Ketegangan di tingkat tertinggi pemerintahan Amerika Serikat mencuat setelah Presiden Donald Trump dilaporkan terlibat perselisihan sengit dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pertemuan di Camp David. Perselisihan tersebut dipicu oleh kekecewaan mendalam Presiden Trump atas krisis penipisan stok amunisi dan rudal AS yang kian parah akibat konfrontasi militer dengan Iran.
Menurut dua sumber yang mengetahui kejadian tersebut, insiden itu terjadi di sela-sela rapat kabinet di Camp David. Trump menyuarakan kemarahannya secara terbuka kepada Hegseth dan mempertanyakan mengapa ia tidak diberi tahu secara jujur mengenai parahnya kekurangan amunisi tersebut, mengingat sang presiden sebelumnya meyakini bahwa masalah pasokan senjata itu "sudah diselesaikan."
Dalam konfrontasi tersebut, Hegseth dilaporkan berusaha membela diri dengan mengalihkan tanggung jawab kepada wakilnya, Stephen Feinberg. Menhan AS itu mengklaim bahwa Feinberg bertanggung jawab atas kelalaian dalam memastikan presiden menerima pengarahan dan informasi yang komprehensif terkait kondisi cadangan amunisi strategis militer.
Seperti dikutip dari Washington Post, kelangkaan persediaan senjata ini berdampak langsung pada kalkulasi militer Gedung Putih di Timur Tengah. Penipisan signifikan pada stok rudal terpandu jarak jauh serta rudal pencegat pertahanan udara menjadi salah satu alasan utama Presiden Trump memutuskan untuk menunda serangan udara berskala besar ke Iran yang sebelumnya sempat direncanakan.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa beberapa jenis senjata paling krusial mengalami penurunan stok ke tingkat yang mengkhawatirkan. Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) dilaporkan hampir habis sepenuhnya, sementara penggunaan rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot telah mencapai sekitar 65 persen dan cadangan sistem THAAD menyusut secara drastis sejak operasi militer dimulai.
Ketegangan ini juga menyoroti keretakan hubungan internal pasca-keputusan perang. Sebelum invasi atau serangan dimulai, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine sebenarnya telah memperingatkan bahwa persediaan amunisi AS tidak mencukupi untuk mendukung konflik berkepanjangan. Namun, Hegseth dikabarkan menjadi salah satu pihak yang paling gencar meyakinkan Trump bahwa operasi militer terhadap Iran akan berlangsung singkat dan mudah dikendalikan.
Krisis persediaan senjata AS ini memberikan dampak berantai terhadap peta geopolitik global, terutama bagi Ukraina. Akibat terbatasnya stok pertahanan udara yang diprioritaskan untuk konflik Iran, Amerika Serikat terpaksa menahan pasokan rudal pencegat ke Kyiv, yang membuat wilayah Ukraina semakin rentan terhadap gelombang serangan udara Rusia.
Pihak Gedung Putih dan Pentagon merespons laporan tersebut dengan bantahan keras. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa narasi konfrontasi di Camp David adalah "100% berita bohong" (fake news) dan menyatakan bahwa Presiden Trump tetap memiliki kepercayaan penuh terhadap kepemimpinan Menhan Hegseth di Pentagon.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, juga membantah tuduhan bahwa Hegseth telah menyesatkan presiden atau menyalahkan pejabat lain. Di saat yang sama, Presiden Trump meluapkan kekesalannya melalui media sosial Truth Social dengan mengklaim bahwa AS memiliki persediaan amunisi yang "sangat melimpah" dan mengancam akan memburu para pembocor informasi (leakers) yang dianggap melakukan tindakan pengkhianatan.
Kendati pemerintah AS telah mengajukan usulan anggaran pertahanan rekor senilai $1,5 triliun untuk meningkatkan manufaktur persenjataan, para ahli memperingatkan bahwa proses pemulihan stok tidak dapat terjadi secara instan. Penambahan kapasitas pabrik dan jalur produksi rudal canggih membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun, meninggalkan militer AS dalam tantangan kapasitas yang ketat dalam jangka pendek.



KOMENTAR ANDA