post image
Pesawat sewaan jenis Cessna 441 Conquest mengalami kecelakaan tragis di wilayah terpencil Alaska, menewaskan seluruh delapan orang di dalamnya, 21 Agustus 2026.
KOMENTAR

Sebuah pesawat sewaan jenis Cessna 441 Conquest mengalami kecelakaan tragis di wilayah terpencil Alaska, menewaskan seluruh delapan orang di dalamnya. Pesawat tersebut jatuh di dekat Bandara Pos Radar Jarak Jauh Cape Newenham (Cape Newenham Long Range Radar Site), yang berjarak sekitar 725 kilometer (450 mil) di sebelah barat Anchorage, Alaska.

Berdasarkan laporan awal, pesawat bermesin ganda tersebut dioperasikan oleh maskapai sewaan Security Aviation dengan nomor penerbangan Flight 45 dan registrasi N128EZ. Pesawat dijadwalkan terbang langsung dari Anchorage menuju pangkalan radar militer Cape Newenham untuk menjalankan misi operasional tertentu.

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) mengonfirmasi bahwa terdapat delapan orang di dalam pesawat naas tersebut, yang terdiri dari dua orang pilot dan enam orang penumpang. Identitas seluruh korban tewas masih dalam proses identifikasi resmi sebelum dirilis ke publik.

Di antara penumpang yang menjadi korban, dua di antaranya adalah insinyur dari Korps Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army Corps of Engineers) yang bertugas di Pangkalan Bersama Elmendorf-Richardson di Anchorage. Sementara itu, empat penumpang lainnya diketahui merupakan kontraktor sipil yang bertugas dalam pemeliharaan fasilitas radar militer.

Letnan Jenderal Angkatan Udara AS Robert Davis, selaku Komandan Komando Alaska dan Angkatan Udara ke-11, menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi ini. Ia menegaskan bahwa prioritas utama militer saat ini adalah memberikan dukungan penuh bagi keluarga, rekan kerja, dan komunitas yang terdarah oleh kehilangan besar ini, serta mengapresiasi tim SAR gabungan yang bergerak cepat.

Pesawat tersebut lepas landas dari Anchorage pada Kamis pagi pukul 09.12 waktu setempat dan dijadwalkan mendarat beberapa jam kemudian. Namun, sekitar pukul 12.15 waktu setempat, pesawat dilaporkan jatuh setelah kru menghadapi kondisi cuaca yang sangat buruk dan jarak pandang yang terbatas di sekitar lokasi pendaratan.

Menurut informasi penerbangan, saat pesawat mendekati Cape Newenham, pilot menerima laporan bahwa cuaca di area pangkalan memburuk secara signifikan. Pesawat sempat melakukan pola penahanan (holding pattern) selama kurang lebih 20 menit di udara untuk menunggu kondisi cuaca membaik sebelum memutuskan untuk mendarat.

Pada putaran ketiga, pilot memulai prosedur penurunan bertumpu pada instrumen (instrument approach). Mengingat landasan pacu di Cape Newenham berupa kerikil yang terletak di lereng gunung dan memerlukan presisi tinggi, penurunan jarak pandang akibat kabut tebal memaksa kru penerbang membatalkan pendaratan pertama dan meminta manuver terbang putar (go-around).

Nahas, pada manuver pendekatan kedua di tengah kabut tebal dan jarak pandang yang anjlok drastis hingga kurang dari setengah kilometer, pesawat menabrak lereng gunung yang curam tepat di sebelah barat landasan. Puing-puing pesawat ditemukan dalam kondisi rusak parah di area medan berbukit yang terjal dan tertutup es.

Kini, tim investigasi dari NTSB dan Badan Penerbangan Federal AS (FAA) telah dikerahkan ke lokasi kecelakaan guna menyelidiki penyebab pasti insiden tersebut. Penyelidik akan memeriksa data penerbangan serta rekaman komunikasi untuk memastikan apakah pilot sempat melaporkan kondisi darurat sebelum benturan terjadi.


Boeing dan United Airlines Danai Acara Realitas Menteri Transportasi AS, Tuai Kontroversi Etika

Sebelumnya

Boeing Perbaiki Ratusan Retakan Mikrokospis pada Air Force One

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews