Penerbangan maskapai American Airlines rute Dallas-Fort Worth menuju Newark mendadak mencekam setelah seorang pria bernama Layne Arthur Lundeen (67) membuat keonaran di udara pada Kamis, 3 September 2026.
Situasi yang kian tak terkendali memaksa awak kabin serta penumpang melumpuhkan pria asal Tucson, Arizona tersebut secara ekstrem menggunakan lakban perekat dan ikatan tali pengaman ke kursi pesawat.
Ketegangan bermula sekitar dua jam setelah pesawat American Airlines bernomor penerbangan AA 618 itu mengudara dari Dallas-Fort Worth. Lundeen, yang duduk di kelas utama, mulai bertindak agresif dengan berbicara keras, berteriak-teriak, serta melontarkan kata-kata bernada hinaan rasial dan ujaran kebencian kepada penumpang di sebelahnya serta pramugara yang bertugas.
Meskipun awak kabin telah berulang kali memberikan peringatan verbal agar tenang, Lundeen justru bertindak semakin liar. Sikap konfrontatifnya memuncak saat ia mulai mengayunkan pukulan dan mencoba mencekik leher penumpang pria yang duduk tepat di sampingnya, sehingga memicu kepanikan massal di deretan kursi kabin.
Melihat serangan fisik tersebut, seorang penumpang wanita di dekatnya sempat berupaya melerai, namun ia juga terkena pukulan dari Lundeen. Keributan itu langsung direspons cepat oleh dua penumpang lain, yakni Juan Mejia, seorang pensiunan perwira polisi, bersama rekannya, Richard O'Lenick, yang segera menyergap dan menahan tubuh pelaku agar tidak melukai orang lain lebih lanjut.
Pergumulan sengit sempat terjadi di lorong pesawat karena Lundeen terus meronta, melawan, bahkan mencoba menggigit orang-orang yang menahannya. Pramugari kemudian segera membawakan lakban tebal dan alat pengikat plastik (zip ties) darurat untuk membantu para penumpang melumpuhkan pria tersebut.
Guna mencegah pergerakan berbahaya dan gigitan dari pelaku, para penumpang dan kru membungkus rapat tubuh, tangan, hingga melilitkan lakban di sekeliling kepala Lundeen ke sandaran kursi. Tampak luka goresan serta ceceran darah di lengan pelaku akibat perlawanan fisiknya yang intens selama proses penahanan darurat itu berlangsung.
Foto serta video peristiwa dramatis ini sempat direkam langsung oleh Richard O'Lenick, yang memperlihatkan kondisi Lundeen terduduk pasrah dengan kepala dan tangan terlilit lakban perak tebal. Momen tersebut kemudian viral luas di media internasional setelah disebarkan melalui agensi media Storyful.
Melihat kondisi kabin yang sudah tidak kondusif, kapten pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat (divert) di Bandara Internasional Thurgood Marshall Baltimore/Washington (BWI). Pilot langsung mengontak otoritas bandara dan petugas keamanan darat agar segera bersiaga menyambut pesawat setibanya di landasan pacu.
Begitu pesawat mendarat di BWI, personel kepolisian Maryland Transportation Authority (MDTA) bersama agen federal langsung merangsek masuk ke dalam kabin. Otoritas keamanan langsung memborgol Lundeen, menurunkannya dari pesawat menggunakan kursi roda, dan membawanya ke kantor kepolisian untuk menjalani penahanan serta penyelidikan.
Pihak American Airlines menegaskan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan dan mengapresiasi kesigapan awak kabin serta penumpang yang menjaga keselamatan penerbangan. Sementara itu, Layne Arthur Lundeen kini resmi dijerat pasal penyerangan tingkat dua (second-degree assault) serta gangguan ketertiban umum (disorderly conduct), dan masih dalam penyelidikan FBI untuk potensi dakwaan federal tambahan.



KOMENTAR ANDA