Raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat, Boeing, dilaporkan tengah melakukan perbaikan besar-besaran terhadap ratusan retakan mikroskopis pada komponen struktural dua pesawat Boeing 747-8. Kedua pesawat tersebut saat ini sedang dalam proses modifikasi berat untuk dijadikan armada pesawat kepresidenan Amerika Serikat berikutnya, yang secara resmi dikenal dengan kode militer VC-25B (Air Force One).
Perbaikan struktural ini berfokus pada komponen memanjang (longitudinal structures) penguat badan pesawat yang disebut stringers, membentang dari hidung hingga ekor pesawat. Berdasarkan mandat dan prosedur keselamatan dari Administrasi Penerbangan Federal AS (Federal Aviation Administration/FAA), komponen-komponen tersebut harus diganti atau diperbaiki setelah ditemukan retakan mikro akibat kelelahan material dan korosi yang juga terdeteksi pada armada komersial 747-8 lainnya.
Meskipun otoritas Angkatan Udara AS (US Air Force) menegaskan bahwa retakan tersebut bukan cacat unik dan saat ini tidak membahayakan keselamatan secara langsung, pekerjaan ini menjadi beban teknis tambahan yang cukup berat. Hal ini terjadi di tengah program pengembangan yang telah didera berbagai keterlambatan jadwal operasional dan pembengkakan biaya yang masif.
Skala perbaikan fisik pada kedua calon pesawat kepresidenan tersebut tergolong masif. Hingga akhir Juli lalu, sekitar 300 retakan stringer telah diidentifikasi pada masing-masing badan pesawat; di mana pesawat pertama menyisakan 21 perbaikan struktural, sedangkan pada pesawat kedua teknisi telah berhasil mengganti 104 dari total 300 titik kerusakan yang ditemukan.
Pihak Angkatan Udara AS menyatakan bahwa kemajuan perbaikan yang dicapai oleh teknisi Boeing saat ini tidak menimbulkan risiko signifikan baru terhadap jadwal pengiriman. Untuk melindungi tenggat waktu yang tersisa, Boeing telah menerapkan berbagai langkah percepatan teknis secara simultan selagi proses restorasi struktur badan pesawat terus berjalan.
Sorotan publik dan analis industri kian tajam karena masalah struktural ini terjadi di bawah skema kontrak harga tetap (fixed-price contract) senilai 3,9 miliar dolar AS yang disepakati pada tahun 2018. Melalui klausul kontrak tersebut, seluruh pembengkakan biaya dan kerugian finansial akibat perbaikan tak terduga wajib ditanggung sepenuhnya oleh pihak produsen, bukan oleh pembayar pajak pemerintah federal.
Secara kumulatif, total kerugian finansial yang harus diserap Boeing dalam program konversi VC-25B ini telah menembus angka fantastis sekitar 3,13 miliar dolar AS (lebih dari Rp50 triliun). Kerugian melonjak drastis sepanjang beberapa tahun terakhir, termasuk kerugian terbesar sebesar 1,4 miliar dolar AS pada tahun 2022 serta beban tambahan terbaru sebesar 280 juta dolar AS yang dicatatkan pada kuartal kedua tahun ini.
Beban biaya tambahan tersebut didorong oleh kebutuhan perekrutan insinyur baru, penambahan personel jaminan kualitas (quality assurance), serta biaya pengujian sertifikasi yang rumit. Mengubah badan pesawat komersial biasa menjadi "Gedung Putih Terbang" terbukti jauh lebih rumit daripada membangun pesawat khusus dari nol karena membutuhkan perombakan kabel militer yang sangat panjang, pelindung elektromagnetik, interior khusus, hingga sistem komunikasi berkeamanan tinggi.
Selain masalah pada penguat rangka stringers, tim teknis juga harus memastikan integritas seluruh komponen pesawat lainnya, termasuk pengujian tekanan kabin dan kaca jendela penumpang sebelum dapat melangkah ke fase uji terbang resmi. Masalah pada rantai pasok komponen khusus dan kebutuhan tenaga kerja dengan izin keamanan tinggi (security clearance) turut memperpanjang tantangan di lapangan.
Kedua armada jet kepresidenan modern ini awalnya ditargetkan untuk diserahterimakan kepada pemerintah AS pada Desember 2024. Namun, akibat rangkaian kendala teknis dan birokrasi sertifikasi, jadwal pengiriman pesawat pertama kini mundur ke pertengahan tahun 2028, sementara pesawat kedua diperkirakan menyusul pada tahun 2029 mendatang.



KOMENTAR ANDA