Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
ISTILAH “Londo Ireng” kerap kita dengar sebagai cemoohan. Bahkan hinaan, padahal di balik kata itu ada sejarah nyata perpindahan penduduk yang sudah berumur lebih dari 200 tahun. Mereka bukan dongeng. Mereka ada. Dan sampai hari ini, darah mereka masih mengalir di tanah Jawa. Bahkan bukan mustahil. menyebar ke segenap pelosok Nusantara.
Abad 19, Belanda membawa prajurit dan pekerja dari Afrika ke Hindia Belanda. Sebagian besar berasal dari Ghana, Pantai Gading, dan Senegal. Mereka direkrut untuk KNIL - tentara kolonial. Sebagian lagi dibawa sebagai pekerja untuk perkebunan dan proyek infrastruktur di Jawa dan Sumatra.
Mereka tiba di Batavia, Semarang, Surabaya. Jauh dari kampung halaman. Tanpa pilihan. Belanda menyebut mereka “Zwarte Hollanders” = Belanda Hitam. Rakyat Jawa lalu menyebutnya Londo Ireng.
Setelah kontrak kerja selesai, banyak yang tidak pulang. Kenapa? Karena Jawa sudah jadi rumah. Mereka menikah dengan perempuan Jawa, Sunda, dan Madura. Buka warung. Jadi tukang. Jadi guru ngaji. Jadi pemusik mulai dari klasik Barat sampai Karawitan.
Anak-cucu mereka lahir di kampung. Bahasanya bahasa Jawa. Makanannya tempe dan sambal. Agamanya Islam, Kristen, Katolik. Kulitnya tetap hitam, tapi kebudayaanya 100% Nusantara.
Komunitas Londo Ireng paling dikenal ada di Semarang, Kudus, dan Purworejo. Di sana masih ada marga, ada cerita keluarga, ada foto leluhur berseragam KNIL. Secara antropologis mereka sudah berasimilasi. Secara kultural mereka sudah jadi Jawa. Tapi secara sejarah, mereka adalah bukti bahwa Indonesia dari dulu adalah negara imigran. Kita bangsa yang terbuka untuk menerima siapapun yang datang termasuk penjajah.
Musik keroncong? Ada pengaruh Afrika di ritmenya. Wayang ? Menyerap kisah Ramayana dan Mahabharata. Bahkan menghubung dua mahasastra India dengan kisah Arjuna Sasrabahu, Sumantri, Sukrasana, Punakawan, Cakil dan para raksasa.
Fisik sebagian orang Semarang dan Pantura kulitnya gelap dan rambutnya keriting? Bisa jadi jejak itu berasal dari Afrika. Nama-nama seperti “Kromong”, “Sontoloyo” dalam cerita rakyat? Kerap ada kisah tentang prajurit berkulit hitam yang pemberani. Mereka tidak membentuk “negara dalam negara”. Mereka melebur. Menjadi guru, menjadi tetangga, menjadi keluarga kita.
Riwayat Londo Ireng mengingatkan 3 hal:
1. Indonesia kuat karena campuran. Dari dulu kita menerima, lalu mencerna, lalu menjadikan milik bersama.
2. Identitas itu cair. Bisa hitam kulitnya, tapi jiwanya Jawa. Bisa leluhurnya dari Afrika, tapi darahnya Indonesia.
3. Sejarah jangan dipotong. Jangan hanya ingat penjajah. Ingat juga manusia-manusia yang dipaksa datang oleh penjajah, lalu memilih tinggal dan membangun kemudian menutup mata dan dimakamkan di tanah Indonesia.
Hari ini keturunan Londo Ireng tidak minta diistimewakan. Mereka hanya ingin diterima sebagai bagian dari kita. Karena mereka sudah bayar "kurban" paling mahal: mengubah darah asing menjadi darah Indonesia.
Jadi lain kali dengar kata “Londo Ireng”, jangan buat bahan tertawa. Jangan buat sasaran ejekan. Ingat: itu nama sebuah perjalanan. Perjalanan dari paksaan menjadi keluarga. Selaras slogan RIGHT OR WRONG, OUR PEOPLE. Dan mereka, adalah “people” kita juga. MERDEKA!



KOMENTAR ANDA