Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
ERICH Fromm (1900-1980) adalah seorang psikolog, filsuf, dan sosialis Jerman-Amerika yang dikenal karena karyanya tentang psikoanalisis humanistik, teori sosial, filsafat, dan terutama seni kasih sayang. Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman, dalam keluarga Yahudi Ortodoks.
Dia tumbuh dalam lingkungan sangat religius dan tradisional. Fromm belajar psikologi dan sosiologi di Universitas Heidelberg dan kemudian melanjutkan studi di Universitas Munich, di mana dia mendapatkan gelar doktor dalam psikologi. Fromm mulai karirnya sebagai seorang psikoanalis di Berlin, di mana dia bergabung dengan Institut Psikoanalisis Berlin.
Akibat diteror gerakan Anti Yahudi oleh Nazi Jerman, Erich Fromm kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1934 dan menjadi warga negara Amerika Serikat pada tahun 1940. Fromm bekerja sebagai profesor di beberapa universitas, termasuk Universitas Columbia, Universitas Yale, dan Universitas New York. Dia juga menjadi direktur Institut Psikoanalisis William Alanson White di New York.
Fromm menulis banyak buku yang berpengaruh dalam bidang psikologi, sosiologi, dan filsafat. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah “Escape from Freedom” (1941) - sebuah analisis tentang kebebasan dan otoritarianisme; “Man for Himself” (1947) - sebuah buku tentang etika dan psikologi manusia; “The Art of Loving” (1956) - sebuah buku tentang kasih-sayang dan hubungan manusia; “The Sane Society” (1955) - sebuah analisis tentang masyarakat modern dan kebutuhan manusia; “To Have or to Be?” (1976) - sebuah buku tentang idealisme sifat manusia.
Fromm mengembangkan teori psikoanalisis humanistik, yang menekankan pentingnya kebebasan, kesadaran diri, dan hubungan manusia. Dia percaya bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar atas kasih-sayang, kebebasan, dan kreativitas, untuk mencapai kebahagiaan dan keseimbangan.
Fromm juga mengembangkan konsep “karakter sosial”, yang merujuk pada pola pikir dan perilaku yang dibentuk oleh masyarakat dan kebudayaan. Dia percaya bahwa karakter sosial dapat mempengaruhi perilaku individu dan masyarakat, dan bahwa perubahan sosial dapat dicapai melalui perubahan karakter sosial.
Fromm memiliki pengaruh besar dalam bidang psikologi, sosiologi, dan filsafat. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan telah mempengaruhi banyak tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., Nelson Mandela, dan Noam Chomsky. Fromm juga memiliki pengaruh dalam gerakan sosial dan politik, termasuk gerakan hak asasi manusia, gerakan anti-perang, dan gerakan lingkungan hidup.
Erich Fromm, mengembangkan konsep “seni kasih sayang” (the art of loving) bukan sebagai naluri asmara namun suatu kemampuan nurani untuk memberikan perhatian, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang lain. Seni kasih sayang Erich Fromm menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan untuk menerima diri sendiri dan orang lain secara autentik dan tulus. Kasih-sayang Fromm bukan asmara yang egosentrik namun bela-rasa yang alturistik.
Dalam Buddhisme, konsep “welas asih” (karuna) merujuk pada perasaan belas kasihan dan kasih sayang yang tidak terikat kepada semua makhluk. Welas asih adalah salah satu dari empat keadaan batin yang tidak terbatas (brahmavihara) dalam Buddhisme, yang juga mencakup metta (kasih sayang), mudita (kesenangan atas kebahagiaan orang lain), dan upekkha (kesabaran dan keseimbangan batin).
Ajaran kasih sayang Jesus Kristus dalam Nasrani menekankan pentingnya mencintai Tuhan dan mencintai sesama manusia seperti diri sendiri. Ajaran ini didasarkan pada konsep agape, yaitu kasih sayang yang tidak terikat dan tidak egois.
Kesejajaran antara seni kasih sayang Erich Fromm, welas asih Buddhisme, dan kearifan kasih sayang Jesus Kristus terletak pada penekanan mereka pada pentingnya mengembangkan kemampuan untuk mencintai dan menerima orang lain secara autentik, tanpa terikat pada kepentingan pribadi atau ego. Mereka semua menekankan pentingnya mengembangkan sanubari yang terbuka, penuh kasih sayang, kerendahan hati dan peka terhadap perasaan orang lain.



KOMENTAR ANDA