati karena dianggap "tidak penting". Bahkan “tidak bergengsi”!

Siapa Pembunuhnya?

Pembunuhnya wajahnya ramah. Namanya: "Biar anak cepat sukses".
1. Di Rumah: "Nak, ngomong Indonesia aja. Biar pinter". Orang tua takut anaknya dibully kalau logat daerah.
2. Di Sekolah: Pelajaran bahasa daerah cuma 2 jam seminggu. Sisanya Bahasa Indonesia + Inggris. Anak menganggap bahasa ibu = pelajaran, bukan napas.
3. Di HP: YouTube, IG, TikTok. Kontennya semua pakai bahasa gaul Jakarta. Lama-lama anak malu pakai bahasa Banyumasan, Bugis, atau Minang.

Akibatnya: Anak bisa nyebut "aesthetic" tapi tidak bisa nyebut "lesung" dalam bahasa ibunya.

Apa yang Akan Hilang Bersama Bahasanya?

Kalau Bahasa Tengger di Bromo mati, hilanglah doa khusus saat upacara Yadnya Kasada. Kalau Bahasa Mentawai mati, hilanglah 200 nama jenis tanaman obat di hutan. Kalau Bahasa Gorontalo mati, hilanglah pantun "bunga" yang tidak bisa diterjemahkan ke bahasa lain.

Bahasa daerah itu flashdisk. Isinya: kearifan, hukum adat, cara bertani, cara berantem yang sopan, cara mencintai. Saat flashdisk itu hilang, hardisk bangsa kita ikut kehilangan.

Masih Bisa Diselamatkan?

Masih. Selama masih ada 1 nenek yang mau mengajari cucunya.
1. Gunakan di Rumah. Ajak anak ngobrol 1 jam sehari pakai bahasa daerah. Nggak apa-apa campur.
2. Bikin Konten. YouTuber pakai bahasa Sunda, TikToker pakai bahasa Makassar. Biar keren.
3. Hargai. Pemerintah daerah wajibkan rambu, lagu, dan pengumuman pakai 2 bahasa.
Bayangkan 50 tahun lagi. Cucu Anda bertanya: "Eyang, bahasa kita apa?". Dan Anda jawab: "Dulu... kita punya cara bilang 'pulang' yang lebih hangat dari kata 'pulang “

Tapi sayang, eyang lupa. Jangan sampai itu terjadi.

Bahasa daerah tidak mati karena tua. Ia mati karena kita malu demi menjaga gengsi. Padahal malulah kita. kalau nanti cucu kita hanya bisa bermimpi dan berdoa dengan bahasa orang lain. Selamatkan 1 kata hari ini. Sebelum kata itu mati maka terkubur tanpa batu nisan.


Asal Muasal Musik

Sebelumnya

Aneka Ragam Versi Ramayana

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana