Pemerintah Indonesia berharap agar hubungan people-to-people antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara dapat lebih erat lagi di masa depan.
Kedua negara memiliki modal kuat, berupa sejarah persahabatan dan kerja sama yang panjang, yang dibangun di atas ikatan kuat yang telah dirintis oleh Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung.
Demikian disampaikan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto ketika berbicara sebagai Tamu Kehormatan dalam Hari Pendirian Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa malam, 8 September 2026.
“Selaku menteri yang membidangi urusan imigrasi, saya berharap kedua negara dapat menjajaki berbagai peluang untuk memfasilitasi interaksi antarwarga (people-to-people) yang lebih erat, guna memperkaya persahabatan kita yang hangat dan abadi,” tuturnya.
Resepsi Hari Pendirian RRD Korea berlangsung sederhana dan hikmat. Setelah menyanyikan lagu kebangsaan kedua negara, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Duta Besar RRD Korea Hong Kwang Il yang diikuti dengan sambutan Menteri Agus Andrianto.
Hari Pendirian RRDK juga disebut sebagai Gu-gu-jeol atau Hari 9-9 yang menandai proklamasi berdirinya RRDK pada 9 September 1948 di bawah kepemimpinan Kim Il Sung.
Dalam sambutannya, Duta Besar Hong menekankan program “pembangunan daerah 20x10” yang sedang digalakkan pemerintahan RRD Korea serta berbagai kebijakan yang berpihak pada generasi mendatang dan menjamin masa depan yang kuat bagi negara tersebut.
“Di tengah situasi internasional yang penuh ketidakpastian saat ini, kami terus memperkuat pertahanan mandiri yang tangguh demi melindungi kedaulatan, hak pembangunan, dan kepentingan keamanan nasional secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Korea Utara, yang berlandaskan prinsip kemandirian, perdamaian, dan persahabatan, terus memperluas serta mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan semua negara yang menghormati kedaulatan dan bersikap bersahabat, sembari secara aktif berkontribusi terhadap perdamaian, keamanan, dan pembangunan dunia.
“Republik Demokratik Rakyat Korea dan Republik Indonesia memiliki sejarah dan tradisi persahabatan yang panjang. Sejak menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1964—sekitar 60 tahun yang lalu—kedua negara kita telah saling menghormati dan bekerja sama, serta memperluas kemitraan di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, dan budaya,” tambahnya.
Sebagaimana di masa lalu, Korea Utara juga berkomitmen terus mempererat hubungan kerja sama yang bersahabat dengan Indonesia serta berupaya secara aktif demi kemajuan bersama dan peningkatan persahabatan antara rakyat kedua negara.
Dalam kegiatan itu, Menteri Agus Andrianto dan Dubes Hong duduk di head table didampingi Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela; Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-DPRK Teguh Santosa; Direktur Asia Timur Kemlu RI Arifianto Sofiyanto; serta Ketua Grup Kerja Sama Antar-Parlemen (GKSAP) Indonesia-Korea Utara di DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto.
Juga hadir dalam resepsi itu Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov, Duta Besar Belarus Raman Ramanouski, dan Duta Besar Laos Khamfeuang Phanthaxay.



KOMENTAR ANDA